Kamis, 10 Desember 2015

Dita Merem Melek

Dita Merem Melek | Agen Poker Online Terpercaya


Aku merupakan karywan pertama Perusahaan yang aku tempati sekarang, dimana tempatku bekerja adalah tempat pembuatan saos yang berada di pekalongan aku diposisikan sebagai marketing sesuai dengan ijazahku lulusan ekonomi akutansi, setelah beberapa tahun aku bekerja disini aku dinaikkan pangkatku menjadi supervesior yang mana tentunya aku mempunyai banyak staff dan kebanyakan dia adalah perempuan.





Dalam merekrut karyawan tentu aku yang banyak menentukan kriteria seorang calon karyawan. Yang pertama adalah menarik, diutamakan bila cantik. Pendidikan terendah SMA, tinggi badan terendah 155 cm dan tentunya tidak terikat oleh perusahaan manapun.

Mau bekerja full time bila perusahaan membutuhkan dan bersedia bertugas ke kota lain bila order berlimpah. Kriteria itu aku kirimkan ke sebuah surat kabar terkenal dan hasilnya banyak sekali pelamar yang berminat bahkan melebihi dari kriteria yang aku butuhkan, mereka sarjana semua seperti aku.

Di awal berdirinya perusahaan hanya membutuhkan sepuluh karyawan, satu diantaranya seorang laki-laki. Karyawan laki-laki aku kirim ke luar kota untuk merintis bagi masuknya order baru. Ternyata pilihanku tidak salah, karyawanku itu ternyata pandai menarik order sehingga perusahaan kebanjiran order.

Satu dari sembilan staffku bernama Shariffa dipanggil dengan Iffa. Selain cantik, kulitnyapun mulus dengan sorot mata yang menawan sehingga membuat jantungku berdegub-degub bila dekat dengannya.

Dia sudah bersuami, suaminya kini tergolek lemah dirumah akibat kecelakaan yang dialaminya sehingga membuatnya lumpuh. Santunan yang diberikan dari perusahaan suaminya berkerja habis untuk berobat suaminya.

Kejadian itu sudah hampir setahun yang lalu, lambat laun kondisi keuangan mereka menipis itulah yang membuatnya harus mencari kerja untuk menghidupi keluarganya, merawat suaminya diserahkan kepada ibu mertuanya.

Untung mereka belum dikaruniai anak, sehingga Iffa leluasa untuk mencari kerja, meninggalkan sang suami tercinta dalam perawatan ibundanya. Pengalaman hidupnya diceritakan kepadaku ketika kami berhenti untuk makan di rumah makan dalam perjalanan menuju ke Jogja.

Hanya kami berdua, sopir yang kami pakai minta ijin karena keponakannya akan disunat. Di Jogja kami langsung menemui beberapa klien kami untuk melakukan transaksi, kalau dihitung ada puluhan toko yang berhasil kami tambah ordernya hal yang sangat luarbiasa bagi karierku.

Kami menginap disebuah losmen di sekitar daerah Maerokoco di jalan Jogja-Magelang. Mobil kijang yang kami pakai aku belokkan masuk ke halaman parkir losmen, untuk itu perusahaan mempercayakan aku membawa salah satu dari beberapa mobil terbaiknya.

“Mas satu kamar saja,” kata Dita kepadaku ketika kami hendak keluar dari mobil.

“Kenapa?” Seraya aku melirik kearahnya, tampak dia tersenyum sambil menyibak rambutnya yang tergerai.

“Biar ngirit, uang kamarnya bisa aku belikan obat untuk suamiku.”

“Oke, baiklah kalau begitu istri yang baik.”

“Ah, jangan begitu dong,” sambil mencubit pahaku.

“Eit, jangan ketengah-tengah lho,” aku menggoda. “Ih mas nakal ah.” Gurauanku yang hanya sesaat ternyata ditanggapi lain oleh Dita, tanpa sepengetahuanku rona wajahnya berubah memerah. Wajar, hampir setahun tubuh mulus itu sudah tidak terjamah oleh suaminya.

Lalu kami keluar dari mobil menuju ke resepsionis dan mendapat kamar dengan satu ranjang. Seorang belboy atau pelayan mengantar kami dan membukakan pintu.

“Masih ada yang bisa saya bantu pak?”

“Tidak,” seraya aku mengulurkan satu lembar uang sepuluh ribu,

“terimakasih mas” kataku.

“Saya juga terimakasih pak,” kata pelayan itu seraya menerima uang yang aku sodorkan.

“Aku mandi dulu ya?”

“He-eh,” gumamku sambil mengeluarkan beberapa pakaian untuk diletakkan kedalam lemari. Rencananya kami di Jogja selama dua hari. Ketika aku menoleh kearah kamar mandi, ternyata pintunya tidak ditutup selang beberapa saat kemudian terdengar dia memanggilku,

“Mas” Berlahan aku beranjak kearah suara dari dalam kamar mandi, ‘DEG..!’ jantungku serasa mau meloncat ketika aku sampai di pintu tampak Dita hannya mengenakan beha dan celana dalam berwarna merah saja.

Mataku melotot memandang lekat-lekat kepayudaranya yang masih tertutup beha ukuran 34, menggantung indah. Sementara pelan mataku menyapu kebagian bawah tampak selangkangannya menonjol berbalut celana dalamnya.

Dibaliknya tersebunyi rambut-rambut tebal dan dengan malu-malu Dita menggeser salah satu kakinya sehingga tampak belahan tempeknya samar-samar.

“Mandi bareng mas”

“Y-Ya,” kataku gugup.

“Koq diem saja, lepas dong.” Seperti kerbau dungu, aku melepas pakaian yang aku pakai.

“Ah-h!” Dita terpekik ketika aku melepas celana dalamku, tampak kontolku tegak menjulang. Suatu anugerah yang tidak aku bayangkan, aku memiliki kontol berukuran long size.

Mendekati angka 19.5 cm dari pangkal atasnya ditambah bundar bagian bulat kepala kontolku yang aduhai. Rambut didadaku yang merambat turun menghiasai seputar pangkal kontolku. Kepalanya yang bundar besar tidak dapat menutupi bahwa memang aku memiliki kontol seukuran pisang ambon besar, sungguh duakali ukuran standar yang tinggi badanku 170 cm dan berat 62.5 kg.

“Ahhh..!” Dita bergumam lirih didalam kamar mandi berukuran 2×2 meter ketika aku masuk mendekat.

“Segede ini mas punyamu,” mukanya memerah menahan nafsu birahi, napasnya mulai memburu memperlihatkan sepasang payudaranya yang berukuran 34B bergetar-getar.

Terasa kelembutan telapak tangannya ketika dia menggenggam batang kontolku, “tidak sebanding dengan suamiku, hhmm..” kedua tangannya meremas lembut hingga bagian kepala kontolku.

“Bagaimana?” Sambil aku mengusap rambutnya, sementara pandangan Dita tidak lepas dari kontolku yang dirmasnya dengan lembut. “Gedhee sekalee gito loh!” Aku mengangkat wajahnya, dia menatap tajam kearahku.

Api birahi terlihat dari sorot matanya yang nanar tajam menusuk kedalam kornea mataku. Aku tidak perduli, aroma parfum dan dan bau keringat sudah bercampur jadi satu. Untung saja mobil yang kami pakai ber-AC dan berparfum sehingga kami tidak bermandi keringat ketika kami putar-putar Jogja untuk menemui klien kami.

Sekian lama semenjak suaminya menderita lumpuh, Dita menghabiskan hari-harinya untuk mengurus suaminya. Kelumpuhan yang menimpanya membuat suaminya tidak mempu menjalankan tugasnya sebagai seorang suami dan laki-laki.

Kini, kerinduan akan sentuhan seorang laki-laki menohok jantungnya. Dita kuatir dan takut keluguan dan kealimanku dimatanya akan menolak ajakannya. Wow justru sebaliknya, dengan semangat juang tinggi dan birahi yang meledak-ledak aku tidak menyia-nyiakan kesempatan ini.

“Hhmm.. ssstttt..” aku menjatuhkan bibirku dan mendapat sambutan hangat dari Dita. Sebentar dia melepaskan genggaman kontolku dan melingkarkan naik kedaua tangannya kearah leherku.

Kedua tanganku merayap diseputar punggungnya sementara bibir kami saling berpagutan, lidah kami saling meliuk-liuk. Sementara kontolku yang besar menekan lembut selangkangannya. “Hm-mmh…!!!” Dita melenguh, napasnya terasa hangat menerpa ujung hidungku ketika aku menekan pinggulku ke selangkangannya sehingga batang kontolku menekan permukaan tempeknya.

Pandangannya gelap, besar, sangat besar kontol ini pikirnya penuh birahi. Kontolku meliuk-liuk dalam jepitan pinggulku dan selangkangannya membuat keluar cairan bening dari kepala kontolku. Kami terus berpagutan, lidah kami meliuk-liuk penuh nafsu, sementara air liurku dan air liurnya sudah bersatu membasahi kedua mulut kami.

Tak ketinggalan kontolku melesat kesana-kemari di permukaan celana dalamnya. Aku berusaha melepas tali beha yang dipakainya, tersibak sepasang payudaranya dan aku meremasnya dengan lembut.

Ciumanku merayap turun kepermukaan puting susunya yang aku jepit menggunakan sepasang bibirku. “Sssttt..tt..mmaa… sss..” dia mencengkeram kedua pundakku.

Sementara bibir dan hidungku asyik di sepasang payudaranya, telapak tangannku berlahan menarik turun celana dalamnya. Iffa hanya bersandar pada bak air kamar mandi dengan muka dan mulutnya mendesah.

“Terruss.. sss… masss..!!” Ciumanku merayap turun, cairan keluar dan meyayap turun dari liang vaginanya ketika lidahku mulai bermain di klentitnya.

“Ah..hh..nikk..kk..mm..aat..!!!” Dita terdongak seraya sedikit membungkuk manakala klentitnya dengan menggunakan bibirku aku tarik dengan lembut keluar lalu ujung lidahku menjilat sambil memutar-mutarnya.

“Pppp.. fff… fff….!!!” Crot..crot..crot…!! Dita terkulai sambil memelukku dia sudah orgasme. Tangannya menuntunku keatas ranjang, menyuruhku duduk ditepian dengan dia berlutut dan tangannya menggenggam kontolku sesaat lidahnya mulai berputar-putar di kepala kontolku yang telah mengeluarkan cairan.

Berlahan genggamannya bergerak naik turun mengocok-ngocok kontolku yang berkilat-kilat akibat cairan birahinya.

“Ahh-h” Melihat aku terengah-engah Dita menghentikan kocokannya, kontolku sampai memerah dan berdenyut-denyut.

“Dimasukkan mas,” Dita bergegas naik keranjang dan terlentang, membuka kedua kakinya lebar-lebar sehingga tempeknya membuka bagaikan buah durian yang disibak.

“Ahh-h,” dengan bimbingannya kontolku mengarah kedinding vaginanya. Kepala kontolku menyeruak masuk menembus hingga pangkal vaginanya. Hangat, licin dan berdenyut-denyut mencengkeram batang dan menjebak dalam-dalam kepala kontolku.

Dengan memeluknya erat aku mempermainkan pinggulku naik turun. “Sssttt.. ttt… nnni.. kk..mmaatt… sssstt..” Dita turut memutar-mutar pinggulnya, sementara kontolku yang berukuran jumbo tercengkeram erat oleh vaginanya yang biasanya dimasuki oleh kontol suaminya yang berukuran standar.

Dita menekan kuat pinggulku dengan kedua tangannya tapi karena panjangnya 19.5 cm maka 3/4 saja yang masuk, itupun Dita sudah sangat-sangat merem-melek. Luar biasa kontol yang aku miliki, kesombongan melintas dalam benakku.

Tapi yang namanya pengalaman merupakan modal yang utama selain besarnya kontolku. Tidak sampai lima belas kali sodokan tiba-tiba crot-crot-crot aku menembakkan spermaku, melihat itu Dita tidak tinggal diam. Kedua kakinya menelikung dipinggulku, mendekap sangat erat dan crot-crot-crot diapun orgasme untuk yang kedua kalinya.

“Ennaaakk..gila!”

“Mau telpon siapa?” Kataku disuatu pagi ketika kami merencanakan untuk kembali ke Pekalongan.

“Telpon rumah,” katanya dengan manja sembari tiduran di ranjang losmen. Mataku memandang payudaranya dalam balutan kaos berwarna biru ketat.

Dibagian pusarnya terlihat dan resletting celana jeans-nya tidak dikancingkan sehingga celana dalamnya yang berwarna biru terlihat sangat kontras dengan warna kulit tubuhnya yang putih mulus.

“Kangen?” Selidikku dengan nadah cemburu, aneh padahal toh dia akan menelepon suaminya. Suaminya yang sah dan aku cemburu justru akulah yang aneh, tapi itu tidak aku sadari. Aku menelan ludah manakala tanpa sengaja Dita menggeser badanya sehingga resletting celananya semakin melorot sampai kedasar, hanya tinggal menunggu ditarik turun maka terbukalah semuanya.

“Mau bilang kalau aku pulang tiga hari lagi,” dia melirik manja kearahku dan mungkin dengan sengaja sedikit menurunkan belahan celananya dan telapak tangan kirinya merayap kepermukaan celana dalamnya yang berwarna biru, lalu terdengar dia berbicara dengan seseorang di telepon genggamnya.

Aku hanya melongo, pintu lemari yang hendak aku buka aku tutup kembali. “Pa, masih ada orderan yang harus aku selesaikan nih.

Aku balik tiga atau empat hari lagi, gimana kabarnya?” Dita diam sedang mendengar suara balasan dari HP-nya.

“Aku hati-hati deh pa, da.” Lalu dia memandang kearahku, aku hanya melongo didepan lemari.

“Tiga hari lagi kita pulang, oke?” Dita melepas kaos yang dipakainya beserta behanya, membuat payudaranya yang bulat kenyal terbuka, sementara celana jeansnya sudah hampir 1/3 melorot kebawah.
“Ayo, kita mulai lagi” Aku merayap di dadanya dengan tidak mengenakan pakaian selembar pun, kami berdua kembali berbugil ria di pagi itu.

“Uggh..hh..!”

“Auww..!”

“Massuu.. kk..” Seraya aku menyodokkan pinggulku.

“Ssstt.. ttt.. nnii..kkk..mm..m..aaat..” Sodokan dari pinggulku ke liang vaginanya alhasil membuatnya kelojotan, cairan yang keluar dari vaginanya sebagai pelicin karena sekali lagi hanya 3/4 kontolku yang tertancap di dalam vaginanya.

Bukan erangan kesakitan melainkan erangan kenikmatan yang keluar dan akan berulang-ulang terdengar sampai beberapa hari kedepan. Satu lagi kelebihanku adalah ternyata aku mampu melakukan orgasme sampai tiga kali, ini yang jarang dimiliki oleh laki-laki lain. Kelebihanku inilah yang dimanfaatkan oleh Dita sehingga membuatnya mana tahaann.

Masih ada Dita-Dita lain yang ikut merasakan kontolku, dimana dalam pekerjaanku aku termasuk sukses nyatanya order perusahaan sangat banyak sehingga pegawai marketing pun aku tambah.

Tidak jarang selama aku bawa mereka keluar kota mereka aku perlakukan sebagai selimut biologisku tentunya dengan iming-iming bonus yang besar.

Inilah yang membuat mereka tergiur, semua berkat uang.

Bagiku itu semua gampang, dengan bonus sangat besar dari perusahaan aku dapat memenuhi kebutuhan staffku yang bersedia dan harus mau menjadi selimut biologisku. Beberapa diantaranya menolak dan mereka menanggung akibatnya yaitu aku keluarkan dengan dalih banyak hal.

Rabu, 09 Desember 2015

Selasa, 08 Desember 2015

Bercinta Dengan Tifa

Bercinta Dengan Tifa | Agen Poker Online Terpercaya 



Agen Poker Online Terpercaya - Dewagalau


Teman teman sering memanggilku dengan kata berto pada umumnya nama itu biasanya dipakai pada orang yang bertato tapi gak tau teman teman suka panggil itu mungkin karena mudah diingat dan familiyar, aku berusia 26 tahun gilanya lagi diumur segitu aku masih minim pengetahuan tentang apa namanya cinta.

Sekarang aku sudah bekerja dari 4 bulan kemarin perusahaan di bidang jasa jarak antara kantor 6 km dari tempat tinggalku, aku masih menumpang di rumah om ku namnya om Rudy dia adalah akepala sekolah di SMK yang terkenal di kota kami, sedangkan istrinya bekerja sebagai perawat di RS swasta. Dan anaknya ngekost di kota lain karena tidak mau kuliah di kota yang ditinggalinya.

Sejak kedua anaknya kuliah dan tinggal di kota lain, om dan tante Aku hanya tinggal bertiga dengan seorang pembantu.

Sekitar dua bulan kemudian Om Rudy mengajak Aku agar Aku tinggal bersama mereka, dengan alasan daripada Aku harus kost di luar, lebih baik Aku tinggal di rumah om Aku saja karena di rumahnya ada kamar yang kosong, kata om Rudy memberi alasan.

Sebulan kemudian, tante Rini membawa keponakannya ke rumah. Nama keponakan tante Rini adalah Tifa, usianya 15 tahun, ia sudah duduk di kelas dua SMKK Negeri. Tifa adalah seorang gadis yang cantik, cerdas, rajin dan baik hati pada semua orang. Suatu ketika, om Rudy dan tante Rini pergi menghadiri acara perpisahan siswa kelas II di sekolah tempat om mengajar.

Ia sempat mengajak Aku, namun Aku menolak dengan alasan Aku agak lelah, lalu tante Rini mengajak Tifa, namun Tifa juga menolak dengan alasan Tifa lagi ada tugas dari sekolah yang harus diselesaikan malam itu juga karena besok tugas itu sudah harus dikumpulkan.

Sebelum om dan tante meninggalkan rumah, mereka tidak lupa berpesan agar kami berdua berhati-hati, karena sekarang banyak maling yang pura-pura datang sebagai tamu, namun ternyata sang tamu tiba-tiba merampok setelah melihat situasi yang memungkinkan. Setelah selesai berpesan, om dan tante pun pergi sambil menyuruh Aku menutup pintu.

Sejak kepergian om dan tante, rumah jadi hening, kini hanya ada suara TV, namun sengaja Aku kecilkan volumenya karena Tifa sedang belajar. Aku hanya duduk di ruang depan menonton sebuah sinetron yang ditayangkan salah satu stasiun TV swasta.

Aku sempat menyaksikan adegan panas seorang lelaki paruh baya yang sedang asyik berselingkuh dengan seorang gadis yang ternyata teman sekantornya sendiri. Karena terlalu asyiknya Aku nonton TV, sehinggak Aku sangat kaget ketika sebuah tangan menepuk pundak Aku.

Setelah Aku lihat ternyata Tifa, ia tersenyum manis sambil menarik lenganku dengan manja menuju kamarnya. Aku jadi deg-degan setelah melihat penampilannya, ternyata ia hanya mengenakan celana pendek ketat warna coklat muda dengan kaos orangenya yang super ketat, sehinggak lekuk-lekuk tubuhnya tampak begitu jelas.

Agen Ceme Online Terpercaya - Dewagalau


Sejenak Aku terpana melihat tubuhnya yang nyaris sempurna. Aku amati pinggangnya bagai gitar spanyol dengan paha yang kencang, mulus, dan bersih. Selain itu juga tampak buah dadanya sangat menantang. Sepertinya ukuran BH-nya 34B.

Pemandangan itu sempat mengundang pikiran jahat Aku. Bagaimana rasanya kalau Aku menikmati tubuhnya yang nyaris sempurna itu. Namun Aku berusaha menyingkirkan pikiran itu karena Aku pikir bahwa dia adalah sepupu ipar Aku, tinggal serumah dengan Aku dan Aku pun menganggapnya sudah seperti adik kandung Aku sendiri.

“Ada apa sih? Kok kamu mengajak Aku masuk ke kamar kamu?” kataku agak bingung sambil berusaha melepaskan tangan Aku.

Sebenarnya bukan karena Aku menolak tetapi hanya karena grogi saja. Maklum Aku belum pernah masuk ke kamar Tifa sebelumnya.

“Kak, Tifa mau minta tolong nih!” katanya sambil menatapku manja.

“Kakak mau nggak membantu Aku menyelesaikan tugas ini, soalnya besok sudah harus dikumpul.” kata dia setengah merengek.

“Oh, maksudnya kamu mau minta tolong agar Aku membantu kamu mengerjakan tugas itu? Okelah. Aku akan membantumu dengan senang hati, Aku kan sudah berjanji untuk selalu menolongmu.” kataku mantap.

“Asyik, makasih ya kak.” kata Tifa sambil menciumku.

Kontan Aku merasa tersengat aliran listrik karena meskipun umur sudah 25 tahun, Aku belum pernah mendapat ciuman seperti itu dari seorang gadis, apalagi ciuman itu datangnya dari gadis secantik Tifa.

Aku pun segera membantunya sambil sesekali mencuri padang padanya, namun sepertinya ia tidak menyadari kalau Aku memperhatikanya. Setelah kami mengerjakan tugas itu sekitar 30 menit, tiba-tiba Tifa berhenti mengerjakan tugas itu. Ia mengeluh sambil memegangi keningnya.

“Kak, Tifa pusing nih, boleh nggak kakak pijitin kepala Tifa?” katanya sambil merapatkan badannya ke dada Aku.

Sempat Aku merasakan gesekan dari payudaranya yang cukup kencang namun terasa lembut.

“Emang kenapa kok Tifa tiba-tiba pusing?” tanya Aku agak heran.

“Ayo kak, tolong pijatin dong, kepala Tifa pening!”

“Oke, dengan senang hati lagi.” kataku penuh antusias.

Agen Blackjack Online Terpercaya - Dewagalau


Aku lalu mulai menekan-nekan keningnya dengan tangan kiri Aku dan tangan kanan. Aku menahan lehernya agar badannya tidak bergoyang. Sesekali Aku juga mengelus pundaknya yang putih bersih.

“Kak, belakang leher Tifa juga kak, soalnya leher Tifa agak kaku nih.” katanya sambil menuntun tangan Aku pada lehernya. Setelah Aku memijatnya sekitar lima menit, ia lalu berdiri sambil menarik tangan Aku.

“Kak, Tifa baring di ranjang aja ya? Biar pijitnya gampang.”

“Terserah Tifa ajalah.” kata Aku sambil mengikutinya dari belakang.

Lagi-lagi Aku terkesima melihat pinggulnya yang sungguh aduhai. Ia lalu berbaring telungkup di atas ranjang sambil menyuruh Aku memijat leher dan punggungnya. Sesekali Aku melihat dia menggerakkan tubuhnya, entah karena sakit atau karena geli.

Aku tidak tahu pasti, yang jelas Aku juga sangat senang memijat punggungnya yang sangat seksi. Entah karena gerah atau bagaimana, tiba-tiba saja ia bangun.

“Kak, Tifa buka baju saja ya? Sekalian pakai balsem biar cepat sembuh.”

“Mungkin Tifa masuk angin.” katanya sambil melepaskan kaosnya, lalu kembali berbaring di depan Aku.

Aku terkesima melihat kulit tubuhnya yang kuning langsat. Dalam hati Aku berpikir alangkah bahagianya Aku kalau kelak mempunyai istri secantik Tifa. Aku terus memijatnya dengan lembut. Sesekali Aku memutar-mutar jari-jari Aku di tepi rusuknya.

Setiap Aku meraba sisi rusuknya, ia kontan menggerakkan pinggulnya ke kiri dan ke kanan. Kadang juga pinggulnya ditarik. Maklum, ia belum terbiasa disentuh laki-laki. Aku juga sudah mulai merasakan penis Aku mulai bergerak-gerak dan kini sudah semakin tegang. Tiba-tiba ia membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Aku.

“Kak, Tifa buka aja BH-nya ya kak? Soalnya gerah nih.” “Terserah Tifa lah.” kata Aku.

Kini kami saling berhadap-hadapan, ia berbaring menatap ke arah pandangan Aku dan Aku berlutut di samping kanannya. Dia hanya tersenyum manja, Aku pun membalas senyumanya, nafas Aku sudah mulai tidak menentu.

Sepertinya nafas Tifa juga sudah mulai tidak terkendali, Aku melihat bukitnya yang nampak berdiri kokoh dengan pucuk warna merah jambu kini sudah mulai turun naik. Aku sempat grogi dibuatnya, bagaimana tidak, selama ini Aku belum pernah melihat pemandangan seindah ini.

Di depan Aku kini tergeletak seorang gadis yang tubuhnya begitu memabukkan dengan desahan nafas yang membuat batang kejantanan Aku sudah berdenyut-denyut. Seakan-akan penis Aku mau lompat menerjang tubuh Tifa yang terbaring mengeliat-geliat, sungguh darah muda Aku mulai berdesir kencang. Kini Aku mulai merasakan detak jantung Aku sudah tidak beraturan lagi.

“Kenapa kak?” katanya sambil tersenyum manja.

“Nggak, nggak papa kok.” kata Aku agak grogi.

“Sudahlah, ayo Kak pijatnya yang agak keras dikit.”

“Iya, iya” jawab Aku.

Aku lalu mulai mengelus-elus perutnya yang putih bersih itu, tanpa sengaja Aku menyenggol gundukan di dadanya.

“Ahh..” katanya sambil menggeliatkan tubuhnya. Aku dengan cepat memindahkan tangan, tetapi ia kembali menariknya

“Tidak apa-apa kak, terusin saja.” katanya.

Wah, benar-benar malam ini adalah malam yang sangat menyenangkan bagi Aku karena tidak pernah terlintas di dalam pikiran Aku akan mendapat kesempatan seperti ini. Kesempatan untuk mengelus-elus tubuh Tifa yang sangat merangsang.

“Aku tidak boleh melewatkan kesempatan sebaik ini,” kata Aku dalam hati.

Agen Qq Online Terpercaya - Dewagalau


Kini Tifa semakin merasakan sentuhan jari-jari Aku, Aku melihat dari desahan nafasnya dan dari tubuhnya yang sudah mulai hangat. Entah setan apa yang membuat Tifa lupa diri, dia tiba-tiba menarik wajah Aku,

Lalu mengusapnya dengan jari-jarinya yang lembut dan mulai mencium dan menggigit bibir Aku. Aku hanya pasrah dan terus terang Aku juga sebenarnya sangat menginginkanya, namun selama ini Aku pendam saja karena Aku menghargainya dan menganggapnya sebagai adik sendiri.

Tetapi saat ini pikiran itu telah sirna dari kepala Aku yang dialiri oleh gelora darah muda Aku yang menggelora. Ia terus mencium Aku dan kini ia melepaskan kaos yang Aku pakai lalu membuangnya di samping ranjang.

“Tifa, ada apa ini?” tanya Aku setengah tidak percaya dengan apa yang sedang ia lakukan.

Tetapi ia tidak memperdulikan kata-kata Aku lagi. Melihat gelagat Tifa yang sudah di luar batas kendali itu, Aku pun tidak mau tinggal diam. Aku mulai membalas ciumannya, melumat bibirnya dan menghisap lehernya yang putih bersih.

Aku merasakan penis Aku semakin keras dan berdenyut-denyut. Tifa terus mencium bibir Aku dengan nafas tersengal-sengal. Aku pun tidak mau kalah, Aku mulai meremas-remas payudaranya yang masih kencang dan menantang. Kini Aku mulai mengisap pucuknya.

“Achh..” ia menggeliat.

Aku melihat Tifa semakin menikmati perbuatannya. Sesekali ia menggerakkan pinggulnya ke kiri dan ke kanan sambil mendesah nikmat.

Tifa melihat penis sudah mendongkrak celana pendek Aku, ia lalu menyelipkan tangannya ke dalam CD Aku dan ia kini sudah menggenggam penis Aku yang berdiri tegak dengan otot-otot yang berwarna kebiruan. Ia lalu menarik celana pendek dan CD Aku dan kemudian melemparkannya ke lantai. Ia kembali menangkap penis Aku dan mengocoknya dengan jari-jarinya yang lembut.

“Aachh.. achh..” benar-benar nikmat rasanya. Aku merasakan penis Aku semakin tegang dan semakin panjang. Ia terus mempermainkan milik Aku yang sudah berdenyut-denyut dan mulai mengeluarkan cairan bening.

Aku pun tidak mau ketinggalan. Aku lalu menyelipkan jari-jari Aku ke selangkangannya. Aku merasakan lubang kemaluannya sudah hangat dan sudah sangat basah dengan cairan warna bening mengkilat.

Rupanya ia sudah benar-benar sangat terangsang dengan permainan kami. Dengan nafas yang tersengal-sengal, Aku lalu melorotkan celana Tifa lalu meremas-remas pahanya yang putih mulus dan masih kencang.

Aku tidak sanggup lagi menahan nafsu Aku yang sudah naik ke ubun-ubun Aku. Dengan sekali tarik, Aku berhasil melepaskan CD-nya Tifa. Kini ia benar-benar bugil. 

Aku sejenak terpana menyaksikan tubuhnya yang kini tanpa sehelai benang, dengan kulit kuning langsat, halus, bersih dan bentuk badan yang sangat seksi sungguh nyaris sempurna. Aku benar-benar tidak tahan melihat vaginanya yang ditumbuhi rambut tipis dan halus dengan bentuknya yang mungil berwarna coklat agak kemerah-merahan.

Kembali penis Aku berdenyut-denyut, seakan meronta-ronta ingin menerjang lubang nikmat Tifa yang masih terkatup rapat. Aku sangat gemas melihat liang kemaluannya dan kini Aku mulai mengusap-usap bibirnya dan meremas klitorisnya. Lubang nikmat Tifa sudah sangat basah. Aku melihat Tifa semakin terlelap dalam nafsunya. Ia hanya mengerang nikmat.

“Achh.. achh.. ohh.. ohh..” Aku terus menjilat klitorisnya. Ia hanya mendesah,

“Achh.. achh..” sambil menarik-narik pinggulnya.

“Kak, ayo masukin kak!” sambil menarik penis Aku menuju bibir kemaluannya.

“Oke Akung,” lalu Aku membuka kakinya.

Kemudian Aku melipat kakinya dan menyuruhnya supaya ia membuka pahanya agak lebar. Aku lalu menarik pantat Aku dan merapatkan pada selangkangannya. Ia dengan cekatan meraih batang kemaluan Aku lalu menempelkannya di bibir kemaluannya yang masih sangat rapat namun sudah basah dengan cairan lendirnya.

“Pelan-pelan ya kak, Tifa belum biasa.”

“Iya Akung,” kata Aku sambil mengecup bibirnya yang merekah basah. Aku kemudian mendorongnya pelan-pelan.

“Achh.. sakit kak.”

“Tahan Akung.”

Aku lalu kembali mendorongnya pelan-pelan dan kini batang Aku sudah bisa masuk setengahnya. Tifa hanya menggeliat dan menggigit bibirnya. Aku terus mendorongnya sambil memeluk tubuhnya. Sesekali Aku menyentaknya agak keras.

“Achhkk.. sakit kak, pelan-pelan donk!” memang vaginanya masih sangat rapat, maklum ia masih perawan.

“Tahan ya Akung,” Aku mencoba menenangkannya sambil memegang pinggulnya erat-erat.

“Akk..” Tifa meringis keras. Ia memukul dada Aku dengan keras sambil menarik pantatnya.

“Sakit kak, sakitt..”

Aku merasakan batang kejantanan Aku menembus sesuatu yang kenyal dalam lubang kenikmatan Tifa. Rupanya batang Aku telah berhasil menembus selaput daranya. Dari liang sorga Tifa tampak mengalir darah segar.

Aku terus menggoyang-goyangkan pinggul maju mundur sambil menciumi bibirnya dan meremas-remas gunungnya yang sangat menantang itu. Sesekali Aku melihat dia merapatkan kedua pahanya sambil mengigit bibirnya. Benar-benar milik Tifa sungguh nikmat,

Aku merasakan vaginanya semakin basah dan licin, namun tetap Aku merasakan kejantanan Aku terjepit dan kadang seperti dihisap oleh vaginanya Tifa. Kini Aku merasakan batang kemaluan Aku sudah berdenyut-denyut sepertinya ingin memuntahkan sesuatu, namun Aku tetap menahannya dengan mengurangi irama permainan Aku.

“Terus kak, terus..” ia menggeliat.

Aku melihat kedua kakinya mengejang. Gerakan Aku kembali Aku pacu, membuat payudaranya agak bergoyang dan sepertinya semakin membesar berwarna kemerah-merahan.

“Achh.. achh.. Kak cepat kak, cepat kak.” sambil menggeliat.

Ia merapatkan pahanya. Dia mulai menggerak-gerakkan tangannya mencari pegangan. Akhirnya ia memelukku dengan erat dan mengangkat kedua kakinya. Sambil menggigit bibirnya, ia memejamkan matanya. Aku merasakan kalau kini badannya sudah kaku dan hangat. Akhirnya Tifa memelukku erat-erat dan mengangkat pantatnya sambil berteriak.

“Achhkk..” Aku merasakan badannya bergetar dan sepertinya ada sesuatu yang hangat menyentuh batang kejantanan Aku, rupanya Tifa sudah orgasme.

Aku semakin tidak kuat menahan denyutan dari buah kejantanan Aku, akibat kenikmatan yang diberikan Tifa sangat luar biasa, batang Aku semakin berdenyut-denyut dan kini Aku benar-benar tidak sanggup lagi menahannya. Lalu Aku mempercepat gerakan Aku dan mendorong penis Aku lebih dalam lagi sambil menarik tubuh Tifa dengan erat ke dalam pelukan Aku.

Aku merasakan kenikmatan yang sangat dahsyat itu. Kini semuanya mengaliri dan menggetarkan seluruh tubuh Aku mulai dari ubun-ubun sampai ujung kaki Aku.

Akhirnya, “Srett.. srett.. srett..” Kejantanan Aku mengeluarkan cairan hangat dalam lubang kemaluan Tifa.

Aku sempat bingung dan takut karena telah menikmati tubuh Tifa secara tidak sah. Namun rasa nikmat itu lebih dahsyat sehingga pikiran itu segera sirna. Aku hanya tersenyum lalu mengecup bibir Tifa dan mengucapkan terima kasih pada Tifa.

Tampak tubuh Tifa basah dengan keringatnya tetapi terlihat wajahnya berseri-seri karena puas. Tifa hanya merapatkan kedua tangannya ke sisi tubuhnya. Ketika Aku mencabut batang kejantanan Aku dari vaginanya ia hanya tersenyum saja. Astaga, Aku melihat di sprey Tifa terdapat bercak darah. Tetapi segera Tifa bangun dan menenangkan Aku.

“Tenang mas, nanti Aku cuci, tak akan ada yang mengetahuinya.”

katanya sambil meletakkan jarinya di kedua bibir Aku. Kami berdua lalu menuju ke kamar mandi. Di situ kami masih sempat melakukannya sekali lagi, lalu akhirnya kami kembali mandi dan kembali ke kamarnya Tifa.

Agen Poker Online Terpercaya - Dewagalau


Setelah Aku mengambil baju dan celana, Aku pun menuju ruang tamu. Tidak lama kemudian keluarlah Tifa dari kamarnya lalu mengajak Aku makan malam berdua. Katanya, ia sengaja duluan makan karena tidak ingin bertemu dengan om dan tante malam ini. Mungkin Tifa malu dan takut kalau perbuatan kami ketahuan. Setelah makan, ia kembali ke kamarnya. Entah ia tidur atau belajar, Aku tidak tahu pasti.

Tidak lama kemudian, om dan tante datang. Mereka menceritakan keadaan pesta itu yang katanya cukup ramai dibanding tahun lalu karena tahun ini siswanya lulus 100 persen dengan nilai tertinggi di kota kami.

Om menanyakan Tifa, tetapi Aku katakan mungkin ia sudah tidur sebab tadi setelah makan ia sempat mengatakan kepada Aku bahwa ia agak lelah. Om hanya mengangguk lalu menuju kamarnya, katanya ia juga sudah makan dan kini ia pun ingin istirahat.

Aku tersenyum puas dan kembali menonton sebentar, lalu masuk kamar Aku. Di dalam kamar, Aku tidak bisa tidur membayangkan kejadian yang baru saja terjadi beberapa jam yang lalu. Malam ini Aku sangat senang karena telah merasakan sesuatu yang tidak pernah Aku rasakan sebelumnya dan pengalaman yang sangat manis ini tentu tidak akan pernah Aku lupakan sepanjang hidup Aku.

cerita dewasa, kumpulan cerita sex, blowjob, handjob, cerita sex dewasa, cerita seks dewasa, tante girang, daun muda, pemerkosaan, cerita seks artis,cerita sex artis, cerita porno artis,cerita hot artis, cerita sex, cerita kenikmatan,cerita bokep, cerita ngentot,cerita hot, bacaan seks, cerita, Kumpulan Cerita Seks, onani dan Masturbasi, cerita seks tante,blog cerita seks, seks,sedarah seks, cerita 17 tahun,cerita bokep

Minggu, 06 Desember 2015

Cerita Sex : Penyanyi Dangdut Colok Memek Pakai Microphone

Penyanyi Dangdut Colok Memek Pakai Microphone | Agen Poker Online Terpercaya 


Perkenalkan namaku angga, usiaku saat itu 18 tahun aku berasal dari kampung dan baru mulai kuliah di kota besar ini aku tidak pernah mengenal dunia malam dan termasuk culun sehingga dapat disimpulkan aku begitu awam dalam hal wanita

Saat pulang kuliah, depan tempat kostanku banyak pemuda sedang mendirikan panggung ternyata malam ini akan diadakan dangdutan menyambut ulang tahun karang taruna

Aku tidak begitu antusias melihat pertunjukan dangdut tersebut karena aku kurang menyukai musik dangdut tetapi aku tidak bisa tidur karena suara musik yang begitu keras tentu saja berasal dari panggung dangdut yang hanya beberapa meter dari pintu kostanku

Jam 12 malam lewat, aku mendengar suara penyanyi dangdut mulai aneh berubah dari nyanyian menjadi desahan sensual

“aaaahhhhhh, iiiiihhhh, oh, oh,oh, aduh, aduhhhhh” aku pun penasaran untuk melihat bagaimana pertunjukan dangdut itu dan segera ganti baju dan keluar menonton dangdutan

Pemandangan pertama membuatku shock darahku berdesir melihat tiga wanita biduan dangdut diatas panggung yang tinggi, mereka menyanyi dan bergoyang mengenakan gaun ketat dan mini sehingga memperlihatkan lekuk tubuh mereka yang menggairahkan dan sesekali ketika bergoyang, celana dalam mereka pun terlihat mengintip dari rok mini yang mereka kenakan pertunjukan vulgar sepeti ini tidak pernah ada dikampungku

Satu biduan yang menyedot perhatianku, bertubuh sintal dan berkulit putih dengan balutan gaun berwarna kuning, tubuhnya begitu seksi di terangi lampu kedap-kedip yang temaram meliuk-liuk dengan pose sensual sungguh begitu seksi dan membuatku terangsang

Tepat di suatu momen, dia bergoyang tepat didepanku dengan pose mengangkang, celana dalamnya yang berwarna putih dan ketat terlihat jelas belahan vaginanya tercetak, diantara paha yang bersih dan semok tangannya seolah sedang meremas dadanya yang besar wajahnya menunjukkan ekspresi binal pemandangan yang langsung membuat penisku berkedut dan keras

inilah pertama kalinya aku melihat selangkangan wanita begitu dekat begitu indah dan menggairahkan

entah berapa lama mataku tak bisa lepas darinya menikmati setiap gerakan dan suaranyanya yang indah beberapa kali kami bertemu pandang dan aku tidak berani melihat matanya dan seakan tahu aku memperhatikannya, dia sengaja bergoyang lebih panas lagi didepanku sampai dia tersenyum padaku dan kemudian terjadi hal yang tidak pernah aku bayangkan dia memegang kepalaku dan sambil bergoyang dia mendekatkan selangkangannya padaku aroma khas vaginanya tercium dan sontak aku tidak dapat bernafas karena begitu shock dia terus melakukan pose seperti itu sambil tertawa-tertawa dihadapan banyak penonton penonton pun ikut tertawa melihat ekspresiku yang terbelalak kaget aku tidak peduli, aku tidak mau melewatkan kesempatan langka ini aku hirup bau vaginanya sepuasnya, sampai dia melepaskan kepalaku dan melanjutkan nyayiannya

aku masih shock ketika gilirannya bernyanyi selesai mas har, ketua pemuda mendekatiku

“angga, kostanmu dekat kan? pinjam kamar mandi sebentar ya, si rida katanya mau numpang kencing”

Agen Domino Online Terpercaya - Dewagalau 

“rida siapa mas?” jawabku

“itu, yang nyanyi barusan” sambil nunjuk biduan seksi berbaju kuning idamanku

“oh, iiiiya boleh mas” jawabku dengan gugup

“bantu ya angga, dia sedikit mabuk” pinta mas har

“sip mas” jawabku

“aku lanjut goyang dulu, bentar lagi dangdutannya mau abis” kata mas har sambil berlari kedepan panggung

rida berjalan ke arahku sempoyongan aku mendekatinya dan langsung membopongnya berjalan tercium bau minuman keras dari mulutnya

Saat membopongnya aku jadi tambah bernafsu aroma keringatnya membuat birahiku naik tubuhnya yang hangat menempel ke tubuhku dan tonjolan dadanya terasa disamping badanku aku perhatikan matanya yang tertutup dan aku pikir dia tidak sadar karena mabuk

“inilah kesempatan emasku” pikirku mesum aku tak mampu menahan keinginan untuk mencium lehernya dengan pelan-pelan aku hirup aroma lehernya yang dihiasi anak rambut yang tipis oh, sungguh memabukkanku

tak terasa sampai didepan pintu kostanku aku buka pintu dan tanpa buang waktu aku coba menaroh telapak tangan kananku didadanya aku oerhatikan wajahnya, tidak ada reaksi sama sekali dari rida aku semakin bersemangat dan mulai meremas dadanya yang besar kenyal dan hangat

aku begitu asik meremas dadanya mempelajari bagian-bagian payudara wanita dari rida tiba-tiba,

“udah puas remas-remasnya” rida memandangku sambil tersenyum nakal aku tercekat, malu, dan segera melepas tubuhnya dari boponganku aku terkejut, tidak menyangka dia masih sadar

“maaf ya rida, aku.. aku… aku… ga sadar”

“aku.. aku.. ga bisa nahan, soalnya aku ga pernah… pegang-pegang cewek” jawabku terbata – bata
“oh ya, keliatan kok dari wajahmu, namamu angga kan? ”

“iya” jawabku

“udah nafsu banget pasti ya” dia mendekat dan yang tidak aku sangka dia memegang selangkanganku, dan meremas penisku yang sudah berdiri keras aku terpekik tertahan

“aw, udah keras banget!” serunya sambil tersenyum licik

“tunggu dulu ya sayaang, aku kebelet pipis nih” jawab rida dengan suara memelas sambil mengelus dadaku rida berjalan ke kamar mandiku

“kok gelap angga? jangan ditutup pintunya ya, aku takut” kata rida

“iya rida, lampunya cuma ada itu” jawabku sudah semaking tegang

“kesini dong, aku takut gelap” katanya manja
rida membelakangiku dan membuka celana dalamnya pelan-pelan aku mematung, terpesona menonton pertunjukan erotis ini

“minta tolong pegangin celanaku ya angga” dengan tetap memandangiku dia memberikan celana dalamnya padaku tanganku gemetar menerima celana dalamnya dia tersenyum geli melihat ekspresi kikukku

dia mulai jongkok di toiletku, dan mengeluarkan air pipisnya aku mencuri – curi pandang ke arah selangkangannya bibir vaginanya tebal dan berwarna pink berbulu tipis dan terlihat tidak ada lubangnya walau air memancar dari sana

rida selesai pipis dan menyiramkan air ke toilet ternyata dari tadi rida terus memandangiku dan tersenyum geli, segera aku alihkan pandanganku darinya

“angga, sini dong sayaaang, bantuin” suara manjanya terdengar lagi aku mendekat, jantungku berdetak sangat kencang penasaran dia mau minta bantu apa

“ban.. bantu apa rida?” aku semakin gugup
“cebokin aaku” wajahnya sangat nakal

“haaaa…. gimana cebokinnya?” jawabku

“sini aku ajarin”

dia menarik tanganku cukup keras sehingga aku terjongkok didepannya kemudian dia menuntun tanganku ke vaginanya tanganku semakin bergetar, begitu gugup ketika menyentuh vagina pertama kali dalam hidupku

terasa lembut ditanganku, sungguh sangat lembut dan ada sedikit lendir keluar sehingga membuat vaginanya licin semakin mempermudahku mengelus vaginanya aku mencoba mamasukkan jari tengahku ke dalam vaginanya dan ternyata ada lubang tersembunyi di bagian bawah vaginanya

“ah.. ah.. ” tiba-tiba rida mendesah, matanya menutup tangannya meremas dadanya, dan punggungnya tersandar ke dinding belakang toilet

melihat posisinya yang tidak nyaman, aku kemudian mengendong dan membaringkannya diranjangku aku refleks membuka celanaku penisku yang dari tadi tertahan akhirnya bisa keluar dengan gagah sudah ereksi seratus persen tanpa bicara aku langsung menindihnya menciumi bibirnya, memilin lidahnya dengan lidahku kemudian menggigit kecil lehernya rida hanya mendesah

“ah.. ah.. angga.. sayaaang, terusin.. aaaaaaaaa”

bajunya bagian atas aku turunkan dan terpampanglah dua bukit indah payudara yang bulat sempurna dengan puting kecil berwarna pink aku jilat dan gigit putingnya dan tanganku meremas-remas payudara dan pantatnya

“jangan keras-keras gigitnya sayang, aaahhhh.. iya seperti itu” matanya tertutup dan ekpsresi wajah yang menahan kenikmatan dia menggeliat hebat, dan kemudian bangun membuka semua pakaiannya

inilah tubuh sempurna seorang biduan dangdut, payudara montok, pinggul besar dan pantat yang penuh kulit yang mulus berwarna putih bersih vagina yang basah dan merekah

dia memelukku kuat, kami berguling-guling di ranjang dadaku bersatu dengan dadanya perutku menyentuh perutnya yang kecil dan mulus penisku bergesekan dengan bibir vaginanya yang berlendir licin

kemudian dia duduk diatas tubuhku memegang penisku yang keras mendekatkan ke selangkangannya kepala penisku merasa ada yang hangat dan basah pelan-pelan penisku mulai masuk kevaginanya begitu nikmat, penisku serasa bergetar dan berbunyi “greng.. greng” hangat, sangat hangat, licin dan lembut

dia bergoyang seperti sedang bergoyang dipanggungnya penisku dicokok keluar masuk di vaginanya

“crok, crok, crok” dia mempercepat goyangannya diatasku memeluk, menggigit leherku dan mendesah semakin gila
aku pun tidak mau kalah, giliranku diatas sekarang aku menusuk-nusuk vaginanya dengan penisku semakin lama semakin cepat, ranjangku berderit mengikuti irama kami kenikmatan semakin memuncak seiring semakin cepatnya genjotanku rida melenguh sejadi-jadinya dan wajahnya semakin menggairahkanku

tiba-tiba

“aaaaaggghhhhhh, uhhhhgggghhh” rida terpekik tertahan dia memelukku erat, penisku terasa dijepit kuat dan terasa banyak cairan hangat mengalir di batang penisku, badannya mengejang

aku melihat wajahnya, dan inilah wajah paling indah yang pernah kulihat wajah wanita yang sedang orgasme melihat pemandangan itu akupun tidak dapat menahan lebih lama dan juga mencapai klimaks spermaku menyembur deras dalam vaginanya diikuti sentakan-sentakan tubuhku diatas tubuhnya karena merasakan nikmat yang luar biasa

kami berpelukan beberapa waktu, saling berciuman sampai terdengar suara panggilan

“ridaaaa… ridaaa.. yuk pulang” berasal dari luar kostanku kami tersadar dan segera berdiri memakai pakaian

“terima kasih ya rida sayaang, pengalaman pertamaku yang sungguh hebat”
“aku juga ya angga, hebat kamu, aku puas, hihi” jawabnya sambil menciumku dan berlalu pergi keluar kamar kostku

disaat mobil rombongan dangdutnya berangkat pergi, aku baru menyadari belum sempat meminta nomor telponnya tidak punya akses untuk bertemu dengannya lagi

tapi walaupun begitu dia tetap meninggalkan kenang – kenangan buatku sebuah celana dalam putih yang aku simpan sampai saat ini

Rabu, 02 Desember 2015

Cerita Sex : Nikmatnya Tubuh Seksi Maya

Nikmatnya Tubuh Seksi Maya | Agen Poker Online Terpercaya 


ini aku berstatus anak kuliahan di perguruan Bandung masih semester 7 waktu liburan datang aku maen ke tempat kakaku yang di Jakarta. Suatu hari setelah sampainya disana aku disambut gembira dengan kakakku, sambil asyik nonton TV aku emlihat ada tamu ternyata dia adalah teman kampusnya dulu.



Bandar Poker Online Terpercaya - Dewagalau


Namanya OM Fredy dia berusia 43 tahun dia sangat ramah dan baik sekali sampai sampai aku diajak maen kerumahnya dan di kenalkan oleh istri dan anaknya , istri dari Om Fredy lebih muda 8 tahun dari dirinya sangat cantik dan menggoda anaknya yang bernama Maya masih duduk di kelas 2 SMP.
Kalau aku ke Jakarta aku sering main ke rumahnya. 

Dan pada hari Senin, aku ditugaskan oleh Fredy untuk menjaga putri dan rumahnya karena ia akan pergi ke Malang, ke rumah sakit untuk menjenguk saudara istrinya. Menurutnya sakit demam berdarah dan dirawat selama 3 hari. Oleh karena itu ia minta cuti di kantornya selama 1 minggu. Ia berangkat sama istrinya, sedangkan anaknya tidak ikut karena sekolah.

Setelah 3 hari di rumahnya, suatu kali aku pulang dari rumah kakakku, karena aku tidak ada kesibukan apapun dan aku pun menuju rumah Fredy. Aku pun bersantai dan kemudian menyalakan VCD. Selesai satu film. Saat melihat rak, di bagian bawahnya kulihat beberapa VCD porno. Karena memang sendirian, aku pun menontonnya. Sebelum habis satu film, tiba-tiba terdengar pintu depan dibuka. Aku pun tergopoh-gopoh mematikan televisi dan menaruh pembungkus VCD di bawah karpet.

“Hallo, Oom Dani..!” Maya yang baru masuk tersenyum. “Eh, tolong dong bayarin bajaj… uang Maya sepuluh-ribuan, abangnya nggak ada kembalinya.”

Aku tersenyum mengangguk dan keluar membayarkan bajaj yang cuma dua ribu rupiah.

Saat aku masuk kembali.., pucatlah wajahku! Maya duduk di karpet di depan televisi, dan menyalakan kembali video porno yang sedang setengah jalan. Dia memandang kepadaku dan tertawa geli.

“Ih! Oom Dani! Begitu to, caranya..? Maya sering diceritain temen-temen di sekolah, tapi belon pernah liat.”

Gugup aku menjawab, “Maya… kamu nggak boleh nonton itu! Kamu belum cukup umur! Ayo, matiin.”

“Aahhh, Oom Dani. Jangan gitu, dong! Tuh liat… cuma begitu aja! Gambar yang dibawa temen Maya di sekolah lebih serem.”

Tak tahu lagi apa yang harus kukatakan, dan khawatir kalau kularang Maya justru akan lapor pada orangtuanya, aku pun ke dapur membuat minum dan membiarkan Maya terus menonton. Dari dapur aku duduk-duduk di beranda belakang membaca majalah.

Sekitar jam 7 malam, aku keluar dan membeli makanan. Sekembalinya, di dalam rumah kulihat Maya sedang tengkurap di sofa mengerjakan PR, dan… astaga! Ia mengenakan daster yang pendek dan tipis. Tubuh mudanya yang sudah mulai matang terbayang jelas. Paha dan betisnya terlihat putih mulus, dan pantatnya membulat indah. Aku menelan ludah dan terus masuk menyiapkan makanan.


Setelah makanan siap, aku memanggil Maya. Dan.., sekali lagi astaga… jelas ia tidak memakai BH, karena puting susunya yang menjulang membayang di dasternya. Aku semakin gelisah karena penisku yang tadi sudah mulai “bergerak”, sekarang benar-benar menegak dan mengganjal di celanaku.

Selesai makan, saat mencuci piring berdua di dapur, kami berdiri bersampingan, dan dari celah di dasternya, buah dadanya yang indah mengintip. Saat ia membungkuk, puting susunya yang merah muda kelihatan dari celah itu. Aku semakin gelisah. Selesai mencuci piring, kami berdua duduk di sofa di ruang keluarga.

“Oom, ayo tebak. Hitam, kecil, keringetan, apaan..?”

“Ah, gampang! Semut lagi push -up! Kan ada di tutup botol Fanta! Gantian… putih-biru-putih, kecil, keringetan, apa..?”

Maya mengernyit dan memberi beberapa tebakan yang semua kusalahkan.

“Yang bener… Maya pakai seragam sekolah, kepanasan di bajaj..!”

Bandar Ceme Online Terpercaya - Dewagalau

“Aahhh… Oom Dani ngeledek..!”

Maya meloncat dari sofa dan berusaha mencubiti lenganku. Aku menghindar dan menangkis, tapi ia terus menyerang sambil tertawa, dan… tersandung!

Ia jatuh ke dalam pelukanku, membelakangiku. Lenganku merangkul dadanya, dan ia duduk tepat di atas batang kelelakianku! Kami terengah-engah dalam posisi itu. Bau bedak bayi dari kulitnya dan bau shampo rambutnya membuatku makin terangsang. 

Dan aku pun mulai menciumi lehernya. Maya mendongakkan kepala sambil memejamkan mata, dan tanganku pun mulai meremas kedua buah dadanya.

Nafas Maya makin terengah, dan tanganku pun masuk ke antara dua pahanya. Celana dalamnya sudah basah, dan jariku mengelus belahan yang membayang.

“Uuuhh… mmmhhh…” Maya menggelinjang.

Kesadaranku yang tinggal sedikit seolah memperingatkan bahwa yang sedang kucumbu adalah seorang gadis SMP, tapi gairahku sudah sampai ke ubun-ubun dan aku pun menarik lepas dasternya dari atas kepalanya. Aahhh..! Maya menelentang di sofa dengan tubuh hampir polos!

Aku segera mengulum puting susunya yang merah muda, berganti-ganti kiri dan kanan hingga dadanya basah mengkilap oleh ludahku. Tangan Maya yang mengelus belakang kepalaku dan erangannya yang tersendat membuatku makin tak sabar. 

Aku menarik lepas celana dalamnya, dan.. nampaklah bukit kemaluannya yang baru ditumbuhi rambut jarang. Bulu yang sedikit itu sudah nampak mengkilap oleh cairan kemaluan Maya. Aku pun segera membenamkan kepalaku ke tengah kedua pahanya.

“Ehhh… mmmaaahhh..,” tangan Maya meremas sofa dan pinggulnya menggeletar ketika bibir kemaluannya kucium.

Sesekali lidahku berpindah ke perutnya dan mengemut perlahan.

“Ooohh… aduuhhh..,” Maya mengangkat punggungnya ketika lidahku menyelinap di antara belahan kemaluannya yang masih begitu rapat.

Lidahku bergerak dari atas ke bawah dan bibir kemaluannya mulai membuka. Sesekali lidahku membelai kelentitnya dan tubuh Maya akan terlonjak dan nafas Maya seakan tersedak. Tanganku naik ke dadanya dan meremas kedua bukit dadanya. Putingnya sedikit membesar dan mengeras.

Ketika aku berhenti menjilat dan mengulum, Maya tergeletak terengah-engah, matanya terpejam. Tergesa aku membuka semua pakaianku, dan kemaluanku yang tegak teracung ke langit-langit, kubelai-belaikan di pipi Maya.

“Mmmhh… mmmhhh… ooohhhmmm..,” ketika Maya membuka bibirnya, kujejalkan kepala kemaluanku.

Bandar Qq Online Terpercaya - Dewagalau

Mungkin film tadi masih diingatnya, jadi ia pun mulai menyedot. Tanganku berganti-ganti meremas dadanya dan membelai kemaluannya.

Segera saja kemaluanku basah dan mengkilap. Tak tahan lagi, aku pun naik ke atas tubuh Maya dan bibirku melumat bibirnya. Aroma kemaluanku ada di mulut Maya dan aroma kemaluan Maya di mulutku, bertukar saat lidah kami saling membelit.

Dengan tangan, kugesek-gesekkan kepala kemaluanku ke celah di selangkangan Maya, dan sebentar kemudian kurasakan tangan Maya menekan pantatku dari belakang.

“Ohhmm, mam… masuk… hhh… masukin… Omm… hhh… ehekmm…”

Perlahan kemaluanku mulai menempel di bibir liang kemaluannya, dan Maya semakin mendesah-desah. Segera saja kepala kemaluanku kutekan, tetapi gagal saja karena tertahan sesuatu yang kenyal. Aku pun berpikir, apakah lubang sekecil ini akan dapat menampung kemaluanku yang besar ini. Terus terang saja, ukuran kemaluanku adalah panjang 15 cm, lebarnya 4,5 cm sedangkan Maya masih SMP dan ukuran lubang kemaluannya terlalu kecil.

Tetapi dengan dorongan nafsu yang besar, aku pun berusaha. Akhirnya usahaku pun berhasil. Dengan satu sentakan, tembuslah halangan itu. Maya memekik kecil, dahinya mengernyit menahan sakit. Kuku-kuku tangannya mencengkeram kulit punggungku. 

Aku menekan lagi, dan terasa ujung kemaluanku membentur dasar padahal baru 3/4 kemaluanku yang masuk. Lalu aku diam tidak bergerak, membiarkan otot-otot kemaluan Maya terbiasa dengan benda yang ada di dalamnya.

Sebentar kemudian kernyit di dahi Maya menghilang, dan aku pun mulai menarik dan menekankan pinggulku. Maya mengernyit lagi, tapi lama-kelamaan mulutnya menceracau.

“Aduhhh… ssshhh… iya… terusshh… mmmhhh… aduhhh… enak… Oommm…”

Aku merangkulkan kedua lenganku ke punggung Maya, lalu membalikkan kedua tubuh kami hingga Maya sekarang duduk di atas pinggulku. Nampak 3/4 kemaluanku menancap di kemaluannya. Tanpa perlu diajarkan, Maya segera menggerakkan pinggulnya, sementara jari-jariku berganti-ganti meremas dan menggosok dada, kelentit dan pinggulnya, dan kami pun berlomba mencapai puncak.

Bandar Blackjack Online Terpercaya - Dewagalau

Lewat beberapa waktu, gerakan pinggul Maya makin menggila dan ia pun membungkukkan tubuhnya dan bibir kami berlumatan. Tangannya menjambak rambutku, dan akhirnya pinggulnya menyentak berhenti. Terasa cairan hangat membalur seluruh batang kemaluanku.

Setelah tubuh Maya melemas, aku mendorong ia telentang. Dan sambil menindihnya, aku mengejar puncakku sendiri. Ketika aku mencapai klimaks, Maya tentu merasakan siraman air maniku di liangnya, dan ia pun mengeluh lemas dan merasakan orgasmenya yang kedua.

Sekian lama kami diam terengah-engah, dan tubuh kami yang basah kuyup dengan keringat masih saling bergerak bergesekan, merasakan sisa-sisa kenikmatan orgasme.

“Aduh, Oom… Maya lemes. Tapi enak banget.”

Aku hanya tersenyum sambil membelai rambutnya yang halus. Satu tanganku lagi ada di pinggulnya dan meremas-remas. Kupikir tubuhku yang lelah sudah terpuaskan, tapi segera kurasakan kemaluanku yang telah melemas bangkit kembali dijepit liang vagina Maya yang masih amat kencang.

Aku segera membawanya ke kamar mandi, membersihkan tubuh kami berdua dan… kembali ke kamar melanjutkan babak berikutnya. Sepanjang malam aku mencapai tiga kali lagi orgasme,dan Maya… entah berapa kali. Begitupun di saat bangun pagi, sekali lagi kami bergumul penuh kenikmatan sebelum akhirnya Maya kupaksa memakai seragam, sarapan dan berangkat ke sekolah.

Kembali ke rumah Fredy, aku masuk ke kamar tidur tamu dan segera pulas kelelahan. Di tengah tidurku aku bermimpi seolah Maya pulang sekolah, masuk ke kamar dan membuka bajunya, lalu menarik lepas celanaku dan mengulum kemaluanku.

Tapi segera saja aku sadar bahwa itu bukan mimpi, dan aku memandangi rambutnya yang tergerai yang bergerak-gerak mengikuti kepalanya yang naik-turun. Aku melihat keluar kamar dan kelihatan VCD menyala, dengan film yang kemarin. Ah! Merasakan caranya memberiku “blowjob”, aku tahu bahwa ia baru saja belajar dari VCD