Selasa, 27 Oktober 2015

Lelaki Pemuas Tante Girang

Cerita Sex Lelaki Pemuas Tante Girang | SeoJudiKartu


Agen Poker - Dewagalau


Kehidupan Tante girang disatu sisi membawa keuntungan bagi sebagian orang, banyak pria yang biasa disebut brondong bergantung hidup pada komunitas tante girang, Ada banyak faktor yang membuat brondong ataupun pria dewasa terjun sebagai penikmat tante girang, diantaranya karena materi, itu juga sebabnya banyak yang mencari tante girang kaya, dan anehnya tante girang banyakan sih kaya kaya.

Perkenalkan namaku Ridwan, usiaku 25 tahun, wajahku biasa-biasa saja, postur tubuhku juga standar, tinggi 168 cm dan berat 55 kg. Tapi entah kenapa sejak sekolah dulu banyak sekali wanita yang mengejar-ngejarku. Mungkin karena otakku yang cerdas dan kepandaianku bergaul atau karena aku memang memiliki daya tarik sendiri. Aku tinggal di suatu daerah strategis di jakarta selatan. Aku seorang wiraswastawan. Aku membuka sebuah toko handphone (HP) di wilayah perkantoran di Jakarta Selatan.

Kisah ini berawal kurang lebih 2 tahun yang lalu. Dengan kepandaianku berdagang, saat itu aku telah memiliki banyak pelanggan di tokoku. Kebanyakan dari mereka adalah para karyawan yang bekerja di wilayah perkantoran itu. Salah satunya sebut saja Mbak Ella, usianya sekitar 37tahun. Ia adalah seorang manager di suatu perusahaan. Wajahnya cukup menarik, dengan kulit putih mulus. Tubuhnya sangat seksi, padat, dan berisi. 

Maklum karena dia sering aerobik dan olahraga. Yang menjadi pusat perhatianku adalah payudaranya. Bentuknya tidak terlalu besar, tapi terlihat serasi dengan postur tubuhnya. Aku sering membayangkan jika suatu saat bisa meremas bahkan meminum susunya.

Setiap jam makan siang Mbak Ella selalu mampir ke tokoku. Terkadang membeli voucher, cashing HP, atau sekedar ngobrol denganku. Mungkin karena wawasanku yang luas, aku bisa mengimbangi pembicaraannya. Karena itulah ia senang menghabiskan jam istirahatnya di tokoku. Aku akui, aku sering grogi bila dekat dengannya. 

Gayanya sedikit centil dan genit. Tapi yang membuatku salah tingkah adalah bentuk postur tubuhnya. Kadang aku tak tahan untuk melahap tubuh yang seksi itu. Apalagi bentuk bibirnya ketika berbicara, uhh aku ingin segera mengulumnya. Mbak Ella adalah fantasi seksku ketika beronani.

Aku masih ingat betul, hari itu adalah hari minggu, kurang lebih jam 5 sore. Aku sedang istirahat di rumah ketika HPku berdering.

“Hallo Ridwan, selamat sore. Maaf mengganggu, kamu lagi sibuk gak?” ternyata Mbak Ella yang menelponku.

“Enggak kok Mbak. Saya sedang istirahat. Kalo boleh tahu, ada apa nih sore-sore telepon, mau ngajak makan apa nonton. He.. he..?” candaku.

“Ah kamu, kalo masalah itu sih gampang. Tapi ada yg lebih penting nih?”

“Ada apa Mbak?” aku jadi penasaran.

“Begini, tadi tiba-tiba saja HPku rusak, tidak ada suaranya.

Kamu bisa gak ke rumahku sekarang? Masalahnya besok pagi-pagi aku harus berangkat ke luar kota, kalo gak ada HP, wah bisa kacau dong. Kamu bisa kan?”

“Ok deh, demi Mbak saya selalu siap. Tapi dimana alamat rumah Mbak?”

Setelah mendapat alamat yg diberikan aku segera berangkat kesana.

Jam tujuh tepat, aku telah sampai di depan sebuah rumah mewah di suatu kawasan elit di jakarta selatan. Hujan turun rintik-rintik. Setelah diperbolehkan masuk oleh satpam, aku segera memasuki rumah itu. Mbak Ella menyambutku dengan senang hati. Aku benar-benar terpesona melihat bentuk tubuhnya. Saat itu ia mengenakan pakaian senam yg sangat seksi, buah dadanya terlihat begitu menonjol, seperti mau keluar dari tempatnya, dan bongkahan pantatnya benar-benar menggiurkan.

“Hallo keren, silahkan masuk. Kamu santai aja dulu disini, Mbak mau mandi dulu, panas bangat nih!”

Ketika ia berjalan, mataku tak terpejam melihat bentuk tubuhnya dari belakang. Indah sekali. Sampai kemudian pembantunya datang membawa segelas jus jeruk. Aku langsung meminumnya. Ah segar sekali.

Lima belas menit kemudian Mbak Ella keluar lagi dari kamarnya. Wow, benar-benar pemandangan yg luar biasa. Kali ini Mbak Ella hanya mengenakan daster yg sangat tipis. Dengan daster itu sampai-sampai aku bisa mengetahui kalau ia tidak memakai BH lagi dan mengenakan CD warna pink. Kemudian ia duduk di depanku dan menyerahkan HPnya.Aku langsung membukanya.

Saat aku menservis HPnya, sering kali badannya membungkuk melihat apa yg sedang kukerjakan. Ketika aku menoleh, ya ampun kedua bukit kembarnya terlihat begitu jelas, begitu menantang. Sepertinya ia sengaja memperlihatkan bukit kembarnya itu. Kemudian ia duduk disebelahku untuk melihat lebih jelas apa yg sedang kukerjakan. Ia masih juga suka membungkuk. Sampai suatu saat lenganku refleks menyenggol buah dadanya.

“Aduh, maaf Mbak, gak sengaja.”

“Oh, gak apa-apa kok. Aku yg sorry nih udah ngeganggu”. 

Ia pun sedikit menjauh jam 21.00, HP Mbak Ella telah selesai kuservis. Setelah basa-basi aku pamit pulang tapi ia melarangku karena hujan diluar deras sekali. Mbak Ella kemudian mengajakku makan malam. Kebetulan sekali, perutku memang sudah lapar. Sambil makan kami mengobrol kesana kemari, sampai Mbak ella menceritakan kehidupan pribadinya. Ternyata ia adalah seorang istri nahkoda kapal. Tapi entah kenapa sudah 5 tahun lebih suaminya tak memberi kabar apapun. Selesai makan kami kembali ke ruang tamu.

“Wan, Mbak merasa kesepian. Maukah kamu menolong Mbak?” Bagai disambar petir aku kaget sekali dengan kata-katanya itu, walaupun aku sudah faham maksudnya.
“Menolong gimana maksud Mbak?”

“Ya mengobati rasa sepi Mbak, kamu mau kan Wan, please?”

“Iya, tapi bagaimana ya Mbak, saya belum pernah melakukannya, saya gak bisa”
“Gak usah khawatir, nanti akan Mbak ajarkan.”

Sambil berkata begitu ia langsung menghampiriku dan mulai mencium bibirku. Sebagai lelaki normal, akupun langsung membalas ciumannya. Bibir kami saling berpagut, lidah kami saling menggigit, saling sedot. Cukup lama kami menikmatinya.

“Ayo puaskan Mbak sayang.. ah.. ah.” suaranya hanya mendesis ketika ciumanku berpindah ke pipi, kening, turun ke leher dan telinganya.

Akupun gak mau ketinggalan. Tangan kiriku mulai menjalar di pahanya. Kusingkapkan dasternya, benar-benar mulus sekali pahanya. Kuremas-remas sampai ke pangkal pahanya. Ketika sampai ke CD-nya, kumasukkan kedua jariku, dan ku garuk-garuk memeknya.

“Ah sayang. Kamu nakal ya”

Aku tidak menghiraukannya. Sementara itu tangan kananku memeras halus buah dadanya dari luar. Tangannya pun tak mau ketinggalan memegang bahkan mencengkram keras kontolku dari luar. Terasa sakit tapi aku menikmatinya.

Tapi tiba-tiba ia melepaskan pelukannya dan memegang tanganku.

Bandar Qq - Dewagalau


“Jangan disini, gak enak kalo terlihat pembantuku, di kamarku aja.”

Setelah menutup pintu kamar, ia langsung menarikku dan menjatuhkanku di ranjangnya. Dengan ganasnya ia menciumiku, seperti seekor macan yg sedang melahap mangsanya. Terus ke bawah dan ke bawah. Setiap jengkal tubuhku tak luput dari ciumannya. Kemudian ia membuka resleting celanaku dan langsung mencengkram rudalku.

“Wan, punya kamu boleh juga. Apa ada wanita lain yg pernah memegang kontol kamu ini Wan?”
“Belum Mbak, kecuali ibuku waktu kecil dulu. Apa Mbak mau..”

Belum selesai kata-kataku, ia telah mengulum, menghisap, kadang meremas kontolku. Pintar sekali ia memainkan adik kecilku. Beberapa menit kemudian, aku sudah merasakan seperti ada lahar panas yg mau keluar.

“Mbak, aku mau keluar.. ohh.. ohh.. ahh.. nikmat sekali Mbak”.

Aku pegang kepalanya dan aku tahan agar ia tidak melepaskan kulumannya. Crot.. crot.. crot keluarlah air pejuku di dalam mulutnya.

“Terus sayang, terus.. ah.. Peju kamu enak sekali, keluarin terus, ah peju kamu asin tapi uenak tenan”
Dengan rakusnya ia meminum habis pejuku. Kemudian kami istirahat sejenak.

“Mbak, sekarang giliran saya yg akan puaskan Mbak” Kemudian akupun langsung menerkam tubuhnya.

“Sabar sayang, buka bajunya dulu donk.”

Kamipun membuka pakaian kami masing-masing. Setelah telanjang bulat, langsung kubaringkan ia. Kuciumi senti demi senti tubuh mulusnya. Dari atas ke bawah sampai kepada memeknya. Kurenggangkan kedua pahanya.

“Ayo sayang.. puaskan.. Mbak.. ya.. ohh.. oohh.” Kata-katanya terus meracau, apalagi ketika aku melahap habis memeknya dengan mulutku, kadang kusedot, kuhisap, dan kugigit dengan lembut itilnya.

“Ah.. ennak ssayang.. kamu ppinnttarr.. ohh.. oohh”

Aku sudah tidak mempedulikan kata-katanya. Aku makin asyik dengan mainan baruku. Kumasukkan kedua jariku kedalam lubang memeknya. Kukocok perlahan lahan. Tubuhnya meronta-ronta seperti orang kesetanan, kedua teteknya bergoyang kencang. 

Aku pun meraih teteknya itu. Dengan tangan kiriku, aku pelintir puting susunya yg sebelah kiri dan mulutku kini menggigit halus puting kanannya. Sementara kedua jari tangan kananku tetap mengocok lubang memeknya. Semakin cepat kocokanku, semakin cepat pula ia meronta. Kedua kakinya ia jepitkan diatas tubuhku. 

Sampai akhirnya ia menggelinjang hebat, kedua tangannya mencengkram keras kepalaku. Akhirnya ia mencapai orgasmenya. Ia terkulai lemas. Ditekan-tekannya kepalaku. Aku mengerti maksudnya.

Sekarang giliranku meminum cairan kenikmatannya. Kutelan habis semuanya dan dengan lidahku, kubersihkan daerah memeknya. Kemudian aku naik keatas dan mulai mencium bibir, leher dan telinganya. Akupun turun menghisap kedua susunya. 

Terkadang kugigit putingnya bergantian. Ia hanya mengeluh merasakan nikmatnya. Beberapa menit kemudian ia sudah terangsang lagi.

“Ayo sayang. Aku sudah tak tahan lagi. Masukin sayang, Masukin yah please..”

“Iya Mbak, aku juga sudah tidak sabar ingin merasakan memek Mbak yg nikmat ini”

Ia mengangkangkan kedua pahanya, dan membimbing burungku memasuki sarangnya. Perlahan lahan kontolku masuk, sampai..bless. Aku berhenti sejenak ketika seluruh kontolku masuk ke memeknya.Oh hangatnya.

“Ayo sayang, goyang sayang ohh.. ohh” Kedua tangannya memegang pantatku dan membantu gerakan pinggulku.

Cukup lama aku mengocoknya, akhirnya kupercepat kocokanku ketika kurasakan lahar panas akan keluar lagi dari kontolku.

“Mbak, oh..aku mau keluar. Di keluarin dimana nih ohh.. oohh”

“Mbak juga mau keluar, ohh.. oohh sama-sama ya sayang.. ohh.. di dalam aja gak apa-apa. Ohh barengan yah.” Akhirnya bersama-sama kami mencapai orgasme.

Tubuhku kurebahkan disampingnya. Ia memelukku dan menciumku.

“Terima kasih ya sayang. Kamu benar-benar hebat.”

“Mbak juga hebat. Terima kasih Mbak telah mengajarkan saya. Mbak, kalo boleh saya tau, kenapa Mbak memilih saya?

Bukankah banyak gigolo diluar sana yg lebih hebat dari saya?”

“Ha.. ha.. Mbak pilih kamu karena Mbak suka kamu. Kamu mempunyai daya tarik sendiri yg aneh Wan. Mbak juga yakin kamu pasti bersih”

Ia tersenyum kemudian menciumku dan merebahkan kepalanya di dadaku. Malam itu kami masih melakukannya lagi beberapa kali sampai pagi. Bahkan ketika paginya kami mandi bersama-sama. Mbak Ella benar-benar kagum dengan keperkasaan dan permainan ranjangku. Padahal, itu adalah pengalaman pertamaku. 

Mungkin karena aku sering nonton film BF, karena yg aku lakukan hanya meniru apa yg aku tonton. Tapi kuakui, aku juga banyak belajar dari Mbak Ella. Dialah yg telah merenggut keperjakaanku.
Kemudian kami sarapan bersama. Sekali lagi ia mengucapkan banyak terima kasih padaku. Akupun pamit pulang.

Jam 12 siang HPku berdering, ada SMS masuk. Oh ternyata Mbak Ella.

“Hai sayang, Mbak pergi dulu yah, gak lama kok. Jaga diri baik-baik yah. Sampai ketemu lagi. Daag”
Bagiku seminggu adalah waktu yg lama. Aku benar-benar merindukannya.

Dua hari kemarin, saya benar-benar lelah, karena saya harus melayani Ci Virra. Siapakah Ci Virra? Ia adalah seorang warga keturunan. Ia seorang wanita karir. Umurnya sekitar 42 tahun. Tubuhnya gemuk dan nafsu seksnya sangat tinggi. Saya benar-benar kewalahan melayaninya. Tapi dia benar-benar kagum dengan kehebatan saya. Ia ketagihan, kapanpun kalau ia sedang horny, ia minta saya harus siap melayaninya.

Saya pasti akan menceritakan bagaimana hubungan saya dengan Ci Virra di lain waktu. Sekarang saya akan melanjutkan kisah saya dengan Mbak Ella. Masih ingat kan?

Seminggu sudah berlalu. Saya benar-benar merindukan Mbak Ella. Setiap hari kalau saya lagi horny, saya cuma bisa beronani dengan membayangkan tubuh seksinya. Entahlah, semenjak usia 12 tahun saya sudah sering beronani, dan yang menjadi fantasi seks saya pasti wanita-wanita dewasa. Saya lebih bergairah bila mengkhayalkan mereka. 

Dan khayalan itu pertama kali terwujud dengan Mbak Ella. Saya memang memiliki beberapa pacar, tapi tak ada gairah sedikitpun untuk ngeseks dengan mereka. Mungkin saya mengidap penyakit sindroum complex, kalau tidak salah.

Hari itu sekitar pukul 6 sore. Aku sedang di toko, sepi sekali, benar-benar BT. Tiba-tiba HPku berdering.

“Hallo sayang, apa kabar? Kangen ga sama Mbak? Kamu lagi ngapain?”, suara merdu yang sedang kutunggu-tunggu.

“Ah enggak kangen kok. Biasa aja tuh. Mbak lagi dimana?”

“Ih kamu jahat deh. Mbak lagi di Jakarta, di kafe XX. Mbak juga enggak kangen sama kamu, Mbak cuma kangen sama burung kamu. Apa burung kamu gak rindu sama sarangnya? Kesini yah? Mbak tunggu!”

“Ok deh Mbak, nanti saya suruh burung saya terbang kesana.”

Mbak Ella hanya tertawa. Aku pun segera menutup toko lalu bergegas mandi. Aku mambayangkan betapa indahnya malam nanti. Aku akan bertempur habis-habisan dengan Mbak Ella. Membayangkannya saja sudah nikmat, apalagi mencicipinya.

Sebelum jam 8 malam aku telah sampai di kafe itu. Setelah masuk ke dalam dari sudut kafe ada wanita sedang melambaikan tangan. Itulah Mbak Ella, wanita yang kurindukan selama ini. Dia tidak sendiri, disebelahnya ada seorang wanita lagi. 

Dari raut wajahnya terlihat kalau dia sudah berumur, mungkin hampir 50 tahun. Namun begitu ia terlihat begitu anggun dan berwibawa dengan menggunakan kemeja biru dan rok panjang.

Mbak Ella memperkenalkanku padanya. Ibu Lis namanya. Beliau adalah direktur utama di tempat Mbak Ella bekerja. Pantas saja kalau Mbak Ella terlihat begitu hormat padanya. Setelah lama berbincang-bincang, tiba-tiba saja Mbak Ella pamit pergi.

“Wan, Mbak pergi dulu ya, ada urusan mendadak, kamu tolong temani Ibu Lis ya!” Aku hanya menganggukkan kepala.

Setelah mencium keningku ia langsung pergi. Aku hanya terdiam dan menunduk karena kulihat Ibu Lis memperhatikanku dengan serius.

“Hey, kok diam aja. Jangan takut donk, memangnya Ibu mau menerkam kamu. Kita jalan yuk, cari udara segar.”

Aku hanya tertawa kecil ketika ia mencubit pipiku kemudian menggandeng tanganku keluar dari kafe itu. Selama dua jam kami keliling kota. Ibu Lis menceritakan pengalaman hidupnya, dari bisnis sampai keluarga. Kini ia telah menjanda dengan dua orang anak yang tinggal di luar negeri dan sudah menikah. 

Menurutnya semua telah diraihnya, kecuali satu, belaian hangat dan kasih sayang dari seorang pria. Suaminya telah meniggalkannya lima tahun yang lalu. Ah seperti yang kuduga akhirnya ia megutarakan maksudnya.

Ia ingin malam ini aku mengobati kesepiannya, memuaskan hasrat biologis yang selama ini tersimpan. Ia akan memberikan apa yang kuminta asal aku dapat memuaskannya. Aku hanya mengganggukkan kepala, tak kusangka wanita yang sebelumnya terlihat begitu tegar, angkuh, kini menangis di depanku.

Tepat jam 12 kami check in di sebuah hotel mewah di kawasan kota. Begitu sampai di kamar, tak kusangka bagaikan macan kelaparan ia langsung menerkamku, menjatuhkanku diatas kasur. Dengan kasar ia melepas pakaianku, membuka celanaku, dan langsung memakan kontolku.

“Ah.. ohh pelan-pelan Bu, sakit nih, ohh.. hisap Bu, hisap!”

“Maaf Wan, ahh Ibu sudah lama gak ngemut barang yang enak ini. Kontolmu gede, panjang lagi, ohh beruntung sekali istri kamu nanti. Ehmm enak Wan.”

Ibu Lis memang hebat memanjakan kontolku. Baru sepuluh menit, sudah kurasakan lahar panas akan keluar. Kutekan kepalanya kedalam ketika pejuku keluar dan langsung masuk ke dalam mulutnya. Ia meminum seluruhnya, lalu membersihkan kontolku dengan lidahnya.

“Ahh enak Wan. Peju kamu nikmat sekali. Nanti kasih Ibu lagi ya?”

Kemudian ia berdiri dan melepaskan seluruh pakaiannya. Wow hebat juga, walaupun usianya hampir setengah abad, terlihat payudaranya yang besar hanya sedikit mengendur, kulit tubuhnya pun masih kencang, bulu-bulu kemaluannya juga terlihat rapi. Sepertinya ia merawat tubuhnya dengan baik.

Aku langsung menarik tangannya, kurebahkan ia, kuciumi senti demi senti tubuhnya. Kulumat vaginanya, kusedot, hisap, kadang kumainkan lidahku di itilnya. Sementara kedua tanganku memijat halus payudaranya. 

Belum sampai lima menit, ia menekan-nekan kepalaku, ia hendak orgasme, kutekan pangkal pahanya keras-keras. Ahh keluarlah cairan kenikmatannya, ia mengerang keras, kemudian kusedot habis cairan itu dan kubersihkan memeknya dengan lidahku.

Aku kemudian bangkit dan pergi ke kamar mandi. Entah kenapa, diruangan ber-AC itu badanku terasa panas, mugkin karena lelah berkeliling kota tadi. Aku pun mandi, kupikir sekalian memberi waktu bagi Ibu Lis untuk istirahat sebentar. 

Begitu keluar dari kamar mandi, kulihat tubuh mulus terpampang di depanku. Gairahku bangkit lagi, kudekati ia. Alamak, ternyata ia sudah tertidur, mungkin ia benar-benar lelah, tak tega hatiku untuk membangunkannya. Aku berpikir keras, gairahku makin memuncak. Akhirnya aku teringat Mbak Ella, aku menelponnya dan kuceritakan kejadiannya.

Bandar Ceme - Dewagalau


Ternyata ia sedang berada di sebuah apartemen di Jl.Gotot Subroto. Aku segera berpakaian dan meluncur kesana. Setengah jam kemudian aku sudah sampai disana. Aku benar-benar sudah tak tahan, ingin segera kulumat habis setiap jengkal tubuh mulus Mbak Ella.

Kuketuk perlahan kamar nomor 634. Terdengar langkah orang mendekat. Pintu pun dibuka, di depanku berdiri seorang wanita bertubuh gemuk berumur kira-kira 40 tahun. Ia hanya mengenakan daster tipis, dibalik dasternya itu terlihat kedua payudaranya, sangat besar tapi sudah kendur.

Aku dipersilahkan masuk. Ketika berjalan kedua belah pantatnya juga terlihat jelas, besar sekali.Sampai di dalam kulihat seorang wanita lagi kira-kira berumur sama sedang tidur telanjang di kasur.Ya ampun, ia tengah memainkan memeknya dengan tangan kanannya. Kedua jarinya disodok-sodok ke dalam lubang memeknya. Sementara tangan kirinya memeras kencang payudaranya sendiri.

Aku begitu terkesima melihatnya. Tiba-tiba saja wanita bertubuh gemuk yang tadi langsung mendorongku dan menjatuhkanku ke atas kasur. Ternyata ia sudah telanjang bulat. Sedikit ngeri dan takut, tapi juga lucu melihat tubuh gemuk telanjang di depanku. Lucu sekali, kedua pahanya begitu lebar, sampai-sampai memeknya tidak terlihat.

Wanita gemuk itu menindihku. Kemudian membuka paksa baju dan celanaku. Setelah telanjang, dengan rakus ia menciumi seluruh tubuhku. Ia memijat halus kontolku. Ah nikmat sekali pijatannya. Dengan cepat kontolku menegang keras. Ia pun langsung menelan habis, terkadang mengulum, menyedot, dan mengocok-ngocok kontolku.

Sepuluh menit kemudian ia bangkit dan mengangkangiku. Perlahan-lahan kontolku dibimbing masuk ke memeknya. Setelah masuk, ia diam saja, hanya matanya terpejam menikmati sesuatu barang yang besar memenuhi lubang kenikmatannya. Kemudian ia mulai memainkan pantatnya, turun naik perlahan, terkadang pinggulnya digoyang-goyang.

Tiba-tiba saja wanita kurus disampingku bangkit, dan langsung mengangkangiku diatas. Memeknya tepat berada di depan mukaku. Ia menunjuk kearah memeknya. Tanpa dikomando, aku langsung melumat memek yang ternyata sudah basah itu. Kusedot habis, sementara kedua tanganku meremas-remas payudaranya.

Badanku terasa remuk ditindih oleh dua orang wanita. Beberapa menit kemudian wanita gemuk itu mengerang hebat, kedua tangannya mencengkram keras badanku. Ia mendapatkan orgasmenya yang pertama. Bersamaan dengan itu laharku juga meletus di rongga rahimnya. Ah nikmat sekali. Ini yang kutunggu-tunggu karena tadi sempat tertunda.

Mulutku masih memainkan memek wanita kurus diatasku. Semenit kemudian ia juga mengerang keras sambil menjambak rambutku. Keluarlah cairan kenitmatannya, dan langsung kusedot habis, kubersihkan memeknya dengan lidahku. Kemudian ia berbaring disebelah kiriku, sementara wanita gemuk itu berbaring di sebelah kananku.

Kemudian aku bangkit dan berjalan menuju dapur. Haus sekali rasanya setelah bertempur tadi. Yah baru pertama kali aku melawan dua wanita sekaligus. Aku duduk di kursi dapur, meminum segelas jus jeruk dingin. Lama aku terdiam membayangkan kejadian tadi. Sampai tiba-tiba gairahku bangkit lagi. Aku segera bergegas kembali ke ranjang. Ternyata kedua wanita itu sudah tertidur pulas. Aku bingung harus memilih yang mana.

Akhirnya kuhampiri wanita yang bertubuh kurus karena belum kurasakan kehangatan memeknya dan ia pun belum mencoba kehebatan kontolku. Kusibakkan kedua pahanya. Terlihat memeknya sudah kering, kubasahi dengan air liurku. Perlahan tapi pasti, kuhujamkan batang kejantananku. Ia terbangun dan merintih, kemudian hanya tersenyum kecil dan memejamkan matanya lagi. Kubiarkan sebentar kontolku di dalam. Aku ingin merasakan kehangatan memeknya. Perlahan-lahan kumaju-mundurkan pantatku, sambil sesekali menggoyangkan pinggulku.

“Ahh.. ohh. Terus Mas, enak Mas, ohh.. ohh. nikmat sekali. Ayo Mas, sekalian cobain susuku donk!”
Sesuai perintahnya, segera kusedot payudara kirinya, sementara tanganku memelintir puting payudara kanannya. Ia mengerang kecil ketika kugigit putingnya. Pinggulku tetap menggenjotnya. Semakin lama semakin kupercepat ketika aku tahu ia akan orgasme. Bibir memeknya terasa menjepit keras kontolku ketika ia orgasme. Kuperlambat genjotanku, kemudian kucabut kontolku. Ia berbaring lemas.

Kulirik wanita gemuk disampingku. Ternyata ia telah terbangun dan sedang memainkan memeknya dengan tangannya. Rupanya dari tadi ia melihat permainanku dengan wanita yang kurus. Ia menatapku dan menunjuk-nunjuk memeknya.

“Ayo Mas, masukin dong, aku sudah gak tahan nich. Memekku sudah gatel lagi kepengin ngerasain kontol Mas yang gede.”

“Sabar sayang, enak yah kontolku ini, kepingin lagi yah?”

“Ayo dong Mas, jangan bercanda ah.”

Kontolku masih meneras dan tegang. Segera kuhujamkan ke liang kenikmatan wanita gemuk itu. Ternyata ia memang lebih pintar dari wanita yang kurus. Sambil kugenjot, ia memainkan sendiri pinggulnya memutar berlawanan dengan pinggulku.

Tiba-tiba ia mengangkat kedua kakinya dan disenderkan di pundakku. Aku pun duduk mengangkang, namun kontolku tetap menancap di lubang memeknya. Ah pintar sekali ia memilih gaya. Secara perlahan aku mulai menggenjot lagi.

Wanita yang kurus tiba-tiba bangkit dan langsung melumat payudara wanita yang gemuk. Pandai juga ia memainkan payudara itu satu persatu. Aku senang karena ada yang membantuku agar wanita gemuk ini cepat mencapai klimaks. Yah saat itu memang kurasakan laharku akan keluar, sementara wanita gemuk ini masih asyik menggoyang-goyang pinggulnya.

Kemudian kepalaku dicengkram keras oleh kedua kaki wanita yang gemuk. Ah rupanya ia akan orgasme. Kedua tangannya menjambak keras rambut wanita yang kurus.

“Ayo Mas, goyang yang kencang, ayo cepat, ohh.. ohh.. aahh”

“SAya juga sayang, dikeluarin di dalam aja yah, biar lebih enak.”

“Tersserraahh kammuu.. ahh.”

Ia mengerang hebat. Sampai-sampai wanita yang kurus berteriak juga menahan sakit sambil memegang rambutnya yang dijambak. Kepalaku juga sakit oleh jepitan kedua kakinya.

Aku segera mencabut kontolku. Laharku belum keluar. Segera kutarik kepala wanita yang bertubuh kurus. Kupaksa ia untuk mengoralku. Ternyata pintar juga ia memakan kontolku. Semenit kemudian meletuslah laharku di dalam mulutnya. Ia langsung meminum habis sampai bersih. Aku langsung terlentang lemas sampai akhirnya tertidur.

Bandar Ceme - Dewagalau


Aku baru terbangun kira-kira jam 8 pagi. Benar-benar lemas badanku ini, serasa mau copot tulang-tulangku. Aku segera berpakaian dan menuju dapur karena kudengar suara kedua wanita itu sedang bercakap-cakap.

“Selamat pagi sayang, cape yah. Ini Tante sudah buatkan susu dan nasi goreng untuk kamu.”, Wanita yang gemuk ini menggandeng tanganku untuk duduk.

“Perkenalkan nama saya Erna, panggil saja Tante Erna. Nah, yang ini Tante Dian. Kami berdua adalah teman bisnisnya Ella.”

Ya ampun, aku baru teringat kalau tujuanku kesini unuk bertemu dengan Mbak Ella. Karena nafsuku yang tertahan semalam aku jadi lupa.

Kami pun sarapan bersama. Tante Erna menceritakan kalau mereka suka berjudi, siapa yang menang harus menghadiahkan seorang gigolo sebagai pembayaran pajak kepada yang kalah. Mungkin maksudnya agar yang kalah tidak terlalu emosi karena kekalahannya. Dan semalam Mbak Ella telah menang besar, dan menjadikanku sebagai pajaknya. Selain mereka bertiga sebenarnya masih ada dua orang lagi, namun tidak bisa datang. 

Aku tidak bisa membayangkan bagaimana jika kedua orang itu datang, berarti aku harus bertempur habis-habisan dengan empat orang. Wah mana tahan.

Tepat pukul 10 aku pamit pulang. Mereka mengucapkan banyak terima kasih. Mereka benar-benar puas dengan pelayananku semalam. Mereka memberiku uang dalam sebuah amplop. Aku menolaknya, karena dipaksa aku menerimanya juga.

Ingin rasanya cepat tiba di rumah, badanku benar-benar remuk, aku ingin segera dipijat oleh Bik Inah pembantuku. Di perjalanan kubuka amplop itu. Wow isinya satu juta rupiah. Kupikir tak sia-sia perjuanganku semalam.

Cerita Sex Tanteku Suka Nyepong Anuku


Agen Poker - Dewagalau 


Tanteku itu orangnya lumayan menarik dengan postur tubuh setinggi 170 cm dengan ukuran dada 34B, berumur kira-kira 29 tahun. Sebenarnya dulu aku suka sekali melihat tubuh mulus tanteku, secara tidak sengaja ketika dia sedang mandi karena memang di tempat kami kamar mandi pada saat itu atasnya tidak tertutup genteng dan tanpa berpintu, jadi kalau ada yang mandi di situ hanya dengan melampirkan handuk di tembok yang menjadikan tanda bahwa kamar mandi sedang dipakai.

Tidak sampai di situ saja, kadang tanteku ini suka memakai baju tidur yang model terusan tipis tanpa memakai bra dan itu sering sekali kulihat ketika di pagi hari. Apalagi aku sering sekali bangun pagi sudah dipastikan tanteku sedang menyapu halaman depan dan itu otomatis ketika dia menunduk menampakkan gunung kembarnya yang agak besar dan montok. Hal ini dilakukan sebelum dia menyiapkan keperluan sekolah anaknya, kalau om-ku biasanya tidak ada di rumah karena sering bertugas di luar kota selama 4 hari.

Pernah aku melamunkan bagaimana rasanya jika aku melakukan persetubuhan dengan tanteku itu, namun akhirnya paling-paling kutumpahkan di kamar mandi sambil ber-onani. Rupanya anga-anganku itu dapat terkabul ketika aku sedang menumpang nonton TV di rumah tanteku pada siang hari dimana ketiga anaknya sedang sekolah dan om-ku sedang bertugas keluar kota pada pagi harinya.

Kejadian itu terjadi ketika aku sedang menonton TV sendirian yang bersebelahan dengan warung tanteku. Ketika itu aku ingin mengambil rokok, aku langsung menuju ke sebelah. Rupanya tanteku sedang menulis sesuatu, mungkin menulis barang belanjaan yang akan dibelanjakan nanti.

“Tante, Diko mau ambil rokok, nanti Diko bayar belakangan ya!” sapaku kepada tanteku.

“Ambil saja, Ko!” balas tanteku tanpa menoleh ke arahku yang tepat di belakangnya sambil meneruskan menulis dengan posisi membungkuk.

Karena toples rokok ketengan yang akan kuambil ada di sebelah tanteku tanpa sengaja aku menyentuh buah dadanya yang kebetulan tanpa memakai BH.

“Aduh! hati-hati dong kalau mau mengambil rokok. Kena tanganmu, dada tante kan jadi nyeri!” seru tanteku sambil mengurut-urut kecil di dadanya yang sebelah samping kirinya.

Namun karena tidak memakai BH, nampak dengan jelas pentil susu tanteku yang lumayan besar itu.
“Maaf Tan, aku tidak sengaja. Begini aja deh Tan, Diko ambilin minyak supaya dada Tante tidak sakit bagaimana!” tawarku kepada tanteku.

“Ya sudah, sana kamu ambil cepat!” ringis tanteku sambil masih mengurut dadanya.

Dengan segera kuambilkan minyak urut yang ada di dalam, namun ketika aku masuk kembali di dalam warung secara perlahan, aku melihat tante sedang mengurut dadanya tapi melepaskan baju terusannya yang bagian atasnya saja.

“Ini Tante, minyak urutnya!” sengaja aku berkata agak keras sambil berpura-pura tidak melihat apa yang tanteku lakukan.

Mendengar suaraku, tanteku agak terkejut dan segera merapikan bagian atas bajunya yang masih menggelantung di bagian pinggangnya. Tampak gugup tanteku menerima minyak urut itu tapi tidak menyuruhku untuk lekas keluar. 

Tanpa membuang kesempatan aku langsung menawarkan jasaku untuk mengurut dadanya yang sakit, namun tanteku agak takut. Pelan-pelan dengan sedikit memaksa aku berhasil membujuknya dan akhirnya aku dapat ijinnya untuk mengurut namun dilakukan dari belakang.

Sedikit demi sedikit kuoleskan minyak di samping buah dadanya dari belakang namun secara perlahan pula kumemainkan jariku dari belakang menuju ke depan. Sempat kaget juga ketika tanteku mengetahui aksi nakalku.

“Diko! kamu jangan nakal ya!” seru tanteku namun tidak menepis tanganku dari badannya yang sebagian ditutupi baju.

Mendapati kesempatan itu aku tidak menyia-nyiakan dan secara aktif aku mulai menggunakan kedua tanganku untuk mengurut-urut secara perlahan kedua bukit kembar yang masih ditutupi dari depan oleh selembar baju itu.

“Ohh… oohh…” seru tanteku ketika tanganku sudah mulai memegang susunya dari belakang sambil memilin-milin ujung susunya.

“Jangan… Diko… jang…” tante masih merintih namun tidak kuacuhkan malah dengan sigap kubalikkan tubuh tanteku hingga berhadapan langsung dengan diriku.

Kemudian dengan leluasa kumulai menciumi susu yang di sebelah kiri sambil masih mengurut-urut susu di sebelahnya. Kemudian aku mulai mencucupi kedua puting susunya secara bergantian dan tanteku mulai terangsang dengan mengerasnya kedua susunya.

Tidak sampai di situ, rupanya tangan tanteku mulai menjelajahi ke bawah perutku berusaha untuk memegang kemaluanku yang sudah dari tadi mengencang. Ketika dia mendapatkannya secara perlahan, dikocok-kocok batang kemaluanku secar perlahan dan tiba-tiba tanteku mengambil sikap jongkok namun sambil memegang kemaluanku yang lamayan panjang. 

Untuk diketahui, batang kemaluanku panjangnya kurang lebih 20 cm dengan diameter 3,5 cm. Tanteku rupanya sedikit terkejut dengan ukuran kemaluanku apalagi sedikit bengkok, namun dengan sigap tapi perlahan tanteku mulai mengulum kemaluanku secara perlahan dan semakin lama semakin cepat.

“Ah… ah… ah… yak.. begitu… terus… terus…” erangku sambil memegangi kepala tanteku yang maju mundur mengulum batang kemaluanku.

Kemudian karena aku sudah tidak tahan, tubuh tante kuangkat agar duduk di pinggir meja dimana tadi dia menulis, dan dengan sedikit gerakan paha tanteku kupaksa agar meregang. Rupanya tanteku masih mengenakan CD dan dengan perlahan kubuka CD-nya ke samping dan terlihatlah gundukan kemaluannya yang sudah basah.

Secara perlahan kuciumi kemaluan tanteku dan kumain-mainkan klirotisnya.

“Ah… ahhh.. Diko, Tante mau keluuuaarrr…” Beberapa saat kemudian rupanya tanteku akan mengalami orgasme, dia langsung memegangi kepalaku agar tetap di belahan kemaluannya dan kemudian mengeluarkan cairan surganya di mulutku, “Crettt… crett… cret…” mulutku sampai basah terkena cairan surga tanteku.

Kemudian tanteku agak lemas namun masih kujilati kemaluannya yang akhirnya membangkitkan nafsu untuk bersetubuh denganku. Kuangkat tubuh tante ke bawah warung, dan dengan sedikit agak keras aku dapat merubah posisinya menelentang di depanku, kubukakan semakin lebar kedua kakinya dan mulai kuarahkan ujung kemaluanku ke mulut lubang kemaluannya. 

Agak susah memang karena memang aku agak kurang berpengalaman dibidang ini namun rupanya tanteku dapat memahaminya. Dengan sabarnya dituntunnya ujung kemaluanku tepat di lubang kemaluannya.

“Pelan-pelan ya, Diko!” lirih tanteku sambil menggenggam kemaluanku.

Ketika baru masuk kepala kemaluanku tanteku mulai agak meringis tetapi aku sudah tidak kuat lagi dengan agak sedikit paksa akhirnya kemaluanku dapat masuk seluruhnya.

“Diko… akh…” jerit kecil tanteku ketika kumasukkan seluruh batang kemaluanku di dalam lubang kemaluannya yang lumayan basah namun agak sempit itu sambil merapatkan kedua kakinya ke pinggangku.

Perlahan aku melakukan gerakan maju mundur sambil meremas-remas dua susunya. Hampir tiga puluh menit kemudian gerakanku makin lama main cepat. Rupanya aku hampir mencapai puncak. “Tan… aku… aku mauuu… keluar…” bisikku sambil mempercepat gerakanku.
“Dikeluarkan di dalam saja, Dik!” balas tanteku sambil menggeleng-gelengkan kecil kepalanya dan menggoyangkan pantatnya secara beraturan.

“Tan… aku… keluarrr…” pekikku sambil menancapkan kemaluanku secara mendalam sambil masih memegangi susunya.

Rupanya tanteku juga mengalami hal yang sama denganku, dia memajukan pantatnya agar kemaluanku dapat masuk seluruhnya sambil menyemburkan air surganya untuk ketiga kalinya.

“Cret… cret… cret…” hampir lima kali aku memuntahkan air surga ke dalam lubang kemaluan tanteku dan itu juga di campur dengan air surga tanteku yang hampir berbarengan keluar bersamaku.
“Cret… cret… cret… ahh…” tanteku melengkungkan badannya ketika mengeluarkan air surga yang dari lubang kemaluannya.

Akhirnya kami tergeletak di bawah dan tanteku secara perlahan bangun untuk berdiri sambil mencoba melihat kemaluannya yang masih dibanjiri oleh air surga.

“Diko! kamu nakal sekali, berani sekali kami berbuat ini kepada Tante, tapi Tante senang kok, Tante puas atas kenakalan kamu,” bisik tanteku perlahan. Aku hanya bisa terseyum, sambil menaikkan kembali celanaku yang tadi dipelorotkan oleh tanteku.

Tanteku akhirnya berjalan keluar, namun sebelum itu dia masih menyempatkan dirinya untuk memegang kemaluanku yang lumayan besar ini.

Inilah pengalamanku yang pertama, dan sejak itu kami kadang mencuri waktu untuk mengulangi hal tersebut, apalagi jika aku atau tanteku ingin mencoba posisi baru dan pasti ketika Om-ku dan anak-anak tanteku berangkat sekolah. Sekarang hal itu sudah tidak kulakukan lagi karena tanteku sekarang ikut Om-ku yang mendapat tugas di daerah.

Cerita Seks Tante Denok Yang Nakal

Cerita Seks Tante Denok Yang Nakal | SeoJudiKartu




Agen Poker - Dewagalau 


Namaku Indra, dan ini ceritaku saat masih 18 tahun. Saat berangkat keyogya untuk kuliah aku bertemu dengan bu Denok dan pak Jerry suaminya. Bu Denok adalah mantan guruku saat SMP dulu. Setelah bercerita panjang lebar mereka menawarkan padaku untuk tinggal ditempat mereka selama aku kuliah. Setelah mendapat ijin orang tuaku, akupun menerima tawaran baik mereka karna aku memang tidak punya kenalan diyogya.

Setelah sebulan tinggal bersama aku tahu kalau pak Jerry yang bekerja diluar pulau sering sekali berangkat, sementara kedua anaknya lebih memilih tinggal bersama neneknya dikalimantan untuk mernyelesaikan pendidikan dasar mereka. Aku sering melihat bu Denok melamun sepulang dia dari mengajar disekolah. Bu Denok juga sering cerita Namaku Indra, dan ini adalah ceritaku saat masih berumur 18 tahun.

Saat berangkat ke jogja untuk kuliah aku bertemu dengan Bu Denok dan Pak Jerry suaminya. Bu Denok adalah mantan guruku saat SMP dulu. Setelah bercerita panjang lebar mereka menawarkan padaku untuk tinggal di tempat mereka selama aku kuliah. Setelah mendapat ijin orang tuaku, akupun menerima tawaran baik mereka karena aku memang tidak punya kenalan di Yogya.

Setelah sebulan tinggal bersama aku tahu kalau Pak Jerry yang bekerja diluar pulau sering sekali berangkat, sementara ke-2 anaknya lebih memilih tinggal bersama neneknya dikalimantan untuk mernyelesaikan pendidikan dasar mereka. Aku sering melihat Bu Denok melamun sepulang dia dari mengajar disekolah. Bu Denok juga sering cerita panjang lebar padaku tentang kesepiannya dirumah selama ini. Dan aku selalu menjadi pendengar yang baik.

Dibalik sikap baik yang kuperlihatkan, terpendam hasrat yang ada sejak SMP dan tumbuh lagi sejak pertemuan kembali dengan Bu Denok sekarang. Waktu SMP dulu aku paling bersemangat jika pelajaran Bu Denok, selain cara mengajarnya yang enak aku bisa mengintip bra yang dia gunakan. Antara kancing didada dan kerah lehernya terdapat celah yang sering terbuka, sehingga jika diperhatikan secara teliti, orang pasti bisa melihat pakaian dalam yang ia gunakan. Dan selama penagamatanku Bu Denok selalu memakai BH warna Hitam.

Itu selalu menjadi santapanku setiap mata pelajarannya. Bahkan aku selalu memperhatikan gerak-geriknya selama disekolah. Waktu itu usianya 31 tahun, dengan wajahnya yang putih dan bentuk tubuhnya yang menawan membuatku selalu menjadikannya sebagai objek hayalan jika onani. Sekarang diusianya yang ke 36 tdak terlihat kalau Bu Denok telah memiliki 2 orang anak yang sudah SMP. Malah menurutku ia terlihat lebih menawan, terutama pada bagian pinggul dan dada ukuran 36 B yang lekukannya semakin terbentuk. Itu semua karena program BL yang diikutinya tiap senin dan kamis sore.

Awalnya aku cuma mengkhayalkan tubuh Bu Denok jika sedang bermasturbasi. Kemudian aku melakukannya sambil memegang CD dan BH hitam milik Bu Denok, sampai akhirnya aku berani menguping jika Pak Jerry yang pulang dan sedang bercinta denagn Bu Denok. Sambil mendengar desahan dan erangan erotis dari dalam kamar, tanganku asik mngocok batang kontolku yang lumayan besar. Dan bila sudah keluar kubersihkan dengan CD atau BH Bu Denok yang akan dicuci besok.

Akhirnya muncul niatku untuk mencicipi lubang vagina Bu Denok yang pasti sangat keset dan terawat. Aku melakukannya setelah 4 bulan tinggal disana, saat itu hari kamis dan suaminya sudah berangkat seminggu. Aku menunggu didalam kamar sambil membayangkan “malam pertama” yang akan kulalui bersama Bu Denok. Saat dia pulang dari BL aku membukakan pintu rumah.

Bandar Ceme - Dewagalau


“Sore Ndra.. baru pulang?” Sapanya ramah dan tersenyum padaku.

“Iya Bu.. baru aja” Balasku sambil mengangguk.

Kemudian dia pergi kedapur membuat segelas susu lalu diletakkan datas meja makan. Kemudian ia masuk kamar untuk mandi. Saat dia mandi, kumasukkan serbuk tidur yang kubeli di apotik kedalam susu yang akan diminumnya.

Sekitar 45 menit kemudian Bu Denok keluar dari kamar, ia menggunakan daster motif bunga warna biru dengan panjang selutut tanpa lengan dengan belahan dada yang agak rendah, sehingga jika dia agak membungkuk belahan payudaranya yang indah akan tampak jelas terlihat olehku. Setelah mengambil susu di atas meja dia duduk menemaniku menonton TV di ruang tengah.

“Ada berita apa Ndra?” Tanyanya sambil meminum susu.

“Biasa Bu.. politik gak ada habis-habisnya” Sahutku sambil mencuri pandang keketiaknya.

“Bapa ada nelepon gak?”Tanyanya lagi sambil menghabiskan susu di gelas.

“Belum Bu, mungkin masih ngelonin istri baru” Candaku.

“Nakal ya..” Tegurnya sambil mencubit pinggangku.

Aku tidak menghindar karena dengan itu aku bisa melihat belahan dadanya yang seperti ingin melompat dari dalam dasternya.

Sekitar 5 menit kemudian Bu Denok mulai menguap dan kepalanya mulai jatuh karena sangat mengantuk.

“Ndra ibu tidur duluan.. Gak tau kok ngantuk banget hari ini” Pamitnya.

“Mungkin tadi terlalu diforsir tenaganya Bu” Sahutku dengan tersenyum.

Kemudian Bu Denok masuk kamar dan menutupnya. Setelah 10 menit menunggu aku mulai beraksi, kuketuk pintunya pelan tiga kali lalu kupanggil namanya, tak ada jawaban. Kuulangi sekali lagi tetap tak ada jawaban, kuputar pegangan pintu dan kubuka dengan sangat perlahan dan kututup keras-keras. Bu Denok tidak bereaksi di atas kasurnya.

Kulihat jam dinding, 18:13 masih banyak waktu pikirku. Aku naik keatas kasur lalu ku perhatikan wajahnya, cantik sekali. Kucium bibirnya dengan lembut, lalu kujilati wajahnya sampai basah kemudian ciumanku turun kelehernya. Kusapu sekeliling lehernya dengan jilatan dan sedotan hingga memerah. Setelah puas kuturunkan kepalaku kedadanya, walau masih berpakaian lengkap tapi bisa kurasakan kekenyalan sepasang payudara yang indah itu. Kedua tanganku secara perlahan tapi pasti meraih kedua bukit kembar itu lalu mengusapnya dengan lembut sementara kepalaku turun keselangkangnnya. Dibalik kain daster itu tercium aroma kewanitaan yang sangat merangsang.

Kuhirup puas-puas wangi yang memabukkan itu, sehingga mengakibatkan remasan-remasan yang kulakukan kepayudara Bu Denok menjadi kasar dan tak terkendali. Tarikan napasku semakin berat seiring dengan hasrat yang semakin menggebu. Kemudian aku membuka semua pakaian yang mnelekat ditubuhku, dan menutup mataku dengan kain. Setelah itu kubuka daster yang dikenakan oleh Bu Denok kemudian kuatur posisi tubuhnya, Kedua tangan di atas kepala dan kaki yang membuka lebar. 

Lalu kubvka kain penutup mataku, pemandangan yang erotis dan menantang langsung terlihat dihadapanku. Tubuh Bu Denok yang tergolek lemah dan tak berdaya kini hanya ditutupi oleh BH hitam pada payudaranya yang montok dan CD pink yang menggembung pada selangkangannya. Batang penisku semakin tegak mengacung siap perang.

Kudekati tindih tubuh Bu Denok yang tergolek lemah dan pasrah itu. Kucium bagian payudaranya yang tak tertutup BH, lalu tanganku menelusup kedalam BHnya dan meraih salah satu puting susunya kemudian memilin-milinnya. Dengan napas yang makin memburu kusingkap BHnya keatas sehingga kedua payudaranya langsung membusung kedepan seakan mengundangku untuk menikmatinya. 

Kuciumi kedua payudaranya lalu kukulum,kusedot dan kugigit-gigit putingnya sampai memerah. Setelah itu kulirik selangkangannya, CD pink Bu Denok tak mampu menutupi beberapa helai rambut hitam yang menjulur keluar dari balik CD itu. Kutahan hasrat itu karena aku ingin menikmatinya saat Bu Denok mulai sadar nanti.

Kuraih kedua payudaranya kuremas-remas dengan kasar lalu kuletakkan batang penisku diantara sepasang susu yang indah itu. Kemudian aku mulai menggerakkan pinggulku maju mundur, rasanya nikmat sekali walau pasti tak senikmat jika masuk kelubang vaginanya batinku. Pelan tapi pasti rasa nikmat mulai merasukiku, napasku mulai tersengal dan desahan mulai keluar dari mulutku tanpa diminta. 

Butir-butir keringat makin mengalir deras, kukulum bibir Bu Denok sejenak lalu kulanjutkan kembali genjotanku tanpa kenal lelah. Kulihat tubuh Bu Denok mulai berguncang karena gerakanku yang makin hebat.

Bandar Blackjack - Dewagalau


Sekitar 10 menit berlalu dan aku sudah lelah menahan, kuputuskan untuk segera mengeluarkannya. Gerakan pinggulku makin kupercepat dan kedua payudaranya makin kurapatkan. Rasa nikmat tak terlukiskan mulai menjalari batang penis dan menyebar keseluruh tubuhku. Cairan putih kental dari kepala penisku dan membanjiri permukaan tubuh indah Bu Denok yang tergolek diam. Kukocok batang penisku sambil memuntahkan cairan spermaku kewajahnya, desahan-desahan nikmat keluar dari mulutku.

Setelah selesai aku beristirahat sejenak sambil menatap tubuh Bu Denok yang hanya tertutup oleh CD saja. Kemudian kuambil lap dan air hangat yang memang sudah kupersiapkan, kubersihkan setiap bagian tubuhnya yang terkena siraman spermaku. Setelah itu kucium-cium sebentar lalu kupasangkan lagi BHnya, kemudian kubongkar lemarinya kucari baju yang biasa digunakan Bu Denok kesekolah. Setelah dapat kupakaikan ketubuhnya. Samar-samar terlihat sekali kalau baju itu membentuk lekukan yang sangat indah aku berdecak kagum. Kemudian aku menunggu dia bagun sambil memainkan payudaranya yang indah.

Aku duduk disampingnya saat Bu Denok mulai membuka matanya. Cahaya lampu tampak menyilaukan matanya, kuperhatikan bagian dadanya yang terbuka. Batang penisku perlahan tapi pasti kembali mengeras melihat pemandangan yang erotis itu.

“Jam berapa ini Ndra?” Tanyanya sambil mengucek mata.

“10 lewat 5 jawabku” Sementara mataku terus menatap kebelahan dadanya.

“Huuaah.. masih malam toh.. lagi ngapain kamu” Tegurnya sambil merentangkan tangan, otomatis belahan payudaranya terlihat sampai BHnya. Dan itu membuatku menjadi lupa diri.

“Lagi liat ini Bu..” Tanganku langsung meremas salah satu payudaranya yang montok.

“Jangan kurang ajar kamu ya” Bentaknya sambil menepis tanganku dan menutupi bagian dadanya yang terbuka.

Sambil mendekatinya kuceritakan semua yang baru saja kulakukan tadi. Wajahnya tampak memerah karena kaget dan tak percaya. Tiba-tiba aku langsung memeluknya, dan mencium bibirnya. Tak sampai disitu, kurebahkan tubuhnya keatas ranjang dan kuhimpit dengan tubuhku. Kulanjutkan aktifitasku, mencium dan melumat bibirnya.

“Jangan Ndra.. Ini dosa” Pinta Bu Denok lirih.

Tapi aku terus menciuminya, tanganku mulai menyusup kebalik baju Bu Denok. Bu Denok menangkisnya, dengan sedikit gerakan aku berhasil menepisnya dan terus menyusup masuk sampai menyentuh payudara Bu Denok yang masih terbunkus BH. Aku meremas lembut payudaranya yang montok itu. Bu Denok mendesah, aku terus meremas tidak lupa ciumanku terus melumat bibirnya. Aku mengalihkan ciumanku ke lehernya. Bu Denok kembali mnedesah, jemari tanganku mulai nerayap kepunggungnya, dan terus melepas tali BHnya.

“Berhasil” Batinku. Bu Denok tersentak.

“Kita tidak boleh melakukan ini Ndra” sambil mendorongku kesamping.

“Memang tidak boleh sih.. tapi..”

Aku kembali merangkul Bu Denok, kali ini ciumanku lebih ganas dari pada yang pertama. Mulai dari bibir ke telinga terus menjalar ke lehernya. Jemari tanganku melanjutkan aksi lagi menarik keatas BH terus meremasnya, memuntir-muntir putingnya. Bu Denok pasrah dan kelihatan mulai panas dengan permainan yang kuterapkan. Aku mengangkat tubuh Bu Denok dan membuka baju serta BHnya, akupun demikian. 

Bu Denok tampak takjub melihat batang penisku. Aku memulai kembali aksiku, kali ini ciumanku kuarahkan ke payudaranya. Bu Denok menggeliat, apalagi tanganku menyentuh payudaranya yang satu lagi. Kami berdua telah bermandikan keringat, tangan Bu Denok menjambak rambutku.

Permainanku jemariku mulai merangkak ke bawah dan berusaha menyelusup kebalik rok dan CDnya. Bu Denok tidak lagi menangkisnya. Jemari tanganku menyentuh rambut kelaminnya, lalu jemariku menggesek-gesek sekitar liang vagina Bu Denok. Bu Denok mendesah panjang dan membenamkan kepalaku kepayudaranya, untuk mendapatkan kenikmatan lebih. 

Setelah beberapa lama, ciumanku mulai merangkak kebawah sampai kebatas rambut vaginanya yang sedikit terbuka. Aku kemudian memeloroti rok dan CDnya, akupun demikian. Aku kembali terkagum melihat tubuh telanjang Bu Denok. Payudaranya putih padat berisi dihiasi puting susu yang berwarna coklat kemerah-merahan. Sementara Vaginanya dikelilingi rambut kelamin yang lebat.

Aku kembali beraksi, kali ini daerah sasaranku liang vaginanya. Aku menciumi dan menjilati yang agak menonjol disekitar liang vaginanya mungkin itu yang dinamakan kloritas. Setelah beberapa lama ciumanku kembali keatas, merentangkan tangannya yang menutupi payudaranya. Terus menjilati tubuhnya dan akhirnya mnedarat lagi di bibirnya. Batang penisku dengan mulut vagina Bu Denok saling beradu. Ini menyebabkan batang penisku ingin dimasukkan ketempatnya. Aku mengatur posisi dan melebarkan kaki bo Denok.

Bu Denok tersadar dan berkata,

“Kita sudah terlalu jauh.. jangan teruskan”

Aku tidak lagi memperdulikan kata-kata Bu Denok karena hawa nafsuku sudah menuju puncak. Aku kembalimeraih Bu Denok dan menciumi bibirnya, kali ini lebih dahsyat lidahku bergoyang-goyang di mulutnya.

Bu Denok tak bisa berbuat apa-apa dan kembali larut dalam kenikmatan. Batang penisku yang sudah gatal ingin memasuki liang vagina Bu Denok. Aku mengambil posisi yang pas, batang penisku mulai memasuki pintu kewanitaannya. Seperti masih perawan, batang penisku sering melenceng memasuki liang vagina Bu Denok, aku terus berusaha dan akhirnya masuk juga batang vaginaku keliang vagina Bu Denok. Bu Denok mendesah panjang dan badannya berguncang.

“Gila keset amat.. kaya belum punya anak aja” batinku.

Bu Denok telah sedikit tenang dan batang penisku telah masuk sedikit demi sedikit. Akhirnya semua batang kejantananku tenggelam di liang senggama Bu Denok. Aku menggoyangkan pinggulku sehingga batang kejantananku keluar masuk di liang senggama Bu Denok. Makin lama makin cepat, Bu Denok mendesah sambil menyebut namaku. Kami berdua bermandikan keringat walaupun cuaca pada saat itu lumayan dingin.

Erangan yang panjang disertai cairan hangat menerpa batang kejantananku yang masih berada didalamliang senggama Bu Denok. Rupanya Bu Denok telah mencapai orgasme, aku pun tidak tinggal diam dengan mempercepat gerakan batang kejantananku keluar masuk diliang senggama Bu Denok.

“Inilah saatnya” Batinku.

Akhirnya puncak kenikmatanku datang, spermaku muncrat didalam liang senggama Bu Denok bersamaan dengan cairan hangat yang kembali menyirami batang penisku, ternyata Bu Denok kembali orgasme. Malam itu berlanjut dengan beberapa kali orgasme Bu Denok, sampai akhirnya kami kelelahan dan tertidur.

Bandar Qq - Dewagalau


Pagi harinya, Bu Denok bangun lebih dulu dan langsung kekamar mandi. Sesaat kemudian aku terbangun dan mendengar guyuran air dikamar dan mengetoknya, Bu Denok pun membuka pintu kamar mandi. Kembali aku terkesima melihat Bu Denok yang telanjang bulat dengan rambut yang basah. Gairahku kembali memuncak, aku masuk dan langsung merangkul tubuh Bu Denok.

“Mandi dulu dong” Pinta Bu Denok manja.

Akupun menuruti ajakannya kemudian mengguyuri tubuhku dengan air. Beberapa saat setelah itu aku menyabuni tubuhku dengan sabun cair. Bu Denok turut membantu, malah dia menyabuni batang kejantananku yang kembali tegak.

Rasa malu Bu Denok telah hilang, dia mengocok-ngocok batang kejantananku dengan lembut. Nikmat rasanya, dan pada saat hampir mencapai klimaksnya aku melepaskan tangan Bu Denok karena belum saatnya. Gantian aku yang menyabuni Bu Denok, mula-mula kedua tangannya lalu kedua kakinya. 

Sampailah kedaerah yang vital, aku berdiri dibelakang Bu Denok terus merangkulnya dan menyabuni payudaranya dengan kedua telapak tanganku. Terdengar Bu Denok mendesah panjang. Usapanku kebawah melewati perutnya hingga sampai keliang senggamanya. 

Kembali aku mengusapnya dengan lembut. Busa sabun hampir menutupi liang senggama Bu Denok, kali ini Bu Denok merintih nikmat. Setelah puas aku mengguyur kedua tubuh kami yang masih berangkulan.

Aku membalikkan tubuhnya dan kami pun saling berhadapan. Bu Denok kemudian mencium bibirku, aku membalasnya dan kemudian terjadi french kiss yang dahsyat. Tangan kami pun tidak tinggal diam, aku menyentuh payudara Bu Denok dan ia menyentuh batang kejantananku yang masih perkasa berdiri. 

Setelah beberapa lama, Bu Denok membimbing batang kejantananku memasuki liang senggamanya. Dengan melebarkan kakinya batang kejantananku kembali memasuki liang senggama Bu Denok. Bu Denok melilitkan tangannya ke leherku kemudian aku menggendong Bu Denok dan menyandarkan ke dinding kamar mandi.

Setelah itu aku kembali menggoyangkan pinggulku yang membuat kejantananku keluar masuk liang senggama Bu Denok. Akhirnya spermaku keluar dan membasahi seluruh dinding liang senggama Bu Denok. Ternayata ia belum mencapai klimaks, untuk membantunya aku menjilati liang senggama Bu Denok. 

Bu Denok sedikit menjerit dengan apa yang kulakukan, Akhirnya Bu Denok mengeluarkan juga cairan dari liang senggamanya dan pas mengenai wajahku. Bu Denok terkulai nikmat, aku mengguyuri kembali tubuh kami berdua.

Aku dan Bu Denok telah selesai mandi, dan telah memakai pakaian masing-masing.

“Lain kali.. aku minta lagi ya sayang” Bisikku sambil menelusupkan tangan ke balik baju kerjanya.
“Atur aja” Desahnya manja.

Kemudian Bu Denok berangkat kerja dan aku pergi kuliah. Pokoknya selama bertugas Pak Jerry keluar pulau, aku menggantikan tugasnya memenuhi hasrat biologis Bu Denok di tempat tidur.

Senin, 26 Oktober 2015

Siksa Membawa Kenikmatan

Siksa Membawa Kenikmatan | SeoJudiKartu




Cerita Sex - Akhir-akhir ini banyak ditentang kekerasan dalam keluarga, khususnya tindak kekerasan suami terhadap isterinya. Akupun sebagai wanita semula juga setuju dengan penentangan itu. Tetapi pengalaman yang kujalani memberikan pandangan lain, aku bisa menerima bahkan amat menikmati kekerasan yang dilakukan oleh suami terhadapku.

Aku ingin membagi pengalamanku ini berdasarkan kenyataan di lapangan, bahwa banyak wanita mengalami kekerasan dari suaminya dan mereka mengadakan penentangan tersebut, baik penentangan itu berupa tindakan untuk minta cerai maupun penentangan itu dilakukan secara psikologis saja, karena ia tidak berdaya. 

Penentangan, khususnya penentangan secara psikologis itu malah membuat si wanita menderita tanpa bisa berbuat apa-apa. Pengalamanku ini perlu kubagi, pertama karena ternyata di balik rasa sakit yang tak terperikan itu, ada rasa nikmat yang jauh lebih nikmat daripada hanya melayani suami secara “normal”. Kedua, ternyata banyak juga pasangan suami isteri yang mengalami masalah kelainan ini, baik si isteri maupun si suami tapi karena tidak memahami permasalahannya, mereka ambil jalan pintas untuk cerai.

Ceiteraku ini kuawali dengan pertanyaan yang kutujukan pada anda, khususnya pada sesama wanita. Pernahkah anda menginginkan setiap saat anda menangis menjerit-jerit kesakitan sambil meronta-ronta berkelojotan dgn tubuh berlumuran darah penuh luka? Sama dgn anda, akupun tak pernah menginginkan, bahkan memikirkan saja tak pernah. 

Tapi nasib membuatku setiap saat membiarkan tubuhku disiksa sampai aku hrs menjerit melolong-lolong kesakitan. Namun akhirnya aku bisa menerima hal itu, bahkan kini aku bisa menikmatinya, kini justru aku yg memintanya bila Ifan tak menyiksaku.

Aku benar-benar menjadi ketagihan untuk mengalami siksaan yang mendatangkan rasa sakit yang tak terperikan, sebab ternyata di balik rasa sakit yang amat sangat, bila sampai ke tahap tertentu ketahanan kita, justru akan kita rasakan kenikmatan yang jauh lebih hebat daripada kalau kita melakukannya dengan normal. 

Juga bagi suami akan mendatangkan rasa nikmat yang jauh lebih hebat saat tubuh si isteri mengejang keras menahan rasa sakit yang hebat, sebab pada saat itulah vagina si isteri akan menjepit kuat-kuat kemaluan si suami; dan tentu saja ini mendatangkan rasa nikmat yang luar biasa bagi suami.

Ketika aku berpacaran dgn Ifan, akupun tak pernah membayangkan akan mengalami nasib spt itu. Ifan penuh perhatian, amat menyayangiku dan selalu memanjakanku. Ia juga punya masa depan yg pasti sbg pengusaha muda yg sukses. 

Ia benar-benar pria idola gadis-gadis, ia amat sempurna tiada cacat sedikitpun, ia amat gagah dan tampan. Akupun hrs bersaing ketat dgn gadis yg lain utk mendapatkannya, karena itu aku amat bahagia bisa bersanding di pelaminan dgnnya.

Aku gemetar ketika hrs tidur berdua dgn Ifan seusai pesta pernikahandi di malam pertama, bagiku malam itu pertama kali aku tidur di samping pria. Tubuhku menggigil dan keringat membanjiri tubuhku ketika tangan Ifan mulai menyelinap di balik gaun tidurku dan dgn lembut meremas susuku. Ingin aku mencegah tangan itu meneruskan meremas-remas daging lembut di dadaku, tapi aku sadar bhw aku kini adalah isterinya. 

Aku pasrah saja ketika tangannya mulai membuka baju tidurku dan dgn pelan melepas satu persatu pakaianku hingga aku tergolek telanjang bulat di sisinya. Sebenarnya aku malu sekali ia melihat tubuhku yg telanjang, tapi aku menyadari bhw Ifan kini adalah suamiku, krn itu kubiarkan saja ketika bibirnya mulai mengulum puting susuku. 

Tubuhku bagaikan kena aliran listrik, panas dingin nggak karuan ketika lidahnya mulai menari-nari di susuku, menyebabkan rasa nikmat yg belum pernah kurasakan, apalagi ketika kemudian tangan Ifan mulai membelai-belai dan mengelus-elus kemaluanku dgn tetap mulutnya mengulum kedua susuku bergantian. 

Gairah mulai menggelora dalam tubuhku dan aku secara mulai menyambut cumbuan Ifan. Tak ada lagi rasa malu, gejolak dlm diriku membuatku lupa segalanya, kupagut dan kupeluk tubuh Ifan dgn gemas dan liar, dan baik mulut maupun tangan Ifanpun semakin liar menjelajahi bagian-bagian yg peka di tubuhku membuat gairahku semakin menggelora dan aku sudah menantikan saat-saat yg membahagiakan ketika Ifan mulai menindih tubuhku dan salah satu bagian tubuh Ifan mendesak dan menekan ingin menerobos tubuhku. 

Aku semakin liar dan ganas memagut dan memeluk Ifan, seolah-olah ingin semua tubuhnya kulumat dan kumasukkan ke tubuhku.Tiba-tiba Ifan mengeluh lalu lemas terkulai di atas tubuhku. Nafsunya yg tadi menggelora membakar dirinya padam seketika meski ia tetap memelukku erat-erat. 

Aku yg menginginkan lebih banyak lagi darinya seketika ikut mendingin dan kembali spt semula. Ifan dgn lemas turun dari atas tubuhku lalu terpekur diam. Ifan mohon maaf atas perlakuannya pdku. Aku bisa memahami sepenuhnya bila ia masih mengingat Ida, karena itu aku belai-belai kepalanya dng penuh kasih.

Ternyata kejadian tsb tidak hanya sekali itu saja. Aku tetap amat bahagia mendampinginya, kecuali dlm satu hal, setiap dia mau melakukan fungsinya sbg suami pasti terhenti di tengah jalan.Satu kali dua kali aku masih bisa menerimanya tapi setelah berkali-kali gagal sebenarnya di hati kecilku mulai tumbuh kekecewaan dan kekesalan juga, namun semua hal itu kupendam dalam-dalam dan tak kuperlihatkan betapa kecewa hatiku ketika gelora nafsu sedang bergolak naik tiba-tiba hrs dipadamkan. 

Aku tetap berusaha tampak bahagia, apalagi Ifan semakin memanjakan dan memperhatikan aku.Semua hal hampir tak boleh kukerjakan, dia sendiri yg mengerjakan. Aku benar-benar tak tahu apa yg hrs kuperbuat setiap Ifan memohon maaf pdku setiap kegagalannya. Meski sebulan sudah aku menjadi pengantin, aku masih tetap perawan.Malam itu kami menonton video porno di kamar tamu dan adegan-adegan di film itu membuat kami terangsang. 

Satu persatu pakaian kami lepas dari tubuh kami dan kami bercumbu di sofa di ruang itu. Tapi kembali ketika sedang mendaki ke puncak kenikmatan, Ifan melemas lagi. Entah siapa yg memulai, kami bertengkar dan itulah pertengkaran pertama kami sejak kami pacaran. Pertengkaran semakin hebat dan membuat kami lepas kendali sampai dia membentak.

“Ika kupukul kau kalau nggak diam!”

Dibentak spt itu bukan membuatku takut, malah aku menantangnya.

“Coba ayo pukul … ayo pukul …”

 kataku sambil mendekatkan diri

“Ika … kuperingatkan kau …” 

Bandar Ceme - Dewagalau 


bentaknya tampak ia benar-benar menahan marah yg luar biasa, wajahnya merah padam, matanya melotot dan giginya berkerot-kerot, tapi aku nggak takut sama sekali, malah membuatku lebih berani. Mungkin kekecewaan yg selama ini kucoba untuk kusembunyikan akhirnya meledak juga.

“Ayo kalau kau lelaki, pukul aku … wong kau selama ini terbukti bukan lelaki …”

Perkataanku belum selesai ketika Ifan tiba-tiba merenggut cambuk hiasan yg menempel di dinding ruang tamu dan seolah aku nggak percaya melihatnya, ia mengangkat cambuk itu dan

“Auuuughh…” 

aku melolong keras sekali, tubuhku terasa terbelah menjadi dua oleh rasa sakit yg tak pernah terbayangkan olehku ketika cambuk itu mendera tepat di dadaku, melibas kedua susuku terus melingkar ke punggungku. Kakiku terasa lemah dan tak sanggup menopang tubuhku, aku jatuh berlutut di karpet. 

Belum sempat aku mengambil nafas kembali aku menjerit sekuat-kuatnya ketika Ifan kembali menyabetkan cambuk di tangannya ke punggungku. Gemeretak gigiku menahan rasa sakit yg menyeruak sampai ke seluruh tubuhku sampai kepala ini seolah meledak merasakan rasa sakit yg tiada tertahankan ketika kembali cambuk itu mendera kedua susuku terus melibas melingkar memotong tubuhku. 

Limbung aku seketika merasakan rasa sakit yg tiada terperikan itu dan aku jatuh terguling di karpet. Tampaknya kemarahan Ifan belum turun, belum sempat aku mengambil nafas, kembali punggungku serasa terbelah oleh rasa sakit yg seolah meledakkan kepalaku.

Aku terus berusaha menghindar dgn berguling-guling di karpet sambil meringkukkan tubuhku sekecil mungkin tapi Ifan terus mengejar dan terus menyabetkan cambuk itu berkali-kali.

“Aadduuuhhh … huuhuuhuu … aaampuunnnnn … hhentikkaannnnn ….aaaaaaddduhhh … sssaaaakitttttt … hhhhhuuuhhhuuuhhuuuuu …. aaampuuunnnnn ….” aku memohon-mohon pada Ifan utk segera menghentikan mencambuki diriku.

Tiba-tiba Ifan membuang cambuk di tangannya dan kukira selesai, tetapi ternyata tidak. Ifan lalu menubruk tubuhku yg meringkuk di lantai, ditelentangkannya tubuhku dengan kasar lalu ia menindihku dan tangannya dgn keras meremas kedua susuku yg luka-luka akibat sabetan cambuk tadi. Aku merintih dan menangis kesakitan, rasa sakit akibat cambukan belum habis kini ditambah dgn Ifan yg dgn buas dan liar mengulum dan menggigit kedua puting susuku.

Aku kembali menjerit-jerit kesakitan, tapi Ifan malah semakin ganas meremas, menggigit dan entah apalagi yg dilakukan pd diriku. Ketika kurasakan giginya mengigit puting susuku kuat-kuat, aku meronta-ronta sambil menangis karena rasa sakit yang tak tertahankan lagi, sampai aku ingin pingsan saja.

Dgn kasar direnggangkannya kedua pahaku dan kembali terasa milik Ifan berusaha menembus lubang kemaluanku. Ifan dgn liar dan ganas menekankan miliknya sambil tetap menggigit susuku membuat aku menangis menjerit-jerit kesakitan. Ifan bukannya reda melainkan bertambah ganas dan kuat menekankan miliknya dan … krekkkkk … terasa ada sesuatu yg robek dlm lubang kemaluanku.

Aku menjerit pelahan, rasa pedih terasa dlm kemaluanku dan aku mendorong Ifan, tetapi apalah arti tenagaku melawan Ifan yg spt kesetanan itu. Semakin aku mengaduh kesakitan ia malah semakin kuat dan cepat mengayun-ayunkan pantat dan bagian bawah tubuhnya membuat miliknya bergerak keluar masuk lubang kemaluanku. 

Rasa nikmat mulai menyeruak di sela-sela rasa sakit yang masih mendenyut-denyut di seluruh tubuhku, dan rasa nikmat itu semakin lama semakin nyata kurasakan hampir mengalahkan rasa sakit yg mendera seluruh tubuhku.


Kupagut tubuh Ifan yg masih terus menindih tubuhku sambil meremas dan mengulum kedua susuku. Ifan semakin liar dan ganas menggerak-gerakkan miliknya dalam rongga tubuhku membuat diriku melayang-layang di awan kenikmatan sampai pd suatu saat ia merangkulku sekuat-kuatnya sambil membenamkan miliknya sedalam mungkin dan menggerakkan secepat mungkin menyebabkan rasa nikmat yg belum pernah kurasakan. 

Aku melenguh dan memagut dia sekuat-kuatnya dan kami larut dalam kenikmatan yg tiada tara. Namun bersamaan dengan itu, rasa sakit yang amat sangat kembali menyeruak ke otakku sampai kepalaku terasa mau meledak ketika pada puncaknya nikmat itu Ifan menggigit puring susuku kuat-kuat.

Tubuhku meronta dan mengejang menahan rasa sakit yang amat sangat dan tiba-tiba terasa vaginaku menjepit milik Ifan dengan kuat dan Ifan kesulitan menggerakkan miliknya dalam rongga tubuhku. Namun tampaknya Ifan justru merasakan puncak kenikmatan dan terasa cairan hangat menyemprot dari milik Ifan menjadikan rasa sakit yang kurasakan bercampur rasa sakit yang tak terhingga.

Hampir pingsan aku merasakannya. Tubuhku lemas seolah tak bertenaga. Rasa sakit yang mendenyut-denyut menyadarkanku dan kutolakkan tubuh Ifan yang masih menindihku. Berbagai perasaan mengaduk-aduk dalam diriku. Aku marah, terkejut, menyesal sekaligus juga senang bercampur aduk. 

Marah sebab aku tak menyangka Ifan memukuliku seperti itu. Terkejut, aku tak menyangka Ifan yang biasanya menyayangiku tiba-tiba berubah menjadi setan iblis yang berbuat sekasar itu. Menyesal, mengapa Ifan sampai berbuat seliar itu memperkosaku, padahal aku menginginkan diperlakukan dengan lembut dan hangat. Tapi aku juga senang, ternyata Ifan nggak impoten seperti yang kutakutkan; dan aku juga senang bisa mempersembahkan keperawananku pada suamiku.

Bandar Blackjack - Dewagalau


Aku menangis tersedu-sedu, tidak saja oleh berbagai rasa yang mengaduk-aduk perasaanku seperti yang kuceriterakan di atas, tapi juga oleh rasa sakit yang mendenyut-denyut di sekujur tubuhku. Rasa sakit seolah-olah menyentak-nyentak dari bekas cambukan di punggung dan dada, dan bekas gigitan Ifan di puting susuku. Juga ada rasa perih di selangkanganku.

Rupanya isak tangisku menyadarkan Ifan yang masih tergolek lemas setelah kutolakkan dari atas tubuhku. Dengan cepat ia memelukku dan memohon-mohon maaf padaku sambil ikut menangis.

Semula aku masih marah dan kutolakkan tangannya yang mau memelukku. Tapi Ifan benar-benar menangis kaya anak kecil, ia memohon-mohon maaf dan berjanji tak akan berbuat kasar lagi kepadaku. Akhirnya luluh juga hatiku dan ketika entah ke berapa puluh kalinya ia memohon maaf, dengan pelan kuanggukkan kepalaku dan kubiarkan tangannya memelukku. 

Ia amat senang aku memaafkannya, dengan cepat ia bangkit dan menuju kotak P3K. Diambilnya obat dan kapas. Ifan kembali menjadi Ifan yang selama ini kukenal, kembali lembut dan penuh kasih sayang. Dengan masih memohon-mohon maaf serta berjanji tak akan memukulku diambilnya handuk dan dibasahinya dengan air hangat. Disekanya tubuhku yg penuh dengan bilur-bilur, beberapa di antaranya sampai mengeluarkan darah.

Aku merintih ketika luka-luka bekas cambukan itu kena handuk basah. Rasa pedih yang amat sangat menyentak-nyentak sampai ke otakku, apalagi setelah diusap dengan obat luka yang amat pedih kurasakan. Aku tidak hanya merintih, tetapi menangis sambil mengaduh kesakitan.

Tiba-tiba kurasakan tangan Ifan gemetar dan matanya yang tadi lembut berubah menjadi ganas, kembali seperti ketika tadi ia memperkosaku. Aku semakin meringis kesakitan sambil mengaduh keras-keras ketika tangannya yang mengusapkan obat yang amat pedih ke susuku tiba-tiba mencengkeram kedua susuku dengan kuatnya. 

Aku meronta-ronta tapi Ifan tampak sudah lupa diri. Dengan kasar kedua tanganku yang berusaha menutupi kedua susuku dipegangnya dan ditekan ke atas kepalaku. Dengan ganas dan liar kembali bibirnya mengulum puting susuku yang masih sakit, membuat kumenjerit kesakitan.

Jeritanku, rontaanku malah membuatnya semakin ganas, tidak saja ia mengulum kedua puting susuku, namun ia menggigitnya keras-keras membuatku semakin keras menjerit-jerit kesakitan sambil meronta-ronta berontak ingin lepas dari tindihannya. 

Namun Ifan justru semakin liar dan ganas. Kepalanya terus turun dari dadaku, menjelejahi perutku, lalu aku tak tahu bagaimana melukiskan rasanya ketika kurasakan lidahnya menyentuh kelentitku, sementara kedua tangannya kini meremas-remas susuku sekuat-kuatnya. Rasa nikmat bercampur rasa sakit membuatku semakin meronta-ronta.

Aku semakin menjerit-jerit histeris, nggak tahu apakah jerit kesakitan atau jerit kenikmatan ketika kurasakan kelentitku dihisapnya kuat-kuat sehingga hampir seluruhny masuk ke dalam rongga mulutnya dan kurasakan lidahnya bergerak licah kesana-kemari mempermainkan kelentitku yang ada dalam mulutnya di sela-sela gigi-giginya. 

Namun kemudian aku benar-benar menjerit kesakitan, bahkan sampai meraung-raung ketika kurasakan gigi-gigi Ifan menggigit dan mengunyah kelentitku. Aku benar-benar merasakan rasa sakit yang amat luar biasa. Semakin aku menjerit semakin buas pula Ifan menggigit dan mengunyah kelentitku.

Aku sudah hampir pingsan ketika Ifan menghentikan gigitan dan kunyahannya di kelentitku. Ia kembali berubah menjadi binatang buas yang mengerikan. Dengan kasar direnggangkan kedua pahaku dan kembali ia menindihiku sambil memasukkan miliknya dalam kemaluanku. 

Aku meronta-ronta sekuat-kuatnya karena sambil menggerakkan miliknya keluar masuk dalam lubang kemaluanku, kini mulut Ifan kembali menggigit dan mengunyah-ngunyah kedua puting susuku secara bergantian. 

Semakin kuat aku meronta, semakin keras aku menjerit dan menangis kesakitan, Ifan semakin ganas pula sampai akhirnya terasa tubuh Ifan menekan tubuhku sekuat-kuatnya dan giginya yang tajam terdengar bergemeletuk menggigit puting susuku sampai aku meronta sekuat-kuatnya dan terasa kembali cairan hangat menyemprot ke dalam lubang kemaluanku. Ada rasa nikmat tapi rasa nikmat itu masih terkalahkan oleh rasa sakit yang tiada tara.

Kami tergolek lemas, tenagaku benar-benar sudah habis, tak kuasa aku menggerakkan ujung jariku saja. Kubiarkan Ifan tetap terbaring menindihi tubuhku. Aku menangis tersedu, tidak saja oleh rasa sakit yang masih mendenyut-denyut dari bekas cambukan punggungku dan bekas gigitan Ifan di kedua susuku, melainkan lebih oleh rasa sakit hati dan kecewa. Betapa Ifan yang kucinta sepenuh hati dan ingin kuserahkan segenap hidupku, jiwa ragaku, kok tega berbuat sekasar itu pada diriku.

Mendengar tangisku, Ifan tampaknya tersadar dan dengan cepat meloncat dari atas tubuhku. Aku bisa bernafas lega sebab ia sudah tidak menindihku lagi. Ifan tampak melotot memandangi tubuhku yang telanjang dan darah meleleh dari kedua puting susuku yang luka akibat gigitannya. Ifan tersadar dan kembali menangis memohon-mohon ampun dan aku yang masih lemas tak mampu menolak tangannnya yang mengusap-usap kedua putingku yang luka,meski sebenarnya aku ingin marah dan tak sudi disentuh. 

Tapi mulutku tak bisa menahan aduhanku ketika Ifan membersihkan darah yang mulai mengering dari puting susuku. Mula-mula Ifan dengan hati-hati membersihkan darah dari sekitar puting susuku, namun lama-lama ketika mendengar rintih kesakitan dari mulutku, tangan Ifan semakin kuat mencengkeram kedua susuku. Pasti saja aku merintih lebih keras sambil meronta-ronta.

Selanjutnya Ifan semakin ganas meremas-remas dan mencubit puting susuku, bahkan memilin-milin puting susuku yang luka itu sehingga terasa darah kembali merembes keluar membasahi tangan Ifan. Akibatnya aku semakin meronta-ronta dan rtintihan kesakitanku semakin keras dan Ifanpun semakin liar, semakin ganas dan semakin buas memperlakukan aku yang sudah nggak bisa melawan lagi. 

Ketika rasa sakit tak bisa kutahan lagi, aku meronta-ronta sambil menjerit-jerit kesakitan tetapi justru hal itu semakin membuat Ifan semakin buas dan liar. Ditelentangkan kembali aku yang berusaha telungkup agar kedua susuku selamat dari remasannya, lalu direnganggkannya kedua pahaku dan ia sudah di atas tubuhku. 

Dengan ganas dan liar ia kembali menyetubuhiku, sambil mulutnya mengulum, menggigit dan mengunyah kedua susuku secara bergantian. Aku hanya bisa meronta dan menjerit kesakitan, namun Ifan semakin liar dan cepat sampai akhirnya ia mengigit putingku sekuat-kuatnya ketika ia mencapai puncaknya dan akupun menjerit sekeras-kerasnya karena menahan rasa sakit yang tak terperikan.

Rasa sakit yang amat sangat menjadikan tubuhku mengejang dan akibatnya kembali milik Ifan terjepit kuat oleh vaginaku yang menegang dan mengencang ketika aku menahan rasa sakit yang amat sangat. Ifan kesulitan menggerakkan miliknya karena kuatnya jepitan vaginaku. 

Namun hal itu justru membuat Ifan semakin kuat menekan dan menarik miliknya sambil dari mulutnya yang menggigit puting susuku juga keluar erang kenikmatan, sampai akhirnya kembali terasa cairan hangat menyemprot ke dalam vaginaku. Rasa sakit yang amat sangat membuat pandanganku gelap dan aku tak ingat apa-apa lagi.

Aku tersadar dari pingsanku ketika kurasakan rasa sakit berdenyut-denyut dari dadaku dan ketika kubuka mataku, Ifan tampak membersihkan darah yang semakin banyak merembes membasahi kedua bukit susuku. Mendengar desis kesakitanku, terasa tangan Ifan meremas susuku semakin kuat. Hal ini membuat aku kembali mengerang kesakitan sambil meronta.

Tampaknya erang kesakitanku kembali merangsang Ifan, ia semakin kuat meremas-remas susuku, lalu kembali ia mengulum, mengunyah dan menggigit kedua susuku, menjadikan aku kembali menjerit-jerit kesakitan. 

Namun hal ini justru membuat Ifan bertambah ganas dan kembali ia dengan liar dan ganasnya naik ke tubuhku dan aku hanya bisa menangis menjerit-jerit kesakitan ketika ia mengayun-ayunkan pantatnya di atas tubuhku dan mulutnya mengunyah dan mengigiti kedua puting susuku. Kembali rasa sakit yang amat sangat membuat tubuhku mengejang menahan rasa sakit dan kembali milik Ifan terjepit vaginaku sekuat-kuatnya sampai ia nggak bisa dengan mudah menggerak-gerakkan miliknya keluar masuk milikku.

Aku masih tergolek lemas tak kuasa menggerakkan sedikitpun semua anggota tubuhku ketika Ifan terpaksa berangkat ke kantor karena cuti bulan madunya habis. Ia harus bertugas ke luar daerah selama seminggu. Ia tampak amat khawatir dan sebenarnya tak ingin pergi, tapi bossnya di kantor telah meneleponnya. 

Ketika akan berangkat kembali Ifan menangis tersedu-sedu meminta maaf. Meski di satu sisi hatiku aku amat marah dan menyesal kawin dengannya yang memperlakukan aku dengan liar dan ganas sampai aku menderita rasa sakit yang tiada terperikan, namun di sisi relung hatiku yang lain aku tetap mencintainya dengan tulus. 

Akhirnya aku menganggukkan kepala sambil membelai-belai kepalanya yang tersedu-sedu di dadaku, ketika ia kembali dengan pandangan mata yang amat memelas meminta maaf. Aku berusaha tersenyum ketika menganggukkan kepalaku, dan mendorongnya untuk pergi bekerja. Akhirnya baru Ifan mau berangkat ke kantor.

Sepeninggal Ifan aku tercenung sendirian. Tubuhku masih sakit semua stlh semalaman nggak tahu berapa kali kami bercinta. Di satu sisi aku merasa bahagia krn ternyata Ifan tidak impoten seperti yg selama ini kupikirkan karena sebulan setelah pernikahan aku masih perawan; tapi di sisi lain aku mulai khawatir mengapa gairah Ifan justru terangsang ketika aku merintih kesakitan dan semakin ganas dan liar ketika aku menangis meronta kesakitan? Jangan-jangan … aku tak berani meneruskan andai-andai dalam pikiranku.

Bandar Ceme - Dewagalau


Kusibakkan selimutku dan aku yg masih telanjang dgn tertatih-tatih berjalan menuju ke muka cermin. Rasa sakit yg amat pedih terasa di selangkanganku. Ketika aku berdiri di muka cermin, tampak masih ada darah mengering di pangkal pahaku.

Melihat itu aku bangga sebab aku bisa mempersembahkan keperawananku kepada Ifan yg amat kucintai. Tapi ketika mataku terarah ke bayangan tubuhku yg telanjang, aku bergidik ngeri. 

Masih terlihat jelas bilur-bilur merah tua malang melintang di sekujur tubuhku bekas cambukan tadi malam; dan juga tampak sekali gigi-gigi Ifan masih membekas di kedua puting susuku dan daerah di sekitarnya. Luka-luka itu masih merembeskan darah dan rasa sakitnya masih mendenyut-denyutterasa amat menyakitkan.

Kembali aku bertanya-tanya. Seribu satu pertanyaan masih berputar di kepalaku. Mengapa Ifan justru terangsang hebat stlh mencambuki aku? Mengapa ketika aku meronta sambil menangis menjerit-jerit kesakitan justru Ifan menubrukku dgn ganas dan akhirnya berhasil merobek selaput keperawananku? 

Mengapa setelah itu ketika membelai tubuhku yg sakit dan aku merintih kesakitan justru gairah Ifan bangkit lagi? Mengapa Ifan semakin ganas menggigiti kedua susuku sampai aku meronta-ronta dan menangis kesakitan? Apakah Ifan …? Pertanyaan itu sengaja tak kuteruskan sebab aku takut sendiri akan jawabannya.

Dgn malas aku kembali berbaring sambil mengambil roti lapis yg tadi sudah disiapkan Ifan ketika mau berangkat. Ketika memegang roti panggang lapis daging dan susu hangat di gelas, aku teringat Ifan, betapa dia masih menyempatkan menyiapkan makanan itu untukku? Betapa dia penuh penyesalan sampai memangis ketika gairahnya telah mereda dan melihat tubuhku yg penuh luka? 

Namun kenapa ia kembali menjadi ganas dan liar begitu mendengar rintih kesakitanku? Apakah aku hrs mengalami spt ini setiap melayani Ifan? Kembali aku nggak berani menjawab. Aku takut membayangkan kenyataan yang terbentang di hadapanku.