Kamis, 05 November 2015

Cerita Sex : Tante Binal Hyper Sex

Tante Binal Hyper Sex | Agen Poker Online Terpercaya



Agen Poker - Dewagalau


Cerita Sex - Suasana malam minggu ramai memang banyaknya orang yang hadir membuat Rony pemuda yang memang sedang berjojing ria membuatnya gerah, pengunjung bar banyak yang membawa pasangan, Rony tidak sendiri dia datang dengan Igor yang tengah asyik berjojing dengan seorang wanita yang juga pengunjung diskotik Shinta.

“Hai, boleh aku duduk?!” suara wanita menyapa.

Rony menoleh tersentak dari perhatiannya pada Igor.

“Please..?” balasnya mempersilahkan wanita itu duduk disebelahnya.

“Sendiri?” sapa wanita itu yang memang agak teler mungkin karena terlalu banyak menenggak minuman keras.

“Akh nggak? bareng temanku, tuh” tunjuk Rony pada Igor yang saat itu sedang mendekatinya.

“Hai Ron.. Kenalin dong” sergah Igor.

“Boleh juga boncegan lo..” bisik Igor pada Rony.

“Gila lo.. gue aja belum kenal”

“Ron..?! Kenalin Vira..”

“Vira..” kata wanita itu sambil mejulurkan tangannya.

“Rony..?!” balas Rony.

“Ron sorry nich aku bakal jalan duluan sama Vira, disini terlalu ramai”

“Terus gue gimana?” Tanya Rony.

“Lo disini aja dulu?! Motor gue yang bawa, mana kontaknya?”

“Dasar gila lo, nich?!” Maki Rony.

Kini hanya tinggal Rony dengan wanita itu didalam diskotik Shinta yang malah tambah ramai ketika hari menjelang tengah malam.
“Ron.?!”

“Boleh aku minta tolong anterin pulang?” Pinta wanita itu pada Rony sambil menyerahkan kunci kontak.

Tanpa menjawab dipapahnya wanita itu pergi meninggalkan ruangan diskotik Shinta. Mobil yang dikendarai Rony menuju kawasan perumahan Lippo yang memang telah ditunjuk wanita itu.

“Nich cewek kayaknya Tante-Tante?” Bathin Rony setelah memperhatikan wajah wanita itu yang kelihatan mencerminkan usianya kira-kira 35-an. Sepanjang perjalanan Rony memperhatikan wanita yang tertidur disebelahnya.

Pakaiannya yang hanya menutupi sebagian tubuhnya sehingga jelas sekali terlihat buah toketnya yang putih dan gede terus ke bagian bawah yang hanya memakai rok span sehingga jelas terlihat sangat mulus dan sangat seksi. Tiba tiba pikiran joroknya mulai merambah ditambah lagi jalan tol menuju Lippo sepi dan gelap. Tangan Rony mulai meraba paha, disingkapnya rok mini merah itu kini terlihat jelas CD wanita itu.

“Gila merah juga?” Ucapnya lirih takut tuh Tante bangun.

Kini tangan jahilnya mulai ke atas menuju bukit kembar yang nongol gede.

“Busyet mantep banget nich?” Remasan kecil tidak membuat Tante ini bangun pikirnya.
“Sial lagi asyik sudah sampai?!” Gerutu Rony sambil melepas remasan kecil pada payudara Tante itu terlihat pintu tol 500 meter lagi. Mungkin karena cahaya lampu pintu tol sang Tante terlihat bangun sambil membersihkan matanya.

“Dimana ini?”
“Mau masuk perumahan Tan?” Jawab Rony.
“Belok kiri no.13” tunjuk Tante itu rumahnya.
“Ok” Rony mengiyakan.

Rumah kawasan Lippo memang terkenal mewah gerbang rumah berwarna biru itu terbuka setelah dari dalam mobil Tante itu memencet remot pagar begitu juga pintu garasi, mobil lancer langsung meluncur masuk ke dalam garasi.
“Mari Tan..” bermaksud memapah Tante itu.
“Ah nggak usah pusingnya agak mendingan kok” tolak Tante itu halus.
“Ayo masuk” ajaknya sambil menuju pintu rumah didalam garasi.

Jalannya yang anggun membuat Rony menelan air ludah. Pantat gede Tante itu goyang kanan kiri mengikuti irama kakinya yang panjang dan mulus.

“Silahkan duduk..?!” mempersilahkan Rony duduk.

“Tanks Tante?” balas Rony.

“Oh ya siapa namamu tadi?” tanya Tante itu sambil pergi ke arah ruangan lain.
“Rony” balas Rony sedikit berteriak agar terdengar.

Tante Susi membawakan dua gelas bir sambil duduk disebelah Rony rapat sekali membuat Rony agak keki.

“Silahkan minum?” sambil menyerahkan segelas bir kaleng.
“Tanks Tan..”

Ditenggaknya bir itu bukannya haus tapi menahan gejolak birahi melihat paha putih mulus dan buah dada yang menantang.

“Santai aja? Haus ya?”

“Lumayan?!” balas Rony memerah.

“Oh ya.. Panggil aku Susi” Tante Susi memperkenalkan namanya.

“Tante Susi tinggal sendiri?” Mencoba Rony untuk ngobrol.

“Jangan panggil Tante Susi donk, Tante aja, apa Susi aja”

“Tante dech..” Rony memastikan.

“Sudah tua ya?” balas Tante Susi.

“Tapi Tante kelihatan masih cantik..” sambil matanya terus memeperhatikan buah dada tante Susi yang menggantung indah.

“Makasih” tersipu Tante Susi dipuji seperti itu.

“Oh ya Tante tinggal dengan siapa?” Tanya Rony penasaran.

“Aku tinggal ama suamiku, dia lagi berlayar 2 bulan sekali dia pulang sudah 2 minggu dia berangkat berlayar..” jelas Tante Susi.

“Oh begitu ya..?” berarti dia kesepian nich bathin Rony.

“Kamu sudah punya pacar?” Tante Susi bertanya sambil menarik tangan Rony ke atas pahanya yang putih itu.

“Belum Tan..?!” jawab Rony menarik tangannya mencoba malu-malu kucing.

“Kenapa? kok malu?! Apa aku harus tidur lagi biar kamu enggak malu dan leluasa mengelus-elusku”
“Maksud Tante?” bertanya heran Rony.

“Aku tahu yang kamu lakukan sepanjang perjalanan tadi, aku diam karena kupikir kamu kan sudah tolongin aku boleh donk sebagai tanda terimakasih”

“Jadi ni Tante juga keenakan toh, sial deg-deg an juga gue, gue kira dia tahu bakal marah eh malah seneng, aman sekarang dong, asyiik?” Bathin Rony.

Sekarang Rony bebas melakukan gerakannya karena sudah tahu Tante Susi senang diperlakukan seperti itu. Tangan Rony mulai meraba paha Tante Susi.

“Kulit Tante halus sekali..?!” bisik Rony ke telinga Tante Susi disertai jilatan halus membuat Tante Susi menggelinjang geli.
“Oh ya? Terusin dong ke atas Ron..?” pinta Tante Susi manja.

Tangan Rony masuk ke dalam celana dalam Tante Susi.

“Okh kamu ahli sekali Ron?” tangan Tante Susi mulai menjalar ke arah celana Rony dan mulai menelanjangi Rony dengan ganas.
“Tenang Tan?”
“Tanganmu itu yang membuat aku engga’ tahan okh.. Okh” kembali Tante Susi mengerang kenikmatan.

Kini Rony sudah telanjang di pegangnya peler millik Rony yang lumayan besar.

“Gede juga punyamu” ucap Tante Susi sambil mulai mengulum peler Rony Rony hanya bisa mendesah kenikmatan ketika pelernya amblas ke dalam mulut Tante Susi.

“Okh Tante okh.. Okh” sambil meremas rambut Tante Susi.

“Telanjangi aku Ron” pinta Tante Susi setelah puas mengulum peler Rony.

Rony mulai melakukannya hingga telanjang polos sudah Tante Susi, jelas terlihat bukit berumput hitam lebat dan sepasang payudara yang gede. Rony merebahkan tubuh bugil itu diatas kursi.

“Regangin pahamu Tan” pinta Rony.

Mulai ia menjilati vagina Tante Susi yang merah mungkin karena jarang di pake.

“Oh bulu jembut Tante lebat banget..”
“Tapi ok kan..?”
“Mantep Tan” ujar Rony sambil menyingkap bulu lebat itu dan mulai memainkan lidahnya dibibir vagina Tante Susi.

“Ukh.. Ukh.. Ukh hebat terus jilat terus Ron okh.. Enak.. Enak” Menggelinjang eggak karuan Tante Susi menahan birahi yang mulai merambah urat-urat pembuluh darahnya. Sementara tangan Rony asyik meremas payudara Tante Susi yang gede.

“Remas Ron remas yang kenceng ukh.. ukh..” sambil matanya merem melek. Terlihat jelas oleh Rony vagina Tante lisa kembang kempis karena kenikmatan.
“Ron masukin donk, masukin Ron.. Ukh”

Sedikit dibungkukkan tubuh roni sambil mulai mengarahkan batang pelernya ke arah vagina Tante Susi yang sudah becek karena jilatan lembut lidah Rony. Perlahan tapi pasti peler Rony mulai merambah masuk ke dalam vagina Tante Susi.

“Okh..” desah Tante Susi keenakan.

Pantat Rony bergerak maju mundur.

“Okh.. Enak Ron okh..” merem melek Tante Susi dibuatnya.
“Okh.. Okh.. Goyang terus” pinta Tante Susi masih keenakan.

Rony pun merasakan kenikmatan teramat sangat pelernya terasa ada yang menyedot halus dan nikmat ditambah desahan Tante Susi yang sangat merangsang urat syarafnya menegang.

“Okh Tan empuk juga memekmu Tan okh.. Okh” sambil terus pantatnya maju mundur mengoyak vagina Tante Susi yang sudah basah banget.

Mulut Tante Susi yang mendesah seksi itu disambar Rony hingga keduanya saling berciumn liar, tangan Rony pun tidak tinggal diam remasan liar menimpa payudara Tante Susi yang sudah keras. Cukup lama perbuatan cabul diatas sofa itu berlangsung dengan sengit dengan teriakan Tante Susi yang tak tahan akan peler Rony yang beraksi. Hingga..
“Tan.. Pindah ke lantai yu?” ajak Rony.
“Terserah, asal jangan dilepas ya? Habis enak banget sih..”

Peler Rony masih menancap tegang di vagina Tante Susi, diangkatnya tubuh bugil Tante Susi lalu merebahkannya diatas lantai yang berpermadani halus itu. Keringat mengucur deras kenikmatan enggak terbendung gerakan maju mundur Rony yang kadang diselingi putaran pelernya membuat Tante Susi merem melek menahan gairah yang mungkin sangat diharapkannya malam itu.

“Ron gantian ya?” pinta Tante Susi ganti posisi.

Mereka berguling separo sehingga sekarang posisi Tante Susi berada di atas menindih tubuh Rony.

“Ron gimana kalau goyang gini” tawar Tante Susi sambil mengoyang pantatnya yang padat berisi.
“Gila Tan.. Enaak banget terus tan ukh.. Ukh..” sambil tangannya

terus meremas payudara yang sekarang lebih menantang karena menggantung indah dan mantap.

“Oh Ron aku sudah tidak kuat Ron.. Okh.. Ron.. Okh.. Ron.. Okh”
“Tahan sebentar Tan.. Aku jagu sudah mau sampai okh.. Okh” erangan Rony menahan goyangan Tante Susi yang semakin liar.
“Okh.. Okh.. Aku keluar.. Okh.. Okh..”

Dengan cepat dicabut memeknya lalu disodorkan ke arah wajah Rony.

“Okh.. Hisap Ron.. Okh” pinta Tante Susi sambil tangannya mengocok kencang peler Rony yang saat itu sedang di ujung banget.

Dengan jilatan ganas dihisapnya vagina Tante Susi beserta cairan yang keluar dari dalam vagina itu Tante Susi terlihat sangat menikmati jilatan itu. Serr.. air mani vagina Tante Susi muncrat ke wajah Rony.

“Okh.. Okh..” erangan Tante Susi sambil terus membenamkan memeknya ke wajah Rony.
“Okh Ron kamu luar biasa” puji Tante Susi atas kehebatan Rony melayaninya.

Rony duduk di sofa kembali sementara pelernya masih menegang tangguh, dengan penuh pengertian Tante Susi mengocok peler Rony yang sudah tegang.

“Okh.. enggak lama Tan.. Okh..”

Crot.. Crot.. Dari peler Rony keluar cairan putih kental yang langsung dengan sigap Tante Susi memasukkan peler Rony ke dalam mulutnya.

“Akh.. Okh..” Rony tersenyum puas begitu juga Tante Susi yang memang malam itu sangat mendambakan memeknya mengeluarkan cairan kenikmatan ditemani lelaki perkasa seperti Rony.

Keduanya lalu beranjak kekamar tidur Tante Susi, setelah Tante Susi mengajak Rony ke kamarnya untuk istirahat sejenak dengan harapan Rony dapat melanjutkan kembali memuaskan nafsu birahinya.

Mampukah Rony..?

Rabu, 04 November 2015

Cerita Seks : Atun Si Pembantu Yang Ganjen

Atun Si Pembantu Yang Ganjen | Agen Poker Online Terpercaya


Cerita Sex - Sepeninggal Lastri, kami mendapat seorang pembantu baru dari sebuah yayasan penyalur tenaga kerja yaitu seorang wanita berumur 23 tahun bernama Atun.

Atun berambut lurus sebahu, berperawakan sedang , berkulit sawo matang dengan wajah yang manis, tinggi sekitar 160 cm , badan ramping dengan berat badan sekitar 50 kg, dengan tetek yang besarnya sedang saja.

Yang agak istimewa dari penampilan Atun adalah matanya yang bagus dengan lirikan-lirikan yang kelihatannya sedikit nakal.

Hari pertama kedatangannya , saat memperkenalkan diri , ia tampak tidak banyak bicara, hanya saya melihat bahwa matanya sering melirik dan memperhatikan celana saya terutama pada bagian kemaluan. Saya berpikir, ” akh, nakal juga nih… “.

Ternyata Atun ini baru menikah dua bulan lalu dan karena desakan kebutuhan ekonomi saat ini sedang terpisah dari sang suami yang bekerja menjadi TKI di Timur Tengah.

Setelah beberapa hari bekerja pada kami, ternyata Atun cukup rajin dan dapat menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat.

Memasuki minggu kedua, saya mendapat gilirin kerja shift dari kantor, yaitu shift ke 2, sehingga saya harus mulai bekerja mulai dari jam 15:00 sampai dengan jam 23:00. Jadi bila pulang telah larut malam, biasanya isteri saya sudah tidur dan bila ia tidur.

Ia mempunyai kebiasaan tidur yang sangat lelap dan sangat susah sekali untuk dibangunkan ; dan bila saya terbangun pada pagi hari, isteri sudah berangkat kerja, sehingga biasanya kami hanya berhubungan melalui telephone saja atau ia menuliskan pesan dan menempelkannya di kulkas.

Suatu malam sepulang kerja, Atun seperti biasa membuka pintu dan setelah itu ia biasanya menyiapkan air panas untuk saya mandi.

Sedang saya asyik mandi dan menggosok-gosok tubuh saya, saya mendengar suatu bunyi halus dibalik pintu kamar mandi, sambil berpura-pura tidak tahu saya tiba-tiba menunduk dan mencoba melihat dari celah yang ada dibawah pintu tersebut.

” hah….” , saya kaget juga, karena disitu terlihat sepasang kaki yang dalam posisi sedang men-jinjit menempel dipintu kamar mandi. Wah, ternyata saya sedang diintip , oleh siapa lagi kalau bukan Atun.

Bandar Ceme - Dewagalau


Saya tetap pura-pura tidak tahu saja dan mulai memasang aksi ; saya mulai menggosok-gosokan sabun kebagian ****** saya, meremas-remas sehingga ****** saya pun mulai bangun dan menjadi keras, sambil terus meng-kocok-kocok ****** saya, saya juga berusaha untuk berkonsentrasi mendengar suara dibelakang pintu itu. Dari situ terdengar desahan halus yang sedikit lebih keras dari tarikan nafas.

“Naah…lo….rasain ” , kata saya dalam hati. Selesai mandi, saya langsung saja keluar dengan memakai handuk yang dililitkan kebadan bagian bawah saya, ****** saya masih dalam posisi menegang keras, jadi terlihat menonjol dari balik handuk. Saya tetap berpura-pura tidak tahu apa-apa dan berjalan kearah belakang untuk menaruh pakaian kotor.

“pep…..pak….. bapak mau emm.. makan”, sapa Atun ,

“oh… enggak Tun, sudah makan… tolong bikinkan kopi saja”, jawab saya sambil saya perhatikan wajahnya. Ternyata wajah Atun terlihat pucat dengan tangan yang agak gemetaran.

“eeh…kamu kenapa Tun,…..sakit yaa ?”, tanya saya

“ah , tidak pak….. saya cuma sedikit pusing aja”, jawab Atun

“Iyaa…Tun….saya juga sedikit pusing… apa kamu bisa mijitin kepala saya”

“beb…bis…bisa pak”, jawab Atun tergagap, sembari matanya terus menerus melirik kearah ****** saya yang menyembul.

Sayapun masuk kekamar dan mengganti handuk dengan sarung tanpa memakai celana dalam lagi, dan tidak lupa memeriksa isteri saya; setelah saya perhatikan ternyata isteri saya tetap tertidur dengan pulas sekali. Sayapun duduk disofa didepan televisi sambil menunggu Atun membawa kopi, yang kemudian ditaruhnya dimeja didepan saya.

“Tun….tolong nyalakan tv-nya”

Atun berjalan kearah televisi untuk menyalakan , saat televisi telah menyala saya bisa melihat bayangan tubuh Atun dari balik dasternya. “wah….boleh juga”, terasa denyutan di ****** saya, nafsu saya mulai memuncak.

“Tun…. tolong kecilkan sedikit suaranya”, kata saya, Saat ia mengecilkan suara televisi itu, Atun sedikit membungkuk untuk menjangkau tombol tv tersebut, langsung tubuhnya terbayang dengan jelas sekali , Atun ternyata tidak memakai BH dan puting teteknya terbayang menonjol bagaikan tombol yang minta diputar.

“lagi sedikit Tun….” kata saya mencari alasan untuk dapat melihat lebih jelas. Aduh , denyutan di ****** saya pun makin keras saja.

“Ayo ..Tun..pijitin kepala saya” kata saya sambil bersandar pada sofa. Dengan agak ragu, Atun mulai memegang kepala saya dan mulai memijat-mijat kepala saya dengan lembut.

Bandar Blackjack - Dewagalau


“nah..gitu….baru enak, kata saya lagi, “tapi film-nya kok jelek banget yaa…”

“iya..pak…film-nya film tua..” katanya.

“kamu mau lihat film baru”, kata saya sambil langsung berdiri dan menuju kearah lemari televisi untuk mengambil sebuah laser disk dan langsung saja memasangnya, film itu dibintangi oleh Kay Parker, sebuah film jenis hardcore yang sungguh hot. Atun kembali memijat kepala saya sambil menanti adegan film tersebut.

Saat adegan pertama dimana Kay Parker mulai melakukan french kiss dan meraba ****** lawan mainnya , tangan Atun mengejang dikepala saya, terdengar ia menarik nafas panjang dan pijatan tangannya bertambah keras.

Saya mengangkat kepala dan melihat keatas kearah Atun; terlihat matanya terpaku pada adegan di layar, biji matanya kelihatan seperti tertutup kabut tipis, ia benar-benar berkonsentrasi melihat adegan demi adegan yang diperankan oleh Kay Parker.

Sekitar seperempat jam kemudian, terasa pijatan dikepala saya berkurang, karena hanya satu tangannya saja yang dipakai untuk memijat sedangkan setelah saya tengok kebelakang ternyata tangannya yang satu lagi terjepit diantara selangkangannya dengan gerakan menggosok-gosok. Desahan nafasnya menjadi keras buru memburu. Atun terlihat bagai orang sedang mengalami trance dan tidak sadar akan perbuatannya.

Saya langsung saja berdiri dan menuju kebelakangnya; sarung saya jatuhkan kelantai dan dalam keadaan telanjang saya tekan ****** saya ke arah belahan pantatnya sedangkan mulut saya mulai menjalar ke leher Atun, menjilat-jilat sambil menggigit pelahan-lahan.

Kedua tangan saya bergerak kearah teteknya yang menantang dan meremas-remas sambil sesekali memuntir-muntir putingnya yang cukup panjang. Atun tetap seperti orang yang tidak sadar, matanya hanya terpaku kelayar kaca melihat bagaimana Kay Parker menjepit pinggang lawan mainnya sambil mengayunkan pinggulnya ke kanan kekiri.

Dengan cepat saya membuka dasternya sampai terlepas; Atun diam saja juga saat saya memelorotkan celana dalamnya. Sambil tetap memeluknya dari belakang, saya menggeser kakinya agar selangkangannya lebih terbuka sehingga saya bisa mengarahkan ****** saya ke lubang memeknya.

Saat kepala ****** saya mulai memasuki memeknya yang sudah basah, Atun sedikit tersentak, tapi saya terus menyodok kedalam sehingga ****** saya terbenam seluruhnya.
“aaaaaaaakh…..pak” , desah Atun lirih, “ennnaaaak….paaaaak”

Saya tetap menekan dan kemudian mulai menarik ****** saya. Waah…. memek Atun bagaikan menjepit ****** saya dan seperti tidak mau melepaskan ****** saya. Memek Atun ternyata sempit sekali dan ****** saya terasa bagaikan dihisap-hisap dan diremas-remas dengan denyutan-denyutan yang sungguh nikmat sekali.

Saya menarik dan menekan dengan kuat secara berulang-ulang sehingga biji saya terdengar beradu dengan pantat Atun yang mulus, plak….plak….plak….. saya tetap memeluknya dari belakang dengan tangan kiri yang tetap berada di tetek sedangkan jari tangan kanan saya berada di dalam mulut Atun.

Mulut Atun menghisap-hisap jari saya bagaikan anak bayi yang telah kelaparan mendapatkan susu ibunya , matanya terpejam bagai orang sedang bermimpi. Badannya separuh , dari pinggang keatas condong kedepan, membungkuk pada sandaran sofa, sedangkan pinggangnya berusaha untuk mengimbangi gerakan maju mundur yang saya lakukan.

Bila saya menekan ****** saya untuk membenamkannya lebih dalam kelubang memeknya, Atun segera mendorong pantatnya kebelakang untuk menyambut gerakan saya dan kemudian secara cepat mengayunkan pinggulnya ke kiri dan ke kanan bergantian. Aah ….. Atun, ternyata luar biasa enaknya memek kamu.

Saya benar-benar menikmati tubuh dan memek Atun. Kami melakukan gerakan-gerakan seperti ini selama beberapa waktu, sampai suatu saat badan Atun mengejang , kedua kaki nya juga mengejang serta terangkat kebelakang . Memeknya meremas dan menghisap-hisap ****** saya dengan keras dan berusaha untuk menelan ****** saya seluruhnya.

“aaaaaaaaaaaaahhhhh …..” desah Atun panjang Akhirnya saya juga tidak tahan lagi, saya peluk badannya dan saya tekan ****** saya kuat-kuat kedalam memek Atun. Saya pun melepaskan cairan mani saya kedalam lubang memek Atun yang begitu hangat dan menghisap.

“hhhhheeeeeeeeeh” creeet…….creettt…..creet tttt Kami berdua langsung lunglai dan tertekuk kearah sandaran sofa dengan posisi ****** saya masih ada di dalam jepitan memek Atun.

Setelah kami recover, saya buru-buru memungut sarung, mematikan televisi dan berdua berjalan kearah belakang ; Atun langsung berbelok kekamarnya, tapi sebelumnya ia berkata halus, ” terima kasih yaa… pak” dan sambil tersenyum nakal ia meremas ****** saya.

Saya langsung mandi lagi untuk membersihkan keringat yang mengalir begitu banyak, setelah itu ke kekamar berbaring sambil memeluk isteri saya dan tertidur lelap dengan puas.

Dipagi hari saya tersentak bangun karena merasakan sepasang tangan yang mengelus-elus ****** saya, secara refleks saya melihat jam dinding dan melihat jam sudah menunjukan pukul sembilan pagi.

” looo ..” , pikir saya ” kok isteri saya tidak bekerja hari ini”

Langsung saya mengangkat kepala melihat kebawah; lho…. ternyata bukan isteri saya yang sedang mengelus-elus ****** saya tetapi Atun yang sedang menunduk untuk mencium ****** saya, yang sudah keras dan tegang.

“Tun….. ayo naik kesini”, kata saya kepadanya, sambil bangun terduduk saya menarik badannya dan mulai membuka dasternya, ternyata Atun sudah tidak memakai apa-apa dibalik dasternya.

Bandar Poker - Dewagalau


Langsung saya balikkan badannya dan mulai mencium memeknya yang wangi, sedangkan Atun langsung juga mengulum ****** saya dimulutnya yang kecil; waah Atun langsung cepat belajar dari tontonan film tadi malam rupanya.

Saya mulai menjilat-jilat memeknya dan sesekali mengulum serta mempermainkan klentitnya dengan lidah saya, Atun tergelinjang dengan keras dan terdengar desahannya, “hheeeh….heeeehhh” Dari lubang memeknya mengalir cairan hangat dan langsung saja saya jilat ….. mmmh…enaknya…

Setelah itu saya tarik Atun untuk jongkok di atas badan saya, sedangkan saya tetap terlentang dan Atun mulai menurunkan badannya dengan lubang memeknya yang sempit itu tepat kearah batang ****** saya yang sudah sangat tegang sekali.

“hhhheeehhhh”….cleeeep, batang ****** saya masuk langsung kedalam lubang memeknya dan terbenam sampai keujung biji saya, “oooohh enak bener Tun….memek kamu” kata saya, Atun sudah tidak menjawab lagi, dia menaikkan pantatnya dan kemudian dengan cepat menurunkannya dan memutar-mutar pinggulnya dengan cepat sekali berkali-kali, sambil terpejam dia mendesah-desah panjang terus menerus karena keenakkan…..

Batang ****** saya terasa mau putus karena enaknya memek Atun, benar-benar nikmat sekali permainan dipagi hari ini; Sesekali saya duduk untuk memeluknya dan terus meremas-remas teteknya yang keras. “ooooh …. Atun….ennaaaak”

Atun kemudian berhenti sebentar dan memutarkan badannya sehingga pantatnya menghadap wajah saya, sambil terus menaik-turunkan pantatnya, memeknya tetap menjepit batang ****** saya dengan jepitan yang keras dan berdenyut-denyut…..

Akh , akhirnya saya tidak tahan lagi, sambil memeluk pinggangnya saya berusaha menekan batang ****** saya sedalam-dalamnya dilubang memek Atun , badan Atun pun mengejang dan bersama-sama kita mencapai orgasme. Pagi hari itu saya dan Atun bermain sampai jam 13:00 siang, berkali-kali dan berbagai-bagai gaya dengan tidak bosan-bosannya.

Sejak pagi itu, saya selalu dibangunkan oleh isapan lembut dari mulut mungil Atun, kecuali bila hari libur dimana isteri saya berada di rumah.

Cerita Sex : Kado Ulang Tahun Yang Tak Spesial

 Kado Ulang Tahun Yang Tak Spesial | Agen Poker Online Terpercaya

Masih ingat kisahku tentang Service Plus bersama Kika? Akhirnya hubunganku dengannya berlanjut dengan pertemuan-pertemuan rutin untuk saling mereguk kenikmatan. Kika yang semula polos makin canggih bermain dan berlomba denganku untuk memberikan service yang paling memuaskan. Selalu ada saja ide baru yang dilontarkan dan minta dipraktekan. Ide terakhir yang cukup gila adalah ingin main bertiga.
Caranya yaitu dengan menyerahkanku sebagai hadiah di hari ultah sahabatnya yang bernama Desy, seorang wanita karir yang sukses.

Pertimbangannya adalah bahwa Desy sudah lama putus hubungan dengan pacarnya, dan tentunya merindukan sesuatu untuk memenuhi hawa nafsunya. Ide yang bagus pikirku, dan aku langsung menyetujuinya.

Beberapa hari kemudian, aku dan Kika datang ke pesta ultah Desy di sebuah disco hotel berbintang lima. Takjub juga aku melihat tampang Desy sewaktu diperkenalkan oleh Kika. Tampangnya imut banget tapi tampak anggun dengan gaun malam hitamnya yang cocok sekali di tubuhnya yang kecil, ramping tapi padat.

Desy cukup kaget waktu Kika bilang kalau aku adalah kado ultahnya. Barulah setelah acara usai dan kita naik ke Suite Room mewah yang sengaja Desy booking untuk mereka berdua seperti biasa setiap selesai acara ulang tahunnya, ia mengerti.

“Aku siap untuk men-service tuan putri”, candaku pada Desy begitu kita bertiga memasuki kamar mewah itu. Desy hanya tersipu malu yang membuat wajah imutnya makin manis.

“Aku mandi dulu yah… keringetan nih”, katanya sambil berjalan menuju arah kamar mandi.

“Tidak usah Des…” cegah Kika, “Biar dia aja yang mandiin”, lanjutnya sambil memainkan matanya padaku untuk segera menghampiri Desy.

Langkah Desy pun terhenti di depan ruang bar ketika aku sudah berada tepat di belakangnya. Tubuhnya yang mungil itu langsung kupeluk dari belakang tanpa ada perlawanan apapun. Desy langsung menggeliat waktu bibirku kudaratkan di telinga sambil kugigit-gigit kecil daun telinganya.

“Aaah… geliii”, rintih Desy. Rambutnya yang pendek memudahkan bibirku turun ke lehernya yang jenjang sampai ke tengkuknya yang berbulu halus itu.

Di situlah kurasakan harum tubuhnya yang sensual dari parfum yang telah bercampur keringatnya yang belum hilang. Justru kulit mulusnya yang licin dan berkilat terkena sinar lampu itu makin melancarkan jalannya bibirku menjelajah bagian atas tubuhnya.

Model gaun malamnya yang hanya sebatas dada juga menunjang kebebasanku mengecup, menggigit kecil serta menjilati kemulusan kulit leher dan sepanjang bahunya.

“Emmh… sssh…” desah Desy lagi sambil mengangkat kedua tangannya ke atas memegang ujung kepalanya.

Aku makin bernafsu lagi melihat ketiaknya yang bersih dan halus tak berbulu itu terbuka lebar. Dari bahu, kutelusuri sedikit lengannya yang kanan bagian dalam dan langsung kuturunkan bibirku ke ketiaknya.

Desy kegelian dan langsung menurunkan tangannya sehingga kepalaku terjepit di antara lengannya. Aku tak berhenti beroperasi, malah kuhirup sepuas-puasnya aroma ketiaknya yang harum segar itu dengan menggeser-geser hidungku di situ dan kuakhiri dengan jilatan-jilatan lidahku.

Entah karena merasa nikmat, Desy akhirnya membuka lagi tangannya dan menaikkannya lagi ke atas, bahkan memiringkan tubuhnya ke kanan memberikan kesempatan kepalaku untuk masuk ke ketiaknya yang sebelah kiri.

Tak kusia-siakan kesempatan ini, langsung kusapukan hidung dan bibirku di situ yang membuat Desy makin menggelinjang. “Sssh… Mas udah yaah… tidak tahan niiih”, pinta Desy manja sambil berusaha membalikkan tubuhnya.

Kini wajah imutnya tepat berada di hadapanku. Nafasnya yang masih tersengal-sengal membuat bibirnya yang merah mungil makin merekah dan terkesan sensual. Tanpa menunggu lama, kukecup bibir tipisnya perlahan. Kugeserkan lidahku di seputar bibirnya, dan ketika bibirnya makin membuka, lidahku kumasukkan menjelajah bagian dalam.

“Mmmph… mmmph”, erang Desy kenikmatan. Desy mulai aktif dengan menggeluti lidahku dengan lidahnya, dan ketika berhasil kupancing keluar, lidahnya kuhisap lembut.

Sementara itu, jari-jariku menggerayang ke leher Desy dan terus turun ke bagian dada. Mula-mula kuusap lembut bagian atas buah dadanya yang menyembul karena ketatnya penutup dadanya. Kemudian tanganku bergeser lagi sampai tepat di depan gundukan buah dadanya yang masih tertutup gaun itu.

Desy menggelinjang ke sana ke mari merasakan putaran-putaran telapak tanganku di dadanya, yang bersamaan dengan pagutan bibirku yang makin liar ke bibirnya.

“Mmm… mmph… sssh… gila kamuu Don… aaah… mmmph”, desah Desy menahan nikmat.

Kika yang sejak tadi memperhatikan, tiba-tiba berada di belakang Desy dan membuka retsleting gaun Desy pelan-pelan. Yang terjadi kemudian adalah mengendurnya bagian atas gaun Desy sehingga dengan mudah tanganku menyusup ke dalamnya. Aku sempat kaget ternyata tanganku langsung menyentuh kekenyalan buah dada Desy yang ternyata tak ber-BH itu.

“Mmmph…” hanya itu yang keluar dari mulut Desy karena bungkaman bibirku waktu Desy merasakan rangsangan yang hebat di kedua bukitnya.

Di tanganku, buah dadanya terasa begitu bulat dan kencang. Putingnya yang mengeras makin menambah nafsuku memainkan jari-jariku di situ. Kika membantu menurunkan lagi gaun atas Desy hingga pinggul, lalu menarik kedua tangan Desy yang pasrah itu ke belakang sambil mendudukkan Desy ke kursi bar yang tinggi.

“Mas… silakan yang ini diservice…” kata Kika seolah menyodorkan buah Dada Desy untuk kulumat.

Aku yang baru selesai mengistirahatkan bibirku dari bibirnya, baru bisa melihat bebas kedua bukit Desy yang terpampang persis di depan wajahku. Ternyata memang benar-benar indah walaupun tak begitu besar. Bentuknya bulat, kencang dan ranum dengan putingnya yang merah muda, kontras sekali dengan warna kulitnya yang putih mulus dan berkilat itu.

Aku tak sabar lagi, kubenamkan dan kusapukan wajahku ke belahan dadanya yang membuat Desy melenguh panjang sambil menggeliat. Setelah itu kukecup dan kujilat-jilat di seputar gundukan bukitnya yang harum itu bergantian.

Kadang kusapukan bibirku dari samping ketiaknya, kadang dari arah perutnya ke atas, tapi tak sampai menyentuh putingnya yang makin mencuat itu. Aku memang sengaja karena aku punya rencana lain nanti.

Rupanya Kika terus beraksi, kali ini gaun Desy yang sudah setengah tersingkap sebagian itu dilepaskannya lagi ke bawah sekaligus dengan CD-nya. Desy yang sedang menikmati ganasnya ciumanku di seputar buah dadanya cuma bisa pasrah. Aku pun lalu menghentikan seranganku dan turut membantu melepaskan gaunnya yang sudah berada di betisnya.

Kaki Desy masih tertutup rapat waktu kulepas gaunnya dari kakinya yang jenjang itu, dan mungkin masih merasa risih mempertontonkan bukit kemaluannya. Walaupun tidak tampak penuh, namun bulu-bulu kemaluan bagian atasnya yang tak begitu lebat itu membuatnya benar-benar tampak sensual.

Kika menyuruh Desy untuk pindah duduk dari kursi ke meja bar di atasnya. Aku mengerti maksud Kika agar aku bisa bebas menikmati bagian bawah tubuh Desy untuk melengkapi service-ku. Satu-satunya yang menempel di tubuh Desy kini tinggal sepatu tingginya saja yang ditumpangkan di atas kursi bekas yang dia duduki tadi.

Bandar Ceme Online Terpercaya - Dewagalau


Tanganku kemudian meraba halus kaki kanannya yang ditumpangkan ke kaki kirinya, dari atas paha, lutut, hingga betisnya yang sangat indah itu.

Sepatunya kemudian kubuka perlahan, dan nampaklah keindahan kakinya yang ramping, halus dan bersih dengan jari-jari kakinya yang mungil tak berkutek. Kugenggam kakinya dengan tangan kiriku, lalu kudaratkan ciumanku di punggung kakinya terus pelan-pelan sampai ke ujungnya. Desy yang tak pernah diperlakukan seperti ini tetap pasrah dan mendesah kecil,

“Ssshh… aahhh… aaaw… geliii”, lanjutnya lagi waktu lidahku sudah berputar-putar di tumit lalu kusapukan di sepanjang telapak kakinya.

Kakinya lalu berontak saat kuhisap jari kakinya yang tengah, namun karena genggamanku cukup kuat, kaki Desy tak banyak bergeming sehingga bibirku pun akhirnya bebas menghisap satu persatu jari kakinya yang mungil-mungil itu.

Posisi badan Desy pun akhirnya bukan lagi duduk tapi merebah ke belakang sambil terus mendesah menahan nikmat. Tanganku kemudian membuka satu lagi sepatunya dan langsung kuarahkan ke wajahku juga. Karena bibirku sibuk menjilat dan menghisap kaki kanannya, kakinya yang kiri hanya bisa kutelusuri dengan hidungku saja, sekaligus merasakan aroma khas kaki si wanita karir yang imut-imut ini.

Tubuh Desy terus menggeliat hingga tak sadar kedua kakinya menurut saja ketika kurenggangkan perlahan-lahan sambil terus kuciumi. Kaki kanannya kutaruh di kursi di sebelah kiriku, sedang yang satunya di kursi sebelah kananku. Otomatis kakinya terkangkang dan barulah tampak gundukan liang kemaluannya yang terbuka bebas di hadapanku.

Untuk menuju ke sana, aku harus menuntaskan perjalanan bibirku dahulu, yaitu dari kakinya terus ke atas melewati betis, lutut bagian dalam dan pahanya yang benar-benar putih mulus itu.

Desy tampak pasrah lagi dan sabar waktu bibirku menciumi paha bagian dalam kanan dan kiri secara bergantian.

“Tuan putri mau diapain lagi nih?” kataku bercanda sambil terus meneruskan sapuan lidahku ke pangkal pahanya. “Aaagh… terusin please… lakuin apa ajah… puasin akuuu…” kata Desy lagi yang menggeliat sambil rebahan di meja bar dengan posisi kedua kakinya yang mengangkang lebar.

Tanpa menungggu lama, kusapukan lidahku tepat di belahan lubang kemaluannya yang merah merekah itu. “Aaaw… ssshh”, rintihnya menahan nikmat yang tak terkira.

Bersamaan dengan itu, tiba-tiba aku dikejutkan dengan terbukanya celana panjangku, bahkan kemudian CD-ku. Rupanya Kika yang sejak tadi menahan nafsu, menghampiriku dan langsung melucuti celanaku. Batang kemaluanku yang menegang jadi mencuat bebas tanpa terhalang. Kika langsung menempatkan dirinya di antara kedua kakiku, dan dengan posisi jongkok, dilumatnya batang kemaluanku tanpa basa-basi lagi.

Dengan ganasnya Kika mengulum kemaluanku dengan sesekali menjilat panjang batanganku, kemudian bervariasi lagi dengan kocokan mulutnya yang bergerak maju-mundur. “Kreatif juga nih Kika”, pikirku sambil merasakan nikmat goyangan lidahnya yang makin jago di sepanjang batang kemaluanku.

Sementara itu di antara paha Desy, sapuan-sapuan lidahku di belahan kemaluannya berlanjut dengan putaran-putaran lidahku di bibir kemaluannya. Tubuh Desy makin menggelinjang tidak karuan, apalagi waktu ujung lidahku mulai menyentuh klitorisnya yang mungil.

“Uuugh… aaahh… awww”, teriaknya merasakan jilatan dan sedotan bibirku di klitorisnya. P

inggulnya bergoyang ke sana ke mari bahkan tubuhnya yang mungil itu makin bergeser maju ke arah kepalaku. Kedua kakinya kini digantungkannya di atas bahuku, dan agar tidak jatuh kutopang pantatnya dengan kedua tanganku. Kepalaku makin terbenam diantara kedua pahanya, dan tiba-tiba tangan Desy menarik kepalaku kencang sekali ke selangkangannya.

“Aku mau nih… agh… aaaghhh”, teriak Desy bersamaan dengan kencangnya himpitan pahanya dan tubuhnya yang membusur ke atas.

Tangannya masih menekan kepalaku seolah tak mau dilepas, sehingga wajahku hanya bisa diam sambil merasakan hangatnya cairan kewanitaannya yang membanjir.

Di bawah, Kika pun telah selesai melaksanakan keinginannya melumat batang kemaluanku yang merupakan kepuasan tersendiri baginya. Kini batang kemaluanku tetap berdiri tegak dan tampak berkilat bekas hisapan dan jilatan-jilatan lidah Kika. Bersamaan dengan itu, himpitan paha Desy berangsur mengendor dan tubuhnya langsung kupeluk sambil menggendongnya dari depan setelah Desy melingkarkan kakinya di pinggangku.

Sambil kuciumi kembali bibirnya, tubuhnya kubawa ke ruang tamu. Kemudian dengan posisi tak berubah, aku duduk perlahan di sofa, sehingga tubuhnya kini kupangku di depanku. Kakiku tertutup lurus, sedangkan Desy kuangkat sedikit pinggulnya seperti berlutut, namun kedua kakinya menghimpit pahaku.

Maka jadilah pemandangan yang indah di mana buah dada Desy yang ranum menjadi tepat berada di depan wajahku. Sementara lubang kemaluannya tepat di atas batang kemaluanku yang tegak berdiri.

Pelan-pelan kuusap bongkahan pantatnya yang mulus sambil kuturunkan sedikit demi sedikit tubuhnya sampai..,

Aku sengaja pasif membiarkan Desy agar beraksi sendiri menaikkan dan menurunkan pinggulnya. Gerakannya itu membuat buah dadanya yang bergantung bergoyang-goyang dengan indahnya. Kesempatan itu kupergunakan dengan menjulurkan lidahku ke depan, sehingga putingnya yang mengeras itu menyentuh lidahku setiap kali lewat.

Desy tampak penasaran dengan perlakuanku. Hal ini memang kusengaja seperti rencanaku semula bahwa putingnya tak akan kusentuh sampai saat yang tepat. Benar saja, Desy yang sudah terangsang hebat menjadi ganas dan mulai meminta.

“Isep putingku… please…” erangnya sambil menjulurkan kedua tangannya lurus ke depan hingga menyentuh sandaran kursi sofa.

Kini buah dada Desy yang kanan langsung menempel di wajahku, dan putingnya yang tepat di mulutku, langsung kujilat dan kuhisap habis-habisan yang membuat tubuh Desy kelonjotan.

Kenikmatan di buah dadanya membuat gerakan pinggulnya tak beraturan, Kadang berputar kadang naik-turun. Kemaluanku pun makin basah oleh cairan yang keluar dari liang kemaluannya. Sambil terus membenamkan lubang kemaluannya, giliran buah dada kirinya yang disodorkan ke mulutku minta dihisap juga.

Desy tak ingin mencapai klimaks cepat. Dimintanya aku turun dari sofa dan merebah di karpet. Desy kemudian membalikkan badan kemudian jongkok tepat di atas batang kemaluanku dan langsung dibenamkannya lagi ke liang kemaluannya. Sambil jongkok Desy memegang kendali dengan menggenjot tubuhnya yang mungil sepuasnya. “Agh… aghh… aghh”, erang Desy kenikmatan sambil memelintir puting susunya.

Sementara itu Kika bikin kejutan lagi. Dia sudah berdiri di sampingku dalam keadaan bugil total. Kakinya yang jenjang itu tiba-tiba direnggangkannya tepat di atas kepalaku, dan tiba-tiba berlutut sehingga gundukan kemaluannya tinggal beberapa centi saja di atas wajahku.

“Ciumin ituku sepuasnya Don…” pinta Kika sambil pelan-pelan merenggangkan pahanya lebih lebar sehingga liang kemaluannya makin terbuka lebar dan siap untuk dijelajahi.

Lidahku langsung kujulurkan menyentuh liang kemaluannya yang disambut desahan suara Kika. Liang kemaluannya kuperlakukan seperti orang makan ice cream.

“Slurp… slurp”, begitu lidahku beraksi sambil mencari klitorisnya.

Kini aku men-service 2 orang sekaligus sambil rebahan di karpet. Batang kemaluanku bertugas menyodok-nyodok ke atas liang kemaluan Desy, dan lidahku menyapu liang kemaluan Kika. Goyangan Desy makin cepat bersamaan dengan rintihannya yang makin keras, tanda hampir mencapai klimaks. Tiba-tiba..,

“Aaaghhh…”, Desy berteriak sambil membenamkan dalam-dalam liang kemaluannya ke batang kemaluanku dan tubuhnya terasa mengejang hebat.

Desy langsung lunglai menelungkup ke depan tanpa melepaskan batang kemaluanku yang terasa membanjir dari liang kemaluannya.

Nampaknya Kika juga mau mengikuti kenikmatan yang diperoleh Desy.

“Kerasin lidahmu… ayooo”, pinta Kika yang makin hebat menggoyangkan pinggulnya.
Wajahku makin terbenam di selangkangannya, bahkan sampai membuatku gelagapan. Namun aku tetap menjalankan tugasku dengan mengencangkan lidahku hingga menyentuh klitorisnya. Pinggul Kika kemudian naik turun makin cepat sampai muncul erangan panjang Kika.

“Ooogh… aaaggh.” Cairan kewanitaannya membanjiri mulutku bersamaan dengan mengejangnya tubuhnya.

Walaupun wajahku masih terbenam di antara pahanya, namun sempat kulihat wajah Kika tersenyum puas.

Tak berapa lama kemudian, mereka duduk bersebelahan di pinggir sofa sambil memandang kemaluanku yang masih tegak berdiri.

“Curang yah… kita udah beberapa kali klimaks, tapi kamu belum… kalau gitu kita keluarin yuk Des…” kata Kika.

Aku kemudian disuruhnya berdiri dan Kika mengambil posisi berlutut di bawahku. Tangan Kika menggenggam kemaluanku dan mulai mengocok makin lama makin cepat. Desy cuma tertegun melihat kelakuan sahabatnya ini.

Aku yang sudah hampir sampai juga, mengambil alih tangan Kika dengan tanganku. Kika rupanya cepat tanggap. Dilepasnya tangannya, namun didekatkannya mulutnya ke batang kemaluanku sambil mengajak Desy mengikutinya.

Aku mengocok kemaluanku makin cepat, dan akhirnya…

“Aaaghhh”, erangku bersamaan dengan muncratnya spermaku.

Ternyata spermaku ditangkap oleh mulut-mulut mungil Kika dan Desy di bawahku sampai berlepotan di sekelilingnya, bahkan sampai di wajah-wajah yang imut-imut itu.

“Mau tidak dibersihin ininya?” kata Kika sambil mengusap kemaluanku.
“Tapi ada syaratnya lhoo, musti service kita lagi sampai pagi, oke?” lanjut Kika.

Begitu aku mengiyakan, mendaratlah lidah-lidah mereka di sepanjang batang kemaluanku seolah menyapu bersih sisa maniku, yang divariasi dengan hisapan mulut-mulut mereka yang mungil itu. Wah, rasanya bikin aku kelojotan.

Kupenuhi janjiku untuk men-service mereka lagi. Tubuh-tubuh mulus mereka yang banjir oleh keringat, kurebahkan menelentang di ranjang dan kutelusuri semua lekuk-lekuk tubuhnya dengan ciuman, hisapan dan jilatan tanpa ada yang terlewatkan. Mereka benar-benar menikmatinya hingga pagi, tidur sebentar, dan dilanjutkan sampai siang hari. Komentar Desy setelah selesai semua,

“Aku mau lho diservice tiap hari…” Alamak

Senin, 02 November 2015

Cerita Sex : Cewek Jepangku Yang Luar Biasa

Awal mula pertemuanku, di sebuah pesta valentine yang akhirnya berlanjut sampai sekitar 6 tahun. Memang pacaran merupakan awal bagi kami berdua. Maka aku mencoba untuk mempelajari arti pacaran bersamanya. Ini satu lagi pengalamanku sebelum bertemu Ira. Aku berpacaran dengan seorang gadis keturunan Jepang, sebut saja namanya Mei.

Ayahnya seorang Jepang yang telah menjadi WNI, sedangkan ibunya orang Indonesia asli keturunan Dayak. Jadi bisa dibayangkan anaknya berkulit putih mulus (kalau orang bilang kopi masuk tenggorokannya akan kelihatan).


Mungkin malam itu merupakan malam pertama bagi kami mencoba suatu yang baru dalam berpacaran. Di sebuah gedung bioskop aku dan dia bercumbu saling berciuman “hot” sekali sampai-sampai kami tidak tahu apa film yang kami tonton.

Kucium bibirnya sambil tanganku bermain di gunung kembarnya. Kutekan ke dalam puting susunya, ia pun mendesah “Aahh…” aku tak mengerti rasa apa yangsedang dialaminya.

Tanganku terus aktif menelusuri kedua bukit kembarnya sambil terus mendengar desahan mesra yang keluar dari mulutnya. Pasangan di sebelahku tampaknya ikut memperhatikan tapi kubiarkan mungkin mereka ingin merasakannya juga.

Tanganku terus merayap membuka kancing celana jeans-nya dan menarik retsleting dan terus masuk ke dalam CD-nya sampai mendapatkan bukit berbulu halus.

Kuusap-usap bukit itu dan jariku mulai mencari liang kemaluan yangtelah mulai basah keenakan. Jariku mulai memasuki lubang kemaluan itu dan terus bermain masuk-keluar, mulut mungilnya terus mendesah dan badannya sedikit mengejang.

Kurasakan bertambah basah kemaluannya, ternyata dia orgasme lagi. Kuambil tangan kanannya, kuantar ke kemaluanku, Mei seakan mengerti dan membuka kancing dan menarik retsleting celanaku. Ditangkapnya batang kemaluanku yang sudah mulai menegang dipermainkannya, aku cuma berbisik,

“Kocok dong!” Ia pun mengerti, tangannya mulai bermain ke atas dan ke bawah membuatku keenakan.

Mungkin ia melihat mataku terpejam keenakan. Mei terus mempermainkannya dengan tempo yang bertambah cepat, aku cuma bisa mendesah

“Terus Mei, enak.” Semakin cepat tempo yang dilakukan,semakin berdesir darahku.

Tangan Mei membuka lebih lebar retsletingku agar lebih leluasa tangannya bermain di kemaluanku.

Permainan dimulai lagi perlahan dan lama kelamaan semakin cepat.

“Jim kenapa? Enak ya.” Aku cuma tersenyum sambil mengangguk.
“Aah.. ahhhsedikit lagi nich terus… ach.. ach… achhh…” keluar sudah air maniku, aku segera menciumnya dengan penuh nafsu.

Mei berkata,

“Ih kok elo kencing sih… tangan gua basah nich.” Aku segera berbisik menjelaskan apa yang terjadi, kulihat dia mengerti dan segera berbisik lagi,
“Ada tissue nggak?” Ia pun segera mengambil tissue dan mulai mengelap kemaluanku yang telah basah tadi.

Aku cuma berbisik,

“Makasih ya, enak loh, belajar dimana?”

Mei tersenyum dan berbisik, 4:28 PM 3/10/2001″Loh kan elo yang ngajarin.”

“Iya bener,” jawabku sambil tersenyum.

Film pun berakhir, kami pulang ke rumahnya dan pucuk di cinta ulam tiba, ayahnya belumlah sampai di rumah, kedua adiknya tidak pulang karena harus menginap di rumah saudaranya. Aku pun tidak mau merugi. Kumanfaatkan kesempatan,

“Mau yang lebih enak nggak?” kutarik tangan Mei dan mulai kukulum bibir mungilnya.
Tanganku pun mulai aktif bermain di kedua bukit kembarnya. Kutekan ke dalam puting susunya ia pun mendesah “Ach…” entahmengapa semakin aku mendengar desahan Mei semakin ganas mulutku bermain.

Kujilati seluruh leher dari mulai tengkuk sampai ke lehernya, desahan Mei pun semakin merangsangku. Sesekali kukulum bibir mungil Mei. Ia pun sudah mulai mengerti dengan membalas kulumanku. Kujulurkan lidahku ke mulut Mei dan memancing agar lidahnya juga terjulur. Aku pun mengajarkan secara tidak sengaja “French Kiss” yang menurut sementara orang merupakan cara berciuman yang paling nikmat.

Tanganku semakin aktif kubuka baju Mei sampai terlihat kedua bukit kembar menantang ditutupi BH warna pink. Kutarik tangan Mei ke arah kemaluanku. Kubuka BH penghalang itu dan lidahku mulai bermain, kujilati kedua puting susu kemerahan itu bergantian. Semakin kujilati dengan mesra semakin nikmat yang Mei rasakan. Sesekali kupandang mata Mei yang terpejam merasakan nikmatnya. Sesekali kusedot dan

“Ach… Jim terusss… Jim, enak bener… achh.. achhh Jim enakkk… terusss.” Kata-kata itu terus keluar dari mulut Mei yang mungil.

Lidahku semakin lincah mendengar suara desahan itu. Kujilati terus seluruh bukit kembar itu dan terkadang leher jenjang Mei sampai ia merasakan nikmatnya permainan ini dan akhirnya,

“Aachhh…”tubuh mungil itu menggelinjang. Aku segera mengerti bahwa Mei telah orgasme untuk yang pertama.

Tangan Mei sudah semakin mengerti, dibukanya kancingdan restletingku, dipegangnya batang pusaka itu dan dimainkannya naik turun. Perlahan tapi pasti dan dengan tempo yang semakin cepat.

“Achhh…” kurasakan semakin nikmat.

Ternyata memang tak percuma pengalaman di bioskop tadi yang kuajarkan.

Darahku semakin berdesir, rasa nikmat tiada duanya kudapat. Segera kutundukkan kepala Mei sambil kubisikkan,

“Isep dong!” Mei pun mengangguk dan mulut mungil itu telah bermain dengan kemaluanku.

Dijilatinya dari kepala sampai batang dan sesekali dimasukkannya batang itu ke mulutnya sambil kurasakan hisapan hangatnya. Tangan Mei pun tak berhenti bergerak naik turun. Sesekali dihisapnya ujung kemaluanku, kulihat pipinya menggembung akibat mulutnya kemasukkan batang wasiat peninggalan nenek moyang.

“Achhh…” keluar desahan dari mulutku.

Semakin nikmat kurasakan, aku pun segera menarik Mei, kubuka celana jeans-nya dan kuarahkan lidahku kekemaluannya yang sudah membasah. Kujilati terus lubang kemerahan itu dan sampai ke klitoris merah yang menantang. Kujilati terus dengan perlahan tapi pasti. Terus kupandangi wajah Mei yang terpejam kenikmatan.

Bandar Ceme Online Terpercaya - Dewagalau


Tangan Mei sesekali memegangi kepalaku menahan nikmat yang kuberikan. Kupandangi lubang kenikmatan itu. Jari-jari nakalku mulai bermain. Kumasukkan jari telunjukku ke dalam kemaluan Mei. Kupermainkan kemaluan itu dengan jariku, keluar-masuk. Terus kulakukan sambil sesekali menambah tempo lebih cepat. Mei pun menggelinjang,

“Achh… achh… achhh…” Keluarlah air kenikmatan membasahi kemaluan Mei.

Kulihat Mei terkulai kenikmatan, kutarik badannya dan kutempatkan di sofa single dengan posisi menantang menghadapku. Kuarahkan batang kemaluanku ke lubang kemaluan Mei sambil kuangkat kedua kaki indah itu di atas pundakku. Kuangkat sedikit pantat indah itu agar semakin mudah batangku mengarah.

“Echh.. echhh… blessss…” akhirnya berhasil juga batang wasiat itu masuk, terus kugerakkan keluar masuk.

Kulihat Mei terbujur sambil matanya yang terpejam merasakan nikmatnya suasana.

“Terus… terus… Jim, perlahan-lahan biar nikmat.” Aku terus tanpa peduli memacu kemaluanku sampai akhirnya… “Achhh….” keluarlah air mani dari kemaluanku dan Mei pun menggelinjang menahan air nikmat yang keluar dari kemaluannya.

Kami terkulai lemas, kulihat Mei tersenyum sambil berbisik,

“Mau lagi dong!” Aku pun semakin tertantang, kutarik kepala Mei dan sedikit kutundukkan, Mei pun mengerti.

Segera mulut mungil itu bermain di kemaluanku menjilati sampai bersih air maniku. Setelah bersih, kembali mulut mungil itu bermaindengan tongkat wasiatku. Batang kemaluanku masuk ke dalam mulutnya dan tangan kanannya bermain naik turun.

Batang kemaluanku pun yang telah kuncup kembali menegang, darahku kembali berdesir. Nikmat yang kurasakan terasa lebih nikmat. Aku tak kuasa berkata-kata cuma desahan dan nikmat yang luar biasa yang bisa kurasakan.

Setelah tak tahan merasakan nikmat yang luar biasa, aku pun berbalik menarik Mei untuk membangkitkan lagi rangsangan untuknya. Kujilati Kedua payudara menantang dan terus lidahku bermain sampai mengarah ke lubang kemaluan Mei.

Kujilati habis bagai anjing yang kehausan, terus kujilati sambil sesekali melirik Mei yang semakin teransang kenikmatan. Kubukalebar kedua paha Mei sehingga terlihat lubang menganga yang menunggu kedatangan batang wasiatku. Kujilati klitoris kemerahan dengan perlahan tapi pasti,

“Achhh…” Mei kembali mencapai orgasme.

Melihat Mei terkulai lemas kuangkat badannya sehingga menghadap membelakangiku. Kuangkat sedikit pantat Mei sehingga membuat posisi menungging atau kalau orang barat bilang “doggy style”.

 Kuarahkan batang kemaluanku, tetapi terasa sulit sekali untuk masuk. Terus aku berusaha sampai akhirnya kubuka sedikit kedua paha Mei. Kuhujam batang kemaluanku dan akhirnya dengan sedikit usaha masuk kembali batang itu ke kemaluan Mei.

Tanganku berpegang pada kedua pinggul Mei dan perlahan tapi pasti kupacu batang kemaluanku keluar dan masuk lubang kemaluan Mei.

Agak seret memang posisi ini dibanding posisi sebelumnya, sehingga agak sulit bagiku untuk menambah tempo, tapi aku terus berusaha menambah tempo. Semakin cepat dan semakin cepat, “Jim pelan-pelan, sakit,” tiba-tiba kata-kata itu keluar dari mulut Mei.

Sebentar kupandang wajah Mei yang meringis kesakitan,

“Tapi enak kan?” Kulihat Mei mengangguk, maka semakin tidak pedulilah aku terus memacu gerakan keluar masukku.

Terus kupacu sampai sekitar 15 menit kurasakan cairan hangat mulai membasahi kemaluanku. Mei mulai terkulai lemas, tanpapeduli terus kupacu batang kemaluanku untuk terus mencapai klimaks.



 Memang terasa lebih lama permainan yang sekarang dibanding permainan tadi, terus kupacu sampai akhirnya kurasakan sesuatu akan melesak keluar dari kemaluanku.

Kucabut keluar batang kemaluanku dan kubalikkan badan Mei yang sudah terkulai lemas. Kukocok sendiri batang kemaluanku dengan tempo tinggi sampai akhirnya

“Achhh… ssshhh…” keluar air maniku dan kuarahkan ke payudara Mei.

Aku pun terkulai lemas dan kubisikkan Mei agar mengusap air maniku ke seluruh permukaan payudaranya.

“Biar lebih kenceng,” kataku.

Mei cuma diam dan melakukan apa yang kuinginkan. Setelah selesai,

“Masih mau yang lebih enak lagi?” tanyaku.
“Iya dong,” jawab Mei sambil terkulai lemas.

Aku cuma mengangguk sambil mengingatkan bahwa ayahnya sebentar lagi pulang.

Kami segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Betul saja tak lama kemudian terdengar suara klakson mobil, aku segera keluar membukakan pintu garasi.

“Selamat malam Om,” sapaku.

Ayah Mei hanya tersenyum dan masuk ke rumah. Setelah bercanda sebentar aku pun pamit pulang. Kubisikkan,

“Nanti gua ajarin lagi yang lebih enak.” Mei cuma tersenyum dan mengangguk tanda setuju. Aku pun segera pulang dengan hati senang.

Minggu, 01 November 2015

ML Dengan Pembantu Lugu

Namanya Tinah, dari kampung. Suaminya meninggal tahun kemarin, hampir berbarengan dengan salah satu anaknya juga. Kini satu – satunya anaknya tinggal dengan ibunya di desa. Tinah berwajah cukup manis; lumayan tinggi untuk ukuran perempuan kita; rambut sepundak lebih; hampir seumur adikku. 

Ia sebagian besar bertugas mengasuh anaknya adikku yang masih di bawah balita, walau juga membantu satu temannya bersih – bersih rumah. Kondisi psikologisnya yang seperti itu membuatnya sering terlihat diam dan kurang dapat memahami apa yang diperintahkan adikku, kasihan memang.

Aku termasuk cukup sering berkunjung ke rumah adik. Karena suaminya sering ke luar kota, sehingga aku terkadang diminta untuk menemani atau bila mereka sedang ke luar kota bersama maka aku yang menjaga rumah. Sikapku terhadap Tinah dan temannya biasa saja, tidak ada yang khusus. Mereka pun demikian. Tinah berpakaian biasa – biasa saja bila di rumah adikku. 

Berkaos dan bercelana selutut, kadang memakai rok. Terkadang kaos yang dipakai Tinah sedikit longgar. Sehingga jika ia menundukkan badan, sedikit terlihat belahan dada bahkan gunung kembarnya yang masih tertutup BH. Wajar jika aku kadang – kadang mataku mencuri – curi kesempatan itu. Ukurannya biasa saja, 32 mungkin.

Saat itu aku sedang diminta menjaga rumah adik, karena keluarganya akan pergi hingga sore dan Tinah tinggal di rumah, karena kondisi perutnya yang kurang baik. Menjelang keberangkatan keluarga adik, aku sudah datang di sana.

“Mas..Tinah di rumah, perutnya agak kurang beres.  adikku memberi tahu. “Oo..ya“, jawabku. Tak berapa lama mereka telah berangkat. Aku bergegas memasukkan sepeda motor ke dalam rumah. Tinah lalu mengunci pagar. 

Aku masuk rumah lalu cepat – cepat duduk di depan komputer, browsing, karena suami adikku memasang internet untuk mendukung pekerjaannya. Mengecek email; cari info ini itu dlsb..he3x. 10 menit kemudian Tinah menyajikan segelas es teh untukku. 

“Makasih ya Tin“, ucapku. “Iya Pak..silakan diminum“, kata Tinah. Pembantu – pembantu adikku memang dibiasakan memanggil “Pak“ pada saudara – saudara majikannya, padahal terdengar sedikit asing di telinga. Tinah lalu kembali ke dapur, aku lalu meminum es tehnya, “Hah..segernya“, cuaca sedikit panas walau agak mendung.

Tinah kembali memasuki ruang keluarga, merapikan mainan – mainan anak adikku. Posisi meja komputer dan mainan yang bertebaran di lantai selisih dua kotak. Semula aku belum ngeh akan hal itu. Semula mataku menatap layar komputer di situs DS. 

Saat Tinah mulai memasukkan kembali mainan – mainan ke keranjang, baru aku menyadarinya. Sesekali aku meliriknya. “Sedikit putih ternyata anak ini. Bodynya biasa aja sih, langsing dan kayaknya masih padat. Wah..ini gara – gara masuk situs DS jadi mikir macem – macem..hi3x“, pikiranku berkata – kata. 

Karena jarak kami yang lumayan dekat, maka ketika Tinah bersimpuh di lantai merapikan mainan di keranjang, otomatis kaosnya yang sedikit longgar memperlihatkan sebentuk keindahan yang terbungkus penutup warna biru. Tinah jelas tidak tahu kenakalan mataku yang sedang menatap sebagian keindahan tubuhnya.

 “Andaikan aku…uhh..ngayal nih“. Tak terasa penisku mulai membesar, “Ke kamar mandi mbetulin posisi penis nih..sambil kencing“. Komputer kutinggal dengan layar bergambar Maria Ozawa sedang disetubuhi di kamar mandi. 

Aku lalu masuk kamar mandi, membuka jins dan cd lalu mengeluarkan penis. Agak susah juga kencing dengan penis yang sedikit tegang. “Lah..pintu lupa tak tutup“, aku terkejut. “Terlanjur..gak ada orang lain kok“, aku mendinginkan diri.

Aku keluar dari kamar mandi dan kembali duduk di depan komputer, melanjutkan ngubek – ubek DS. “Cari camilan di meja makan ah..jadi lapar“. Aku mencari apa yang bisa dimakan untuk menemani kesibukan nge – net. 

“Ada roti sama biskuit nih..asyik“. Roti kusemir mentega dan selai kacang dan diatasnya kulapis dengan selai blueberry, “Hmm..enaknya. Nanti bikin lagi ah..masih banyak rotinya“. Rumah adikku tipe agak kecil, jadi jarak antar ruangan agak dekat. Letak meja makan dengan kamar pembantu hanya 3meter – an. Kulihat dengan ujung mata, 

Tinah sedang di kamarnya entah beraktifitas apa. Selesai menyelesaikan semiran roti, aku kembali ke ruang keluarga yang melewati kamar pembantu dan kamar mandi mereka. 2detik aku dan Tinah bertatapan mata, tidak ada sesuatu, biasa saja. Kumakan roti sambil n – DS lagi.

Terdengar gemercik air di belakang. Mungkin Tinah sedang mencuci perabotan dapur atau sedang mandi. “Belum ambil air putih nih..“, tak ada maksud apa – apa dengan suara air tersebut. 

Hanya kebetulan aku belum minum air putih, walau telah ada es teh. Aku ke ruang makan lagi dan mengambil gelas lalu menuju dispenser. Mata dan pikiran hanya tertuju pada air yang mengucur dari dispenser. Baru setelah melewati kamar mandi pembantu ada yang special di sana. 

”Lah..pintunya kok sedikit mbuka. Tin lupa dan sedang apa di dalam..moga gak mandi. Bisa dilaporin ngintip aku”. Masih tak terlihat kegiatannya, setelah tangan yang sedang menggapai gayung dan kaki yang diguyurnya baru aku ngeh..Tinah sedang mandi. 
”Duhh..kesempatan sangat – sangat langka ini..tapi..kalo dia teriak dan nanti lapor adikku..bisa gawat bin masalah. Berlagak gak liat aja ahh”. Aku menutup pintu kaca ruang makan dan melewati kamar mandi Tinah. Tiba – tiba ”Ahh..ada kecoak..Hush..hush..Aduhh..gimana nih”, terdengar keributan di sana. ”He3x..ternyata dia takut kecoak toh”, aku tersenyum sambil pegang gelas saat melewati kamar mandi.

”Pak..Pak”, Tinah memanggilku. ”Walah..malah panggil aku. Gimana nih”. ”Tolong ambilkan semprotan serangga di gudang ya Pak..cepet ya Pak..atau..”, tidak terdengar lanjutan kalimatnya. Sejak Tinah bersuara, aku sudah berhenti dan diam di dekat pintu kamar mandi. 

”Atau..Bapak yang masuk pukul kecoaknya..mumpung masih ada”, lanjutnya. Deg..”Ini..antara khayalan yang jadi nyata dan ketakutan kalo dilaporkan”, aku berpikir. ”Cepet Pak..kecoaknya di dekat kloset. Bapak masuk aja..nggak pa – pa. Nggak saya laporin ke Bapak sama Ibu”, Tinah tahu keraguanku. 

”Jangan ah..nanti kalo ada yang tau atau kamu laporin bisa rame”, jawabku. ”Nggak Pak..bener. Aduh..cepet Pak..dia mau pindah lagi”, Tinah kembali meyakinkanku dan meminta aku cepat masuk karena kelihatannya si kecoak mau lari lagi. ”Ya udah kalo gitu. Bentar..ambil sandal dulu”. 

Sambil tetap menimbang, take it or leave it. Aku menaruh gelas di meja makan lalu mengambil sandal untuk membunuh kecoak nakal itu. Entah rejeki atau kesialan bagiku tentang kemunculannya. ”Aku masuk ya Tin”, masih ragu diriku. ”Masuk aja Pak”, Tinah tetap membujukku. Kubuka pintu kamar mandi sedikit, lalu kuintip letak kecoaknya, belum terlihat. Pintu dibuka lebih lagi oleh Tinah. 

Kepalanya sedikit terlihat dari balik pintu dan tangannya menunjuk letak kecoak, ”..tuh Pak mau lari lagi”. Aku melihatnya dan mulai masuk. Tinah berdiri di balik pintu dengan menutupi sedikit bagian tubuhnya dengan handuk. 

Terlihat paha; pundak dan daging susunya. Serta rambut yang diikat di belakang kepalanya, walau hanya sedikit semua. Handuknya menutupi bagian paha ke atas, perut hingga bagian dada, warna biru, yang disangga tangan kirinya. Semua hal itu dari ekor mataku, karena fokusku pada sang kecoak. ”Memang mulus dan cukup putih”, masih sempat aku memikirkannya. Bagaimana tidak, jarak kami hanya 2 – 3 langkah, tidak ada orang lain lagi di rumah.

”Plak..plak”, kecoak pun mati dengan sukses. Aku guyur dengan air agar masuk ke lubang pembuangan. Tanpa memikirkan lebih lanjut, aku lalu melangkah ke luar kamar mandi. ”Terima kasih ya Pak..sudah nolongin”. 

”Oh..iya..”, sambil kutatap dia dan Tinah tersenyum. ”Bapak nggak cuci tangan sekalian..di sini saja”, tawar Tinah. ”Wah..ini. Makin bikin dag dig dug”. ”Emm..iya deh”. Aku akan mencuci tangan dengan sabun, yang ternyata posisi tempat sabun ada di belakang tubuh Tinah. Aku menengok ke belakang tubuhnya. Rupanya dia baru sadar, lalu mengambilkan sabun, ”Maaf Pak..ini sabunnya”. Tinah mengulurkan sabun dengan tersenyum. Sabun yang sedikit basah berpindah dan tangan kami mau tidak mau bersentuhan. 

”Makasih ya”, ujarku. 

Aku mencuci tangan dan mengembalikan sabun padanya. ”Bapak nggak..sekalian mandi”, tanya Tinah. ”Waduh..tawaran apa lagi ini. Tambah gawat”. ”Iya..nanti di rumah”. ”Nggak di sini saja Pak?”. ”Kalo di sini yaa di kamar mandi depan”. 

”Di kamar mandi ini saja Pak..”. ”Nggaklah..jangan. Di depan aja. Kalo di sini ya habis kamu mandi”. ”Maksud saya..sekalian sekarang sama saya. Hitung – hitung Bapak sudah nolongin saya”. Matanya memohon. 

Deenngg, sebuah lonceng menggema di kepala. ”Ini ajakan yang membahayakan, juga menyenangkan”, pikirku. ”Bapak nggak usah mikir. Saya nggak akan bilang siapa – siapa. Ya Pak..di sini saja”, dia memahami kekhawatiranku. ”Emm..ya udah kalo kamu yang minta gitu”, jawabku.

Entah mengapa aku merasa canggung saat akan membuka kaosku. Padahal tidak ada orang lain dan juga sesekali ke pijat plus. Aku buka jam tanganku dulu, lalu aku keluar dari kamar mandi dan kuletakkan di meja makan. 

Posisi Tinah masih tetap di belakang pintu, dengan tangan kanan menahan pintu agar tetap agak terbuka. Kembali ke kamar mandi, kubuka kaosku dan kusampirkan di cantolan yang menempel di tembok. ”Pintunya nggak ditutup aja Tin ?”, tanyaku. Pertanyaanku sesungguhnya tidak memerlukan jawaban, hanya basa basi. “Nggak usah Pak..kan nggak ada siapa – siapa”, jawab Tinah. Lalu kubuka jinsku, kusampirkan pula. 

Sesaat aku masih ragu melepas kain terakhir penutup tubuhk, cd – ku. “Bapak nggak nglepas celana dalem ?”, tanyanya. “Heh..ya iya”, kujawab dengan nyengir. Penisku sebisa mungkin kutahan tidak mengembang, tapi hanya bisa kutahan mengembang ¼ – nya. Sengaja kutatap matanya saat melepas cd – ku. Mata Tinah sedikit membesar. 

Kusampirkan juga cd – ku. Lalu dengan tenang Tinah menyampirkan handuk biru yang sedari tadi menutup sebagian tubuhnya. “Duh..pantatnya masih ok. Pinggangnya tidak berlemak. Sabar ya nak..kita liat situasi dulu”, kataku pada sang penis sambil kuelus.

Tinah lalu membalikkan badan. Cegluk, suara ludah yang kutelan. “Uhh..susu yang masih bagus juga. Pentilnya nggak terlalu besar, areolanya juga, warnanya pas..nggak item banget. Perutnya sedikit rata dan..hmm..rambut bawahnya hanya sedikit”. Mau tidak mau, penisku makin mengembang dan itu jelas dilihat Tinah. 

Kembali sebisa mungkin kutahan perkembangannya. Tinah lalu menggosok gigi dahulu. Karena aku tidak membawa sikat gigi, hanya berkumur dengan obat kumur. “Bapak saya mandiin dulu ya”, kata Tinah. “Terserah kamu”, jawabku sambil tersenyum. Tinah lalu mengambil segayung air, diguyurkan ke badan dari leher dan pundak. 

Mengambil lagi segayung, diguyurkan ke perut dan punggung ditambah senyum manisnya. Ia lalu meraih sabun, digosokkan ke leher; pundak; dada dan tangan kananku. Dibasahinya sabun dengan diguyur air lalu digosokkan ke tangan kiri; perut; penis; bola – bolaku. “Uhh..gimana bisa nahan penis nggak ngembang”. 

Bagaimana tidak, saat menggosok penis dan bola – bolaku sengaja digosok dan di urutnya. Ditatapnya senjata kebanggaanku, lalu menatapku dan tersenyum. Aku hanya bisa membalasnya dengan senyum juga. Diambilnya lagi segayung air, sabun dibasahi dan sisanya diguyurkan ke paha dan kaki lalu digosoknya. 

Sabun kemudian diletakkan di pinggir bak mandi, kemudian mengambil segayung air dan diguyurkan ke badan depanku. Ambil segayung lagi dan diguyurkan lagi, tak lupa senjataku dibersihkan dari sisa – sisa sabun. Sedikit diremas oleh Tinah. Kutahan keinginanku untuk membalas perlakuannya, “biar Tinah yang pegang kendali”.

“Balik badan Pak”, perintahnya. Air diguyurkan ke punggung dan bagian bawah badanku. Digosoknya punggung; pantat; lalu paha dan kaki sisi belakang. Bonusnya, kembali menggosok penis dan bola – bolaku dan meremasnya. 

“Duh..ni anak. Bikin senewen..sengaja membuat panas aku“. Kembali air mengguyur tubuh belakangku, sebanyak 3x. Dibalikkan badanku lalu mengguyur senjataku, digosok – gosoknya hingga sedikit memerah. Jantungku makin berdebar. “Sudah selesai Pak“, kata Tinah. “Makasih ya Tin“.

 “Emm..kamu mau tak mandiin juga ?“, kepalang basah, kutawarkan permintaan seperti dia tadi. “Nngg..nggak usah Pak..ngrepoti Bapak“. “Ya nggaklah..jadi imbang kan“. Langsung kuambil segayung air lalu kuguyur ke tubuh depannya. 

Ia hanya menatapku. Kuambil lagi segayung. Lalu sabun yang tadi tergeletak di pinggir bak mandi kuambil dan aku basahi. Kugosok leher; pundak; dan kedua tangannya. Kubasahi sabun lagi dan kugosokkan ke dada; kedua susu dan pentilnya; serta perut. 

Kutatap matanya saat kugosok kedua gunungnya yang kumainkan sedikit pentil – pentilnya. Tinah juga menatapku. Matanya mulai sedikit sayu. 1menit – an kumainkan pentil –pentilnya, lalu sedikit kuremas susu kirinya. 

Bibirnya sedikit membuat huruf o kecil dan “ohh..hhmm“. Kubasahi lagi sabun, dan kugosokkan ke pinggang; paha dan kedua kakinya. Vagina luar hanya kusentuh sedikit dengan sabun, takut perih dan iritasi nanti. Itupun sudah cukup membuat matanya makin meredup. Air segayung lalu kuguyurkan ke tubuhnya 2 – 3x. Kugosok dan kuremas sedikit keras dua gunungnya. Sedikit berguncang. Dua tangan Tinah memegang pinggir bak mandi, mulai erat. 

Kumainkan lagi pentil – pentilnya....,Aku merundukkan badan dan kukecup pucuk – pucuk bunganya bergantian. Tak perlu lagi ijin darinya. Tangan kiriku mengusap – usap lembut luar vaginanya. “Ouuh Paakk..“, Tinah mulai mendesah. 

Kukecup bibirnya lembut, “nanti dilanjut lagi“. Matanya seakan bernada protes, tapi Tinah diam saja. Kubalikkan tubuhnya, lalu kuguyur punggungnya sekarang. Sabun kugosokkan ke punggung; pinggang; pantat. 

Sabun kubasahi lagi lalu kugosokkan ke paha dan kaki bagian belakang. Aku menyusuri tubuh depannya lagi dari pinggang belakangnya. Tinah sedikit menggeliat geli. Kutangkupkan dua tanganku di dua susunya. Aku senang bermain – main di susu yang bagus atau masih ok. Seluruh belakang lehernya aku cium dan kecup, begitu juga dua kupingnya dan kubisikkan ”kamu diam saja ya..cup”.

”Geli Paakk..”, Tinah mendesah lagi. Dua pucuk bunganya makin mengencang dan keras. Aku menyentil – nyentil, kuputar – putar seperti mencari gelombang radio.

Dua tangan Tinah mencengkeram paha depanku. ”Aahh..hmmppff”, erangnya. Tangan kananku mengambil segayung air, kuguyur ke tubuh depannya. Kali ini kuusap – usap vagina luarnya dengan tangan kanan, sedang yang kiri tetap di susu kanan Tinah.

Pahaku makin dicengkeramnya. Kepalanya menggeleng ke kiri dan kanan seiring kecupan dan ciumanku di belakang leher dan daun – daun telinganya. Sesekali aku menyentuh bibir dalamnya. Terasa telah menghangat dan sedikit basah.

”Ppaakkk..oohhh”. Tubuhnya mulai menggeliat – geliat. Jari tengah kanan kumasukkan sedikit dan kusentuhkan pada dinding atas vaginanya, sedang jempol kananku kutekan – tekankan di lubang kencingnya. ”Aauugghhh Ppaakkk..eemmmppfff”. 

Kuku – kuku jemari Tinah terasa menggores dua paha depanku. ”Kenapa Tinah..hmm..kamu sendiri yang memulai kan”, bisikku. Tangan kiriku meraih kepalanya dan kupalingkan ke kanan, dan kutahan lalu kucium dengan nada 2 kecup 1 masukkan lidah. Tinah terkejut, matanya sedikit membesar tapi kemudian ia menikmatinya. 

Ganti tangan kananku melakukan hal yang sama. Tinah hanya bisa mengeluarkan suara yang tertahan ”nngg..emmppfftt..nnngggg”, begitu berulang. Vagina dalamnya makin hangat dan basah. Secara tiba – tiba kuhentikan lalu kubalikkan badannya menghadapku. Kemudian aku sandarkan tubuhnya di bak mandi. 

Aku kemudian berjongkok dan mulai mengecupi vaginanya. ”Jjanggann Ppakk..jorok..”, dengan dua tangannya menahan laju kepalaku. Kutatap matanya dan ”sssttt..”, jari telunjuk kanan kuletakkan di bibirnya. Dua tangannya kusandingkan di samping kiri dan kanan tubuhnya.

Kukecup kecil, sekali dua kali. Kemudian lidahku mulai menjulur di pintu kenikmatan kami. Mataku kuarahkan menatapnya. Tinah agak malu rupanya, tetapi ada sedikit senyum di sana. Lidahku makin intens menyerang vagina luar dan dalamnya. ”suuddaahh Pppaakk..aaaddduuuhh..oohhhh”, disertai geliat tubuh yang makin menjadi. Karena tak tahan dengan seranganku, dua tangannya meremas dan sedikit menarik rambut dan kepalalu. 
Cairan lavanya makin keluar. Dua tanganku mendekap erat buah pantatnya. Jari tengah kiriku sesekali kumasukkan ke vagina dari belakang lalu kesentuhkan dan kutekan sedikit ke anusnya. ”Aammppuuunnn Pppaakkk..oouuuggghh..eeemmmpppfffs ssuudddaahhh..ooohhhh”, matanya agak membeliak ke atas dan kepala serta rambutku diremasnya kuat. Lava kepuasan dirinya mengalir deras, rasanya gurih sedikit manis. Kudekap erat Tinah dengan kepalaku di vaginanya dan pantatnya kuremas – remas. Kepalaku tetap diusap –usap oleh Tinah.

Ia menarik kepalaku dan menciumnya ganas. Lambat laun Tinah dapat belajar dariku. Tangan kanannya meremas dan menarik – narik penisku. ”Panjang ya Pak”, tanya Tinah. ”Biasa kok Tin..pingin ya..”, godaku. ”Aahh Bapak..”, jawabnya dengan memainkan bola – bolaku. 

Tinah merundukkan tubuhnya lalu tangan kirinya memegang penis dan menciumnya. Mungkin ia belum pernah meng – oral suaminya dulu sebab penisku hanya dicium – cium dan diremas – remas. ”Kamu mau ngemut burungku Tin..kayak ngemut permen lolly ? Tapi kalo belum pernah ya nggak usah..nggak pa – pa”. Tinah menatapku dan kubelai rambutnya. 

Dengan wajah ragu didekatkannya penisku di bibirnya. Tinah mulai membuka mulut, sedikit demi sedikit penisku memasuki mulutnya. Tinah menatapku lagi, meminta penjelasan langkah selanjutnya. ”Sekarang..kamu maju mundurkan dengan dipegang tanganmu. 

Yaa..gitu..oohh..hhmm”. Rupanya muridku cepat mengerti penjelasan gurunya. Rambut dan kepalanya kubelai dan kuremas – remas. ”Lalu..lidahmu kamu puter – puter di kepala penis atau di lubang kencing yang bergaris panjang ituuu..yyyahhhh..sssuuudddaahh pppiiinnnttteeerrr kkkaaammuu Tttiinnnn”.

Kuangkat kepalanya dari penisku dan kami berciuman dengan panas. Saling meremas susu; pantat dan kelamin masing – masing. Lalu kubalikkan lagi tubuhnya menghadap bak mandi. Dua tangannya kuletakkan di pinggir bak mandi. Kembali aku bermain – main di gunung Tinah. 

Penisku yang telah panas dan mengacung sekali kudekatkan ke vaginanya. Kukecup – kecup pundak dan leher belakangnya. Ikat rambutnya aku lepas sehingga dirinya terlihat makin seksi kala menggeliat – geliat dan rambutnya tergerai ke sana kemari.

 Aku geser – geserkan penis di pintu surgawinya, sengaja aku mempermainkan rangsangan pada Tinah. ”Oohh..Ppaakk..mmaassuukkkiinn..Pppaakkk”, pintanya. ”Kamu mau burungku kumasukkin..hmm.. ?”. ”Iyyyaa..Pppaakkk..aaayyyoo Pppaakk..”, rintihnya makin kencang. Kumasukkan penis pelan – pelan. ”Eemmppff..”, erangnya. 

Lalu kuhentakkan pelan hingga penisku terasa menyentuh dinding belakang. ”Ooouuggghh..Pppaakkkk..mentok Pppaakk”. Aku menggerakkan tubuh pelan – pelan, kunikmati jepitan dinding – dindingnya yang masih kuat. Dua tanganku tak henti bermain di dadanya. Kumainkan irama di vaginanya dengan hitungan 1 – 2 pelan 3 kuhentakkan dalam – dalam. 

Lalu tangan kananku meraih kepalanya seperti tadi dan kucium panas bibirnya. Dinding vagina Tinah makin hangat dan banjir sepertinya. Dua tangannya mencengkeram erat pinggir bak mandi.Sekarang tanpa hitungan, kumasuk keluarkan penis cepat dan kuat. ”Oohh..

oohh…hhmmppffftt..”, erang Tinah berulang. Sedang aku sedikit menggeram dan ”oouugghhh..hhmmppff..mpekmu enaknya Tttiinn..”. ”Bbuurrruunnggg Bbbaapppakk jjjuugggaaa”. Jarak pinggangku dan pantat Tinah makin rapat. 

Tangan kanan kuusap – usapkan di vaginanya. Dalam kamar mandi hanya ada suara tetes air satu – satu serta desah, bunyi beradunya paha dan pantat dan erangan kami. ”Pppaaakkk..sssaaayyyaa mmaaauu..ooohhh..”. 

”Tttuunnggguu Tttiiinnn..aaakkkuuu jjjuuggggaa..Di dalam apa di llluuaarrr”, tanyaku. ”Dddaalllammm aajjjaaa Pppaakkkk..oobbaattnyaa mmassihh aaddaa..”, jawab Tinah. 

Mendengar itu serangan makin kufokuskan. Segala yang ada di tubuhnya aku remas. Dua tangan Tinah tak tahan di pinggir bak mandi dan mencengkeram paha serta pantatku. Bibirku dicarinya lalu ”hhhmmmpppfffttt..”. 

Pantatku diremas kuat – kuat. Bibirnya dilepas dariku dan ”ooouuggghhh..”, desah Tinah panjang. Lava yang hangat terasa mengaliri penisku yang masih bekerja. Kepalanya tertunduk menghadap air di bak mandi. Kudekap erat tubuh depannya. Kukecup dan kugigit leher belakangnya. Lalu tangan kiriku meraih kepalanya dan kucium dalam – dalam. 

Dengan satu hentakan dalam kumuntahkan magma berkali – kali. ”Ooouugghhh Tttiinnaahhh..hhhmmm..”. kepalaku tertunduk di pundaknya dengan tangan kiri di susu sedang yang kanan di vaginanya.

Lama kami berposisi seperti itu. ”Makasih ya Tin..kamu baik sekali. Enak banget tubuhmu”, kataku dengan membalikkan badannya dan kucium mesra bibirnya. Penis kumasukkan lagi, masih ingin berlama – lama di hangatnya vagina Tinah. ”Saya yang terima kasih Pak. Sudah lama saya pingin tapi sama orang nggak kenal kan nggak mungkin Pak. 

Burung Bapak pas di mpek saya”, Tinah menjawab dan mencium bibirku pula. ”Mpekmu masih kuat nyengkeramnya..dan panas”. Kubelai – belai kepalanya, ”kok bisa kamu pingin ngajak main sama aku ? Malah aku yang takut kamu laporin”. 

Sambil mengusap – usap punggungku, ”Tadi waktu saya bersihin mainan adik, saya liat gambar di komputer. Terus waktu Bapak kencing tadi kan lupa nutup pintu..keliatan burung Bapak yang agak gede pas keluar dari celana”. ”Oo gitu..nakal ya kamu. 

Bener kamu masih nyimpen obatnya ?”, sambil kucubit pipinya.

”Masih kok Pak..sisa yang dulu”, jawab Tinah. 

Makin lama terasa penisku yang mengecil. Kucium dalam – dalam lagi bibirnya, ”sekarang..mandi yang beneran”. 

”Heeh..iya Pak”, Tinah menjawab sambil tersenyum manis. 

Ia lalu memelukku erat. Aku membalasnya dengan memeluk erat dan mengusap – usap punggung serta kepalanya.